LCLB Nasional 2008
Jakarta – Orang Batak kerap diidentikkan dengan suara bagus dan keahlian menyanyi. Talenta ini seakan menjadi karunia yang melekat pada orang Batak pada umumnya. Sejak dulu lagu-lagu Batak dikenal dan ikut memperkaya khazanah musik nasional bahkan mancanegara. Dengan ciri melodi yang tidak terlalu rumit dan cenderung easy listening membuat lagu-lagu Batak mudah diterima pendengarnya.
Lagu “Sitogol”, “Alusi Au” dan “Lissoi” ciptaan Nahum Situmorang adalah contoh lagu-lagu yang sangat akrab di telinga orang Indonesia, tak peduli asal mereka. Cornel Simanjuntak dengan lagu romantisnya “O Ale Alogo”, Guru Siddik Sitompul atau S.Dis menggubah lagu fenomenal “O Tano Batak” yang secara informal menjadi lagu wajib orang Batak.
Tembang “A Sing Sing So” gubahan Boni Siahaan dan dipopulerkan Gordon Tobing menjadi lagu yang merakyat di berbagai belahan dunia termasuk di Amerika. Grup Parisma 71 dan Trio Golden Heart yang dimotori Dakka Hutagalung menghasilkan lagu-lagu sentimentil dan jenaka sempat menghiasi belantika musik Batak.
Demikian juga dengan lagu-lagu “Eta Mangalap Boru”, ”Tading Maham” serta “O Turang Lame Gogo” dan “Piso Surit” yang berasal dari Simalungun dan Tanah Karo juga dikenal luas. Lagu-lagu di atas tercipta antara tahun 1920 hingga ‘70-an.
Eksistensi lagu-lagu Batak masih berlanjut dengan puluhan karya emas gubahan Firman Marpaung seperti “Mangkuling Giring-giring” dan “Putus Singkola” yang sempat merajai peredaran lagu-lagu Batak. Berikutnya era grup vokal bermunculan dengan lagu-lagu ciptaan sendiri.
Sebut saja Trio The King dengan lagu “Andigan”, Trio Amsisi dengan beat khas Batak ciptaan personelnya Iran Ambarita, Jack Marpaung dan Trio Lasidos dapat bertahan lama di pasar lagu Batak dan dikenal dengan aliran lagu ratapan (andung), rock serta blues. Demikian juga lagu “Inang” ciptaan Charles Hutagalung dan lagu “Sai Anju Ma Au” yang dipopulerkan Nainggolan Sister masih menjadi salah satu lagu favorit pilihan pecinta musik karaoke hingga kini.
Namun, di penghujung tahun 1990 hingga sekarang, lagu-lagu Batak tak lagi booming. Entah apa penyebabnya, yang jelas sejak saat itu hingga sekarang lagu-lagu yang tercipta dan mencapai hits bisa dihitung dengan jari. Maraknya pembajakan lagu, royalti yang tidak memadai serta persaingan yang makin ketat mungkin bisa dikedepankan sebagai penyebab. Namun, yang menjadi pertanyaan apakah kondisi ini akan dibiarkan?
LCLB 2008
Setelah vakum selama 20 tahun Lomba Cipta Lagu Batak kembali digagas untuk dilaksanakan tahun 2008 ini. Drs Roy H Ritonga, STh ketua Panitia dan Dr Paimin Napitupulu sebagai penasihat panitia LCLB 2008 dalam keterangan persnya, Sabtu (29/3), mengatakan lomba ini bertujuan memaksimalkan potensi lagu-lagu Batak dari seluruh puak Batak di tingkat nasional maupun internasional dalam rangka mendukung potensi pariwisata daerah Batak khususnya Danau Toba dan Sumatera Utara umumnya yang dikenal sebagai Toba Dream.
Di sisi lain ketua penyelenggara Hotma MT Pardede menerangkan untuk menghasilkan karya lagu yang berkualitas dari lomba ini dibutuhkan dukungan dari semua elemen yang terkait baik pencipta lagu lintas generasi, panitia, dewan juri, industri musik, media massa, pihak sponsor terutama dukungan dari masyarakat musik Indonesia. Pendaftaran untuk mengikuti lomba ini telah dibuka mulai 10 Februari lalu dan akan ditutup 12 April 2008. Lalu seperti apakah lagu Batak yang dihasilkan dari LCLB 2008 ini? Mari menunggu dan berharap. (dame sitompul)
dari : sinarharapan.co.id