Menyibak Perkembangan Lagu Pop Sunda


Oleh EDDY D. ISKANDAR
SEBUTAN pop atau populer untuk segala jenis kreasi, apakah itu novel atau lagu, kesannya adalah karya yang mengkhalayak, diminati segala lapisan masyarakat, ringan, menghibur, dan mendatangkan keuntungan. Begitulah, sebutan novel pop atau lagu pop, konotasinya memang cenderung ke arah itu.

Biarpun para pengamat suka membedakan karya pop itu ada yang masuk kelompok hiburan dengan huruf H besar sebagai hiburan yang berkualitas dan hiburan dengan h kecil, sebagai (maaf) hiburan yang murahan, tapi penggemar novel atau lagu pop tetap saja tak memedulikannya. Sama saja.

Dengan kesan seperti itu, mestinya lagu pop itu meliputi lagu dangdut, blues, rock, daerah (tradisional), dan lainnya yang terkenal, diminati khalayak dan mendatangkan keuntungan. Jika menyimak perkembangan lagu pop Sunda, yang sangat terasa adalah kesinambungannya yang terus “hidup” hingga saat ini.

Tahun enam puluhan, kalaulah saat itu sudah dikenal istilah lagu pop Sunda, bisa disebut lagu pop Sunda yang sukses, seperti lagu-lagu yang dibawakan grup band Nada Kencana “Oray Orayan” dan “Yaomal Qiyamah”, atau lagu yang dinyanyikan Mus DS “Bulan Dagoan”, Rudi Rusadi “Borondong Garing”, Etty Barjah “Bajing Luncat”, Tati Saleh “Hariring Kuring”, Euis Komariah “Cikapudung”, Nenny Triana “Kutud”, Lilis Suryani “Cai Kopi”, “Cing Tulungan”, Tuty Subardjo “Anteurkeun”, juga lagu-lagu legendaris “Sorban Palid”, “Es Lilin”, “Mojang Priangan”, “Bubuy Bulan”, “Manuk Dadali”, dan “Badminton”.

Pencipta lagu yang melahirkan lagu-lagu (pop) Sunda legendaris itu, antara lain Kosaman Jaya, Mang Koko, Sambas, Iyar Wiyarsih, Djuhari, dan Benny Corda.

Tahun tujuh puluhan, Wandi dan Bimbo juga sempat mencuat dengan lagu-lagu pop Sunda, bahkan di antaranya lagu pop Sunda yang kocak. Selanjutnya, salah satu puncak sukses bisnis lagu pop Sunda, ketika kaset lagu “Kalangkang” ciptaan Nano S. yang dinyanyikan Nining Meida, mampu mencapai omzet fantastis, lebih dari satu juta keping. Sukses yang sama, sebelumnya pernah diraih oleh lagu wanda jaipongan “Daun Pulus” dan “Serat Salira”, ciptaan Gugum Gumbira.

Semaraknya lagu pop Sunda terjadi antara tahun 1980 hingga tahun 1990, saat itu boleh dibilang masa suburnya lagu pop Sunda. Doel Sumbang dan Hetty Koes Endang yang sebelumnya sudah dikenal sebagai penyanyi pop Indonesia, ternyata meraih sukses pula dalam rekaman lagu pop Sunda. Di awal kehadirannya, Doel Sumbang menampilkan lagu-lagu kocak dan kritis, keluar dari tema kisah-kasih, bahkan dengan menggunakan bahasa Sunda yang togmol, tanpa basa-basi. Boleh juga dibilang “basa Sunda gaul”. Tapi selanjutnya, Doel menciptakan lagu Sunda yang romantis, seperti lagu “Pangandaran”. Doel juga banyak mencipta lagu untuk penyanyi Sunda lainnya, apakah itu Hendarso alias Darso, Barakatak, dan Nining Meida. Lagu-lagu ciptaan Doel memang memiliki ciri khas, misalnya lagu yang dinyanyikan oleh Nining Meida “Jol” berbeda sekali dengan lagu ciptaan Nano S. yang dinyanyikan Nining Meida “Kalangkang”.

Sedangkan Hetty Koes Endang, dengan kekuatan vokalnya, mampu memopulerkan lagu pop Sunda seperti “Cinta”, dan “Emut Bae”. Sukses yang sama juga dialami lagu “Cinta Ketok Magic” ciptaan Nano S. yang dialunkan penyanyi dangdut terkenal Evie Tamala.

Ada juga lagu pop Sunda yang menggunakan lirik campuran Sunda-Indonesia, seperti lagu “Biarin, Kang”, dan “Cinta Pabaliut” ciptaan Gun Gunawi yang dinyanyikan Lala Yuliara.

Nuansa Sunda bisa dirasakan pula pada lagu “Goyang Karawang” dan “Cinta Imitasi” Lilis Karlina, atau lagu dangdut paling populer dari Itje Trisnawati “Duh Engkang” ciptaan Muchtar B.

Patut dicatat pula, prestasi penyanyi pop Sunda Detty Kurnia, yang tampil di Jepang membawakan lagu ciptaan Ubun R. Sah “Sologoto” dan “Enjing Deui”.

**

POPULARITAS lagu pop Sunda dimungkinkan pula berkat sukses sebuah film. Misalnya lagu ciptaan Gun Gunawi “Biarin, Kang”, “Ka Mana Iteung”, “Cinta Pabaliut”, yang sebelumnya muncul dalam film “Si Kabayan Saba Kota”, “Si Kabayan dan Gadis Kota”, serta “Si Kabayan dan Anak Jin”. Kemudian lagu “Kang Kemon” dan “Oneng Sarinongnong” yang ditampilkan dalam film “Glen Kemon Mudik”, dinyanyikan oleh pemeran utama wanitanya, Desy Ratnasari.

Dari sekian banyak penyanyi lagu pop Sunda, rasanya tak satu pun yang mampu menandingi reputasi Darso. Kalau ada yang beranggapan lagu-lagu yang sukses itu mesti dipublikasikan secara gencar di berbagai media massa, sosok Darso dengan lagu-lagu calungnya yang khas, terutama yang diciptakan Uko Hendarto, ternyata bisa bertahan puluhan tahun hingga saat ini, tanpa publikasi yang gencar tentang sosok penyanyi dan lagu-lagunya.

Lebih dari itu, konon, lagu-lagu Darso juga banyak yang diciptakan secara spontan di studio rekaman. Semua itu merupakan ciri khas kekuatan penyanyi alami yang lagu-lagunya telah puluhan tahun menyatu dengan khalayak.

Kini, kehadiran lagu-lagu pop Sunda memang tidak segencar dulu. Jarang ada lagi lagu pop Sunda tampil di TVRI Pusat atau TV swasta. Padahal, zamannya TVRI Pusat punya maskot acara musik Aneka Ria Safari asuhan Eddy Sud, hampir tiap Minggu muncul lagu pop Sunda yang baru. Saat itu, seperti ada satu “kepercayaan”, bahwa lagu-lagu baru jika ditampilkan dalam acara Aneka Ria Safari, niscaya kaset rekamannya akan menuai sukses. Bahkan lagu pop Sunda lama pun menuai sukses ketika ditampilkan dalam irama musik disko, seperti lagu-lagu pop Sunda lama “Cikapundung”, “Sorban Palid”, dll., yang dinyanyikan Helvy Maryand, karena cukup gencar dipublikasikan di TVRI.

Meskipun kini tidak begitu banyak lagi ledakan kaset lagu pop Sunda, bahkan boleh dibilang menurun, tapi tahun ini layak dicatat sambutan terhadap lagu “Ulah Ceurik”, yang sukses tanpa publikasi gencar. Sementara sambutan terhadap lagu pop Sunda lainnya masuk hitungan biasa-biasa saja, malah boleh dibilang ada penurunan. Meski begitu, pencipta lagu pop Sunda tetap bertahan di jalurnya, apakah itu Doel Sumbang, Uko Hendarto, Yan Ahimsa, dan yang lainnya.

Begitu juga penyanyi pop Sunda masih terus bermunculan, bahkan tak sedikit yang berani rekaman dengan modal sendiri.

Apakah menurunnya minat terhadap lagu pop Sunda ini pertanda masyarakat Sunda sudah weureu (pinjam judul lagunya Doel Sumbang) mendengarkan lagu-lagu pop Sunda? Tentu tidak, jika menyimak begitu antusiasnya pemirsa berkaraoke lagu pop Sunda melalui acara Pasosore TVRI Jabar & Banten, serta dalam acara “Dalingding Asih” Bandung TV.

Lagu pop Sunda memang masih ada. Akan halnya awal mula sebutan pop Sunda, menurut Tati Saleh, mulai populer sejak dia mengorbit melalui lagu “Hariring Kuring” ciptaan Djuhari. *** PR-Sabtu, 10 September 2005

Penulis, Pimpinan Redaksi SKM Galura, Ketua Forum Film Bandung.

16 Tanggapan to “Menyibak Perkembangan Lagu Pop Sunda”

  1. rici ramlan Berkata

    kembalikan kembali musik sundaku,

  2. SAYA MINTA LIRIK LAGU PANGANTEN ANYAR BY DARSO

  3. Musik sunda bukan hanya lagu yang didengarkan tanpa makna ,
    tapi menggambarkan bumi parahiyangan yang romantis , itu yang
    saya rasakan sebagai orang yang berasal bukan dari Jawa Barat .

  4. yusufmuhammad Berkata

    Desy nyanyi lagu sunda?? saha nu gaduh kaset lagu-lagu sunda Desy Ratnasari Kang Kemon sareng Oneng Sarinongnong, abdi honyong ngadangu…janten panasaran

  5. yusufmuhammad Berkata

    Kalau tidak salah ada album YANTI ARIANTO yang judulnya “KARUNYA” lagunya sangat digemari anak-anak muda waktu itu.

  6. yang punya kaset jaipongan dasar tanah sunda atau lagu keduanya /album keduanya Langensari? tolong dong aku perlu banget untuk melatih anak-anakku di sekolah. Aku pindahan dari Cidaun cianjur selatan tahun 1990. Siapa dapat bantu aku, terima kasih.

  7. Dimana ya, mau download lagu sunda tahun 90 an?

  8. aryaSUNDA Berkata

    back tu sunda lah,, sing lestari lgu sunda..

  9. Ass Wb Wb,

    Akhir-akhir ini saya banyak mengoleksi Penyanyi Pop Sunda H. Dody Mansyur. Siapa yang bisa kasi info tentang profil ybs. Kemudian lagu-lagu apa saja yang terbaru. Tks. Hatur Nuhun. Wass Wr Wb.

  10. dadandarma Berkata

    kemana ,kepada siapa,agar bisa mendapatkan rekaman lagu sunda lama;suara mang Koko (Jenaka Sunda),pesinden RRI JKT+Bdg,Eka Jaya Combo,apakah RRI Bdg masih punya koleksinya ,saya dengar RRI Jakarta tidak lengkap karena berapa kali kebakaran.Khusus Karya Ibu Iyar Wiyarsih ,lagu berjudul ” Wanita Jaya ” dimana saya bisa mendapatkan catatan atau rekamannya. Mohon informasi, tanggapan atau jawaban,terimakasih.

  11. palay lagu sunda bimbo purbasari

  12. sunda nu aink ….. jangan tinggalkan budaya sunda …

    buktikan pada dunia bahwa orang” sunda itu bnyak budaya dan karya seni ..

  13. musik sunda memang punya ciri khas, ketika menyatakan perasaan cinta dinisbatkan pada kondisi alam atau nama tempat. semakin menguatkan tradisi sunda yang dekat dengan alam pegunungan…

  14. sanajan abdi ayena aya dilembur batur ( tatar malang jatim ) upamai ngadangukeun lagu sunda abdi osok emut ka bandung.kumargi kitu abdi koleksi lagu – lagu sunda.

  15. dimanapun tempat dan daerah yang kita tempati lagu sunda merupakan akar budaya masyarakat jawa barat selain tari jaipongan.

  16. kang, tolong cariin biografi bapak h. uko hendarto dan biografi bapak yaya suhaya (pencipta lagu maribaya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: