Nial Djuliarso ke Final Kompetisi Jazz di AS

Dikirim musik jazz pada April 9, 2008 oleh jazzmuziek

Rabu, 09 April 2008

Pianis Indonesia yang baru saja tampil pada Java Jazz 2008 di Jakarta, Nial Djuliarso, terpilih sebagai finalis kompetisi kelompok jazz di San Fransisco, AS. Festival bertajuk Generations International Competition for Emerging Combos ini diusung International Center for the Arts (ICA)-San Francisco State University.

Nial dan ketiga rekannya yang tergabung dalam Nial Djuliarso Quartet, yaitu Bruce Harris (terompet), Yasushi Nakamura (bass), dan Carmen Intorre (drum), akan bertanding melawan kelompok jazz beranggotakan enam musisi, Meaningtone, pada 15 Mei 2008.

Kedua band jazz yang sama-sama berasal dari New York itu akan memperebutkan beasiswa selama satu tahun di San Fransisco dan selama periode tersebut mereka akan mendapatkan pelatihan dari para musisi mentor yang telah menggabungkan diri mereka menjadi band yang dinamai The Generations.

Menurut panitia, Nial Djuliarso Quartet dan Meaningtone akan berangkat pada pertengahan Mei ke San Fransisco, dan selama beberapa hari mereka akan mengikuti bengkel jazz oleh para mentor. Pada puncaknya, yaitu 15 Mei malam, kedua kelompok musik jazz asal New York itu tampil dalam acara Battle of the Combos di Yoshi`s, klub jazz yang berada di kawasan jazz terkemuka di San Fransisco. Baca selebihnya »

Konser Keajaiban Cinta” Addie MS

Dikirim klasik pada April 9, 2008 oleh jazzmuziek

Jakarta - Tidak banyak pasangan melakukan konser bersama, apalagi untuk sebuah perayaan ulang tahun pernikahan. Adalah Addie MS dan Memes yang merayakan ulang tahun ke-20 pernikahan mereka berada di antara yang sedikit itu. Pasangan yang menikah pada 13 September 1987 ini akan menjadi bintang “Konser Keajaiban Cinta” di Balai Sarbini, Jakarta, 17 Januari mendatang. Buat Addie MS, konser ini merupakan hadiah kedua untuk Memes setelah beberapa waktu lalu, ia membuatkan lagu khusus, “Mutiara Hatiku”. Lagu yang terdapat di album terbaru Memes, Miracle, ini menjadi single pertama dari delapan lagu yang ada. Lagu tersebut diciptakan tanpa persiapan oleh Addie. “Makan malam bagi kami hukumnya wajib di meja, kecuali kalau kami ada pekerjaan di luar. Ketika mau makan, tiba-tiba kepikiran mencoba piano. Memes nyanyi, ya sudah, mengalir begitu saja,” kata Addie yang didampingi Memes ketika ditemui di lub XXI Plaza Senayan, Jakarta, Senin (10/12). Bagi Memes, ini adalah lagu pertama yang dibuat Addie setelah delapan album dirilisnya. “Saya sangat tersanjung karena harus menunggu 20 tahun. Selama ini, Mas Addie cuma terlibat dalam aransemen saja, belum pernah membuatkan lagu khusus,” ujar Memes. Selain Addie, kado spesial lainnya datang dari buah hati mereka, Kevin Aprilio, yang membuatkan sekaligus mengaransemen dua lagu, “Cinta Sempurna” dan “Gemilang Cinta”. Konser ini akan menyertakan Twilite Orchestra (TO) yang dipimpin Addie MS. Ini merupakan sebuah konser yang amat berbeda bagi TO. Selama ini TO selalu me-ngusung misi penting me-masyarakatkan musik simfoni di Indonesia. Per-jalanan konser mereka pun selalu tidak pernah jauh dari musik klasik, semi klasik, musik film, dengan sedikit sekali unsur pop. Namun, di konser kali ini TO tidak menyertakan misi mereka. Baca selebihnya »

Slank Agungkan Cinta dan Wanita di Usia Ke-24

Dikirim Uncategorized pada April 9, 2008 oleh jazzmuziek

Jakarta – Untuk memeriahkan hari jadinya yang ke-24 (26 Desember 1983-2007), grup band Slank akan menggelar konser musik bertajuk “From Slank With Love” di Pantai Carnaval Ancol, Sabtu (29/12) mendatang.
Sesuai kebiasaan konser-konser ulang tahun yang terdahulu, kini Slank juga mengusung sesuatu yang unik dan berbeda.
Kali ini, Slank mengkhususkan diri buat berkolaborasi dengan sederet vokalis perempuan; terdiri dari Maia, Melanie Subono, Sarah “Indonesian Idol”, T2, Julia Perez, Dewi Persik, Sherina, Astrid dan Nirina Zubir. Selain itu, ada penampilan bintang tamu asal Jepang, The Big Hip.
Yang pasti, semua akan menyanyikan lagu-lagu lama dan baru milik Slank. Seluruhnya ada 23 lagu.


“Kami selalu ingin menciptakan suasana spesial di konser perayaan ulang tahun Slank,” ujar drumer dan penggagas Slank, Bimbim di kediamannya, Gang Potlot III/14, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Rabu (26/12) siang.
“Lagu-lagu yang dipilih sengaja bertema cinta. Kita memang belum pernah membikin sesuatu yang mengangkat masalah perempuan. Kebetulan sekarang ini berita segala macem tentang perempuan sedang booming.
Banyak perempuan yang jadi sorotan, apakah itu soal prestasinya atau bahkan aibnya. Kenapa juga kami memilih tema cinta dan perempuan, karena pada setiap 22 Desember ibu-ibu kita juga berulang tahun,” jelas vokalis Slank, Kaka.
Di usianya yang sudah mendekati seperempat abad itu, Slank menebar harapan perubahan bagi generasi muda dalam mengagungkan cinta. “Kami ingin menebar cinta di usia kami sekarang ini.

Baca selebihnya »

Trio Macan Siap “Melahap” Asteng dan Suriname

Dikirim Uncategorized pada April 9, 2008 oleh jazzmuziek


Oleh
John JS

Jakarta - Sesudah dikenal luas, biasanya ada yang meniru. Di lingkup bisnis apa saja, menjiplak ataupun mengekor seakan tiada hukum yang pasti, termasuk dalam karya pertunjukan musik.
Gaya menghibur Project Pop, seperti pernah dibilang Yosi Mokalu, ditiru Wong Pitoe dan Seurieus. Sebaliknya Nidji yang kini melambung, tak memungkiri “mengekor” The Killers dan Cold Play.
Tetapi, persoalan bisa rumit apabila citra penampilan (:merek dagang) dimanipulasi dan disalahgunakan seperti yang menimpa Trio Macan. Proses tuntutan hukum masih berjalan, ungkap Lia-Iva-Dina (Trio Macan), “Kami masih menunggu iktikad baik dari oknum-oknum yang memanfaatkan nama kami dalam konser dangdut di sejumlah daerah.


” Namun, dengan semakin sering Trio Macan muncul di layar televisi, diyakini sikap bersalah itu bisa hilang sendiri, karena masyarakat tambah cerdas dalam memilih siapa Trio Macan yang sesungguhnya.
Layaknya artis profesional, ternyata mereka tak harus terganggu dengan “ancaman kerugian” semacam itu. Mereka malah tengah bersiap diri untuk melaksanakan rencana konser tur di Asia Tenggara (Asteng) dan Suriname.
Malah sebetulnya, Trio Macan menjelang perayaan tutup tahun 2007 diundang pihak Kedutaan Besar RI di Denmark untuk menghibur di sana. Namun, kembali lagi profesionalitas kerja, Lia-Iva-Dina menolak undangan tersebut lantaran mereka sudah menandatangani kontrak buat menghibur pencinta musik dangdut di Taman Mini Indonesia Indah dalam Konser Gemintang Artis Tahun Baru.

Baca selebihnya »

Bob Dylan Dianugerahi Pulitzer

Dikirim Uncategorized pada April 9, 2008 oleh jazzmuziek


New York – Berkat Bob Dylan, rock ‘n’ roll akhirnya mendobrak dinding Pulitzer. Dylan, penulis lagu yang paling dipuji dan sangat berpengaruh pada separo abad ini, yang membawakan rock dari jalanan hingga ruang kelas, menerima Penghargaan Pulitzer yang bergengsi, Senin (7/4), karena “pengaruh mendalamnya terhadap musik dan budaya Amerika populer, ditandai komposisi lirik dari kekuatan puitik yang sangat luar biasa.”
Ini untuk pertama kalinya para juri Pulitzer, yang merindukan musik klasik dan jazz, memberi penghargaan sebuah bentuk seni yang pernah dicap sebagai barbar, dan bahkan subversif.


“Saya tidak mempercayainya,” kata penggemar Dylan dan juga pemenang Pulitzer, Junot Diaz, saat pemberian penghargaan Dylan.
Karya Diaz, “The Brief Wondrous Life of Oscar Wao,” sebuah cerita tragis, tetapi humoris tentang nafsu, politik dan kekerasan di antara rakyat Dominika di kampung halaman dan di Amerika Serikat, memenangkan penghargaan fiksi.
“Saya kerap buntu dan merasa ragu-ragu,” katanya kepada The Associated Press tentang proses penulisan, dan itu termasuk bagian tentang Dylan.
“Bob Dylan adalah masalah bagi saya,” kata Diaz, yang juga menerbitkan kumpulan cerpen. “Saya mempunyai satu bagian sepanjang 40 halaman, dan seluruh bab dirancang mengenai lirik Bob Dylan selama periode dua tahun (1967-69). Pada bagian akhir, saya ingin menutup kekaguman saya kepada Bob Dylan.”

Baca selebihnya »

“A Mild Live Wanted” Indonesia Timur, Magneto Juara, tapi Masih Harus Dibenahi

Dikirim musik pop-R n B-rock pada April 9, 2008 oleh jazzmuziek

Oleh
John JS

Makassar - Meski mengeluhkan tata cara kolaborasi yang tanpa menggunakan latihan bersama lebih dulu, ternyata gitaris Gigi, Dewa Budjana, mau juga muncul “menemani” salah satu finalis utama “A Mild Live Wanted” regional Indonesia Timur. Budjana tampil bersama Mr X (asal Papua) saat menyanyikan lagu undian, “Terbang”, di Pantai Akarena, Makassar, Minggu (24/2) malam.
Saya mengucapkan terima kasih, karena sudah dapat kepercayaan dari Budjana. Kalaupun kami kalah (jadi runner-up), tetapi sudah bisa jadi contoh bagi band-band lain di Jayapura,” komentar Okky, pemain bas Mr X, mewakili personel yang lain.

“Kami mungkin berencana mengulang ikut di A Mild Live Wanted (AMLW) tahun depan. Tetapi, siapa tahu juga ada label rekaman yang naksir kami lebih dulu,” ungkap Okky, tertawa.
Mr X yang dikalahkan band tuan rumah Makassar, Magneto, baru saja delapan bulan terbentuk dan terdiri dari para individu pemusik yang sudah lama ngeband.
“Setelah dapat vokalis, kami melakukan latihan-latihan bareng. Tetapi sulit juga untuk latihan rutin, karena kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing di Pemda, Departemen Perhubungan dan Pertamina. Saya bekerja di Pertamina,” kata vokalis Lamet. Baca selebihnya »

Lewat Antologi Lagu, Suntikkan Energi buat Negeri

Dikirim Lain-lain pada April 8, 2008 oleh jazzmuziek

Arief J Wicaksono

Oleh
Wahyu Dramastuti

JAKARTA - ”Leny, please aku ingin tahu biaya masuk sekolah. Kalo sakit, dokter dan obatnya berapa? Cukupkah kita untuk merawat Una di negeri ini… Manusia di sini mulai tak manusiawi dan kebenaran mulai jadi barang opini.

Bisakah kita melindungi Una di negeri ini…?”
Petikan lagu karya Bimbim (grup band Slank) berjudul “Indonesiakan Una” itu menggugah hati Arief J Wicaksono, yang kemudian menuangkan dalam bukunya, Simfoni Indonesia—Antologi Lagu untuk Negeri. “Indonesiakan Una” melengkapi puluhan lagu lain yang didokumentasikan Arief dalam buku tersebut, yang semuanya mengangkat tema cinta Tanah Air.
Tak bisa disangkal, buku bersampul merah putih itu menunjukkan betapa Arief mencintai tanah kelahirannya, Indonesia. Melalui karya tersebut, ia mengajak semua orang untuk melihat Indonesia dari berbagai perspektif, termasuk bineka tunggal ika yang bisa menumbuhkan rasa toleransi antarsesama warga.
Rupanya, Arief terlahir dari keluarga militer. Ayahnya adalah anggota purnawirawan TNI berpangkat Letkol, yang selalu bercerita tentang Tanah Air kepada delapan anaknya. Namun sang ayah juga menyukai musik. Dua hasrat yang mengalir dalam diri sang ayah itulah yang kemudian tertancap di lubuk hati anak-anaknya.

Baca selebihnya »

Merajut Kembali Kejayaan Lagu Batak

Dikirim tradisional pada April 8, 2008 oleh jazzmuziek

LCLB Nasional 2008

Jakarta – Orang Batak kerap diidentikkan dengan suara bagus dan keahlian menyanyi. Talenta ini seakan menjadi karunia yang melekat pada orang Batak pada umumnya. Sejak dulu lagu-lagu Batak dikenal dan ikut memperkaya khazanah musik nasional bahkan mancanegara. Dengan ciri melodi yang tidak terlalu rumit dan cenderung easy listening membuat lagu-lagu Batak mudah diterima pendengarnya.


Lagu “Sitogol”, “Alusi Au” dan “Lissoi” ciptaan Nahum Situmorang adalah contoh lagu-lagu yang sangat akrab di telinga orang Indonesia, tak peduli asal mereka. Cornel Simanjuntak dengan lagu romantisnya “O Ale Alogo”, Guru Siddik Sitompul atau S.Dis menggubah lagu fenomenal “O Tano Batak” yang secara informal menjadi lagu wajib orang Batak.


Tembang “A Sing Sing So” gubahan Boni Siahaan dan dipopulerkan Gordon Tobing menjadi lagu yang merakyat di berbagai belahan dunia termasuk di Amerika. Grup Parisma 71 dan Trio Golden Heart yang dimotori Dakka Hutagalung menghasilkan lagu-lagu sentimentil dan jenaka sempat menghiasi belantika musik Batak.
Demikian juga dengan lagu-lagu “Eta Mangalap Boru”, ”Tading Maham” serta “O Turang Lame Gogo” dan “Piso Surit” yang berasal dari Simalungun dan Tanah Karo juga dikenal luas. Lagu-lagu di atas tercipta antara tahun 1920 hingga ‘70-an.


Eksistensi lagu-lagu Batak masih berlanjut dengan puluhan karya emas gubahan Firman Marpaung seperti “Mangkuling Giring-giring” dan “Putus Singkola” yang sempat merajai peredaran lagu-lagu Batak. Berikutnya era grup vokal bermunculan dengan lagu-lagu ciptaan sendiri.
Sebut saja Trio The King dengan lagu “Andigan”, Trio Amsisi dengan beat khas Batak ciptaan personelnya Iran Ambarita, Jack Marpaung dan Trio Lasidos dapat bertahan lama di pasar lagu Batak dan dikenal dengan aliran lagu ratapan (andung), rock serta blues. Demikian juga lagu “Inang” ciptaan Charles Hutagalung dan lagu “Sai Anju Ma Au” yang dipopulerkan Nainggolan Sister masih menjadi salah satu lagu favorit pilihan pecinta musik karaoke hingga kini.


Namun, di penghujung tahun 1990 hingga sekarang, lagu-lagu Batak tak lagi booming. Entah apa penyebabnya, yang jelas sejak saat itu hingga sekarang lagu-lagu yang tercipta dan mencapai hits bisa dihitung dengan jari. Maraknya pembajakan lagu, royalti yang tidak memadai serta persaingan yang makin ketat mungkin bisa dikedepankan sebagai penyebab. Namun, yang menjadi pertanyaan apakah kondisi ini akan dibiarkan?

LCLB 2008
Setelah vakum selama 20 tahun Lomba Cipta Lagu Batak kembali digagas untuk dilaksanakan tahun 2008 ini. Drs Roy H Ritonga, STh ketua Panitia dan Dr Paimin Napitupulu sebagai penasihat panitia LCLB 2008 dalam keterangan persnya, Sabtu (29/3), mengatakan lomba ini bertujuan memaksimalkan potensi lagu-lagu Batak dari seluruh puak Batak di tingkat nasional maupun internasional dalam rangka mendukung potensi pariwisata daerah Batak khususnya Danau Toba dan Sumatera Utara umumnya yang dikenal sebagai Toba Dream.


Di sisi lain ketua penyelenggara Hotma MT Pardede menerangkan untuk menghasilkan karya lagu yang berkualitas dari lomba ini dibutuhkan dukungan dari semua elemen yang terkait baik pencipta lagu lintas generasi, panitia, dewan juri, industri musik, media massa, pihak sponsor terutama dukungan dari masyarakat musik Indonesia. Pendaftaran untuk mengikuti lomba ini telah dibuka mulai 10 Februari lalu dan akan ditutup 12 April 2008. Lalu seperti apakah lagu Batak yang dihasilkan dari LCLB 2008 ini? Mari menunggu dan berharap. (dame sitompul)

dari : sinarharapan.co.id

Skid Row, Kini Giliran Genre Metal

Dikirim musik pop-R n B-rock pada April 8, 2008 oleh jazzmuziek

Skid Row Gelar Konser Murah

Jakarta – Kedatangan konser tur band di Jakarta, kini menjadi gilirannya genre metal. Didahului legenda band power metal asal Jerman, Helloween, 22 Februari lalu. Kini akan menyusul hadir, Skid Row, band heavy metal yang didirikan di New Jersey, Amerika Serikat (1986).
Tak cuma di Jakarta (ex-Drive In, Taman Impian Jaya Ancol, 7/3), Skid Row yang telah ditinggalkan gitaris Dave “The Snake” Sabo itu juga bakal berkonser di Stadion Siliwangi, Bandung (9/3), Stadion Diponegoro, Semarang (11/3), Stadion Tambaksari, Surabaya (13/3) dan Lapangan Rampal, Malang (15/3).
Log Zhelebour selaku promotor, menyebut undangan bagi Skid Row di Indonesia sekaligus ingin menjawab bahwa pergelaran rock tak selalu memancing kerusuhan. “Agar trauma konser rock, bisa dihilangkan!” kata Log Zhelebour di Hard Rock Café, Kamis (28/2) sore.


Diakuinya, ketat perizinan konser di Bandung setelah peristiwa maut beberapa waktu lalu, membuat ia sempat kesulitan. “Tetapi, karena saya jadi promotor musik rock sejak era Orde Baru, maka kesulitan bisa terlewati. Apalagi dengan janji sudah bergaransi,” jawabnya, yakin.
Menjelaskan kenapa ia berani menjual tiket murah di Bandung, Semarang, Surabaya dan Malang (Rp 20.000-Rp 30.000) dibandingkan Jakarta yang seharga Rp 100.000. “Saya tidak mencari keuntungan sebesar-besarnya, karena memang hobi sebagai promotor rock. Yang penting acaranya lancar dan baik,” katanya.
“Saya bisa mengontrak Skid Row relatif murah, karena saya selalu memberikan tawaran di bawah harga resmi. Kalau mereka tak mau, ya sudah!” sambung Log.
Kemudahan mengundang Skid Row, menurutnya, juga lantaran manajemen mereka telah mengetahui bahwa Indonesia sudah sering menyelenggarakan konser tur artis-artis mancanegara. Apalagi, khusus buat Skid Row, mereka dipersilakan hadir di lima kota besar yang jarang bisa terjadi di negara mana pun.

Baca selebihnya »

“Sing Like A Star” Modal Menjadi Bintang: Percaya Diri

Dikirim inovasi pada April 4, 2008 oleh jazzmuziek

Jakarta - ”Waktu MTV VJ Hunt, di Bandung, ada orang yang ikut dua kali casting, lucu banget. Tapi, dia tidak bisa menjadi seorang VJ (video jockey). Dia sekarang terkenal banget, namanya Aming. Dia nggak bisa bernyanyi, tapi dia punya sesuatu, dia punya bakat lain,” kata Cipta Panca Laksana, Production Manager Global TV.


Mungkin tidak ada yang pernah menyangka bahwa laki-laki yang kini selalu muncul di Extravaganza itu pernah berjuang keras untuk muncul di layar kaca melalui ajang pencarian bakat itu. Sayangnya, Aming memang tidak memiliki bakat menjadi VJ, dan sayangnya lagi, belum ada wadah untuk orang-orang seperti Aming saat itu.
Seorang contoh lain berasal dari Amerika Serikat, William Hung, kontestan American Idol musim ketiga. Ia tidak bisa bernyanyi, berdansa atau apa pun bakat yang diinginkan kontes yang melahirkan Kelly Clarkson itu.
“Kamu tidak bisa bernyanyi, kamu tidak bisa berjoget, lalu kamu ingin saya mengatakan apa?” kata Simon Cowell, si ketua juri ketika Hung yang dengan percaya dirinya membawakan “She Bangs” Ricky Martin.

Baca selebihnya »

Incubus World Tour 2008

Dikirim musik pop-R n B-rock pada April 4, 2008 oleh jazzmuziek

 
Eksplorasi “Bunyi” di Atas Panggung

Oleh
Mila Novita

Jakarta - Hujan yang mengguyur Jakarta tidak menyurutkan semangat penonton untuk melaju ke Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Rabu (5/3).
Incubus, band asal California, Amerika Serikat, malam itu mendapat giliran menghibur Jakarta usai Bjork, Helloween, dan Backstreet Boys beberapa waktu lalu, serta menjelang Skid Row dan Java Jazz esok hari.
Pukul 20.30, Brandon Boyd (vokal, gitar, perkusi), Mike Einziger (gitar, vokal, dan piano), Jose Pasillas (drum), Chris Kilmore (DJ), dan Ben Kenney (bass, vokal), naik ke panggung yang berdiri tegak di hadapan penonton yang memadati Tennis Indoor.


“Quicksand”, yang diambil dari album terakhir mereka, Light Grenades, menjadi pembuka konser yang berjalan nyaris 90 menit ini, diiringi jeritan penonton yang telah menunggu sejak malam menjelang. Band yang mengeluarkan album pertamanya pada 1995 ini adalah salah satu yang ditunggu-tunggu. Sayangnya, Java Musikindo, selaku promotor tidak menempatkan konser ini di area yang lebih luas. Tennis Indoor hanya mampu menampung sekitar 3.500 penonton, padahal peminat konser ini membludak.

Baca selebihnya »

Performa Babyface Disambut 5.000 Penonton

Dikirim musik jazz pada April 4, 2008 oleh jazzmuziek

“Java Jazz Festival 2008” Berakhir

Oleh : John JS


Jakarta – Penyelenggaraan “Dji Sam Soe Super Premium Jakarta International Java Jazz Festival 2008” di Jakarta Convention Center (JCC) berakhir sampai dini hari, Senin (10/3).

Penampil penghujung ini antara lain Kenny Edmonds, disusul dengan band fusion asal Norwegia, D’Sound, Ray Parker Jr, Iwan Wiradz & Tri Budiman dan Elfa Secioria, 5 Wanita (Rieka Roslan, Andien, Nina Tamam, Iga Mawarni dan Yuni Shara), serta The Manhattan Transfer.


Sebelum itu, Raul Midon, hadir pula vokalis tunanetra yang berpenampilan sendiri, namun meriah cukup hanya dengan gitar dan instrumen bebunyian mulut. Berciri vokal soul dan jazz klasik mirip Stevie Wonder dan Al Jarreau, ia berhasil menembus pagar musik pop dengan salah satu lagu unggulan, “All Because of You” yang juga dinyanyikannya saat hadir di area Cenderawasih 2-3 pada malam penutup “Java Jazz Festival 2008”.

Baca selebihnya »

Iwan Fals Main Film Lagi

Dikirim musik pop-R n B-rock pada April 4, 2008 oleh jazzmuziek

Jakarta - Iwan Fals kembali berakting di film layar lebar. Ternyata memang penyanyi bernama lahir Virgiawan Listianto itu telah terlibat dua kali selaku “aktor”, yaitu di film “Damai Kami Sepanjang Hari” (1985) dan “Kantata Takwa” yang gagal edar di bioskop. Kali ini, di film “Kekasih” produksi Grandiz Media Production, ia bermain sesuai profesinya selaku penyanyi dan pemusik yang muncul di adegan-adegan penghujung.


Mungkin terbilang sedikit, tetapi memiliki makna besar di puncak klimaks se-bagai Jiwo si tokoh utama. Di saatnya nanti, Iwan sekaligus menyanyikan lagu tema, “Aku Milikmu” karya cipta Pongki “Jikustik”, yang berkisah tentang percintaan dua anak manusia.
Diakuinya, untuk kembali menjejakkan kaki di film layar lebar, beberapa pertimbangan sempat mampir di benaknya sebelum ia mengiyakan tawaran tersebut.

Baca selebihnya »