Archive for the musik jazz Category

Zefa & The Uncle Band

Posted in musik jazz on Januari 3, 2008 by jazzmuziek


Borong Dua Juara pada ”Jazz Competition”

GRUP jazz asal Bandung yang masih seumur jagung, ”Zefa & The Uncles Band”, keluar sebagai juara pertama kompetisi jazz yang berlangsung di Cafe Walk Plaza Semanggi Jakarta, Selasa (22/11) lalu. Selanjutnya, mereka didaulat tampil dalam acara ”Jazz Goes to Campus” yang akan berlangsung di kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Minggu (27/11), sepanggung dengan sejumlah musisi dan grup jazz papan atas, seperti Bubi Chen, Benny Likumahua, Krakatau, Ireng Maulana, Margie Segers, Jacky Pattiselanno, dan sebagainya.

Selain meraih predikat juara pertama, Zefa yang masih berusia 11 tahun itu dianugerahi The Best Keyboard Player dalam even tersebut. Keberhasilan grup tersebut menjuarai kompetisi jazz itu, jelas merupakan surprise tersendiri. Betapa tidak, grup tersebut baru terbentuk awal bulan November ini. ”Lagi pula, persiapan menghadapi kompetisi tersebut sangat mepet. Mengingat, malam sebelum perlombaan, kami baru pulang dari Bali untuk mengikuti ‘Bali Jazz Festival’. Praktis, persiapan sangat sedikit,” kata Budi Hartani, ayahanda Zefa kepada ”PR”, Kamis (24/11). Baca lebih lanjut

”Rainy Days” Persembahan Buat Perry Pattiselanno

Posted in musik jazz on Januari 3, 2008 by jazzmuziek


IDANG Rasyidi, musisi kenamaan Indonesia itu, ternyata membuat komposisi jazz berjudul ”Rainy Days” seminggu lalu. Komposisi bernuansa acid itu dibuat secara khusus buat Perry Pattiselanno, musisi Indonesia yang tewas dalam ledakan bom di Hotel Grand Hyatt Amman Yordania, dua pekan silam. Rupanya, sosok Perry berkesan begitu dalam bagi seorang Idang.


PENYANYI jazz Dian Pratiwi bersama pemain terompet Rio Sidik yang tergabung ke dalam Grup Xinau membawakan sebuah nomor jazz dalam kegiatan Bali Jazz Festival di Sand Island Hard Rock Hotel Bali, Sabtu (19/11) malam.*
HAZMIRULLAH/”PR”

Bagi Idang, adik kandung Oele dan Jacky Pattiselanno itu merupakan salah satu maestro musik jazz terbaik yang dimiliki Indonesia, saat ini. Wajar tentunya jika musisi sekaliber Idang merasa kehilangan dengan tewasnya Perry. Perasaan Idang ditumpahkan ke dalam tarian jemari pada tuts hitam-putih piano, Sabtu (19/11) malam.

Nanda, teman sepanggung Idang, sepertinya juga terhanyut ke dalam perasaan itu. Terbukti, Nanda juga mengungkapkan perasaannya melalui petikan melodi yang menyayat-nyayat. Saat itu, Idang menghampirinya.

Penyelenggaraan Bali Jazz Festival pada hari kedua nyaris bisa dikatakan bernuansa etnik. Banyak penampil menyuguhkan kecenderungan seperti itu saat manggung. Baca lebih lanjut

Bubi Chen Masih ”Lincah”

Posted in musik jazz on Januari 3, 2008 by jazzmuziek


TARIAN jemari Bubi Chen pada tuts-tuts piano ternyata masih lincah. Itulah yang memesona publik jazz yang memadati Sand Island Hard Rock Hotel, Kuta Bali, Jumat (18/11) malam.

Terkadang, tarian jemari itu melengking seolah menjerit. Terkadang pula, tarian itu mengalir bagai air. Malam itu, Bubi yang bergabung dengan Benny Likumahuwa, Jeffry Tahalele, serta kakak-beradik Oele dan Jacky Pattiselanno, memainkan berbagai “aroma”. Semakin lengkaplah “aroma” itu ketika vokalis Bertha muncul yang kemudian menyanyikan tiga lagu, yaitu “Lady be Good“, “Somewhere Over The Rainbow“, dan “Charade“. Ketika menyanyikan lagu Somewhere Over The Rainbow, Bertha berduet dengan putrinya yang masih belia, Jasmine.

Hari pertama penyelenggaraan Bali Jazz Festival semakin lengkap, karena grup Krakatau muncul sebagai penampil penutup. Seperti biasanya, Dwiki Dharmawan dan kawan-kawan menyuguhkan aliran world music dalam bumbu musik etnik melalui alat musik yang diusung tiga musisi Bandung, Yoyon Dharsono, Zainal Arifin, dan Ade Rudhiana. “The Gangs of Seven“, itulah salah satu komposisi original Krakatau yang dibawakan Dwiki dan kawan-kawannya. Baca lebih lanjut

”Biola Masuk ke Musik Apa pun”

Posted in musik jazz on Januari 3, 2008 by jazzmuziek

Ramadhania Aladin,

“BIOLA itu friendly banget!” Itulah pernyataan spontan yang disampaikan Ramadhania Aladin, atau akrab disapa Nia, violis independen yang sedang mencoba bergabung dengan banyak artis dari warna musik yang berbeda.

Bagi Nia, biola bukan hanya instrumen yang dapat masuk pada aliran musik klasik. Lebih dari itu, biola bisa masuk ke berbagai warna musik. “Bener lho, sudah saya buktikan, saya sudah mencoba berkolaborasi dengan siapa saja, dengan warna musik apa saja. Hasilnya? tetap bagus kok, dan enak didengar!” ujarnya dengan antusias.

Sebagai violis yang tidak terikat dengan kelompok band tertentu, Nia pernah bergabung mengusung klip Ari Lasso, “Misteri Illahi”. Ia juga pernah bekerja sama dengan kelompok musik Caffeine untuk lagu “Bidadari” dan “Yang Tak Pernah”. Bahkan dengan Pas Band ia ikut andil pada lagu “Tak Pernah Ada”. Termasuk dengan Padi dan Aryo dalam “Detik Ketujuh”. Baca lebih lanjut

”Trio Innova” Hangatkan Penikmat Musik Klasik

Posted in musik jazz on Januari 3, 2008 by jazzmuziek


MATA ketiga musisi asal Prancis itu terpejam. Ketika itu, mereka yang menamakan diri “Trio Innova” memainkan sebuah repertoar klasik ciptaan Piazolla, “Libertango”. Patrick Zygmanowski pada piano, David Zambon pada tuba, dan Jean-Marc Fabiano pada akordeon. Ketiganya tampak sangat khusyuk kala memainkan repertoar bertempo lambat itu. Susunan tangga nada minor yang diusung terasa sangat membuai, merindingkan bulu kuduk, terkadang juga menyayat.


TIGA musisi asal Prancis yang tergabung ke dalam “Trio Innova” (dari kiri) Jean-Marc Fabiano, Patrick Zygmanowski, dan David Zambon membawakan sebuah repertoar klasik di Auditorium Pusat Kebudayaan Prancis (CCF), Jalan Purnawarman Bandung, Sabtu (16/7) malam.* HAZMIRULLAH/”PR”

Zygmanowski –musisi kelahiran Polandia 35 tahun silam– diberikan kesempatan membuka repertoar. Gemulai tarian jemari kedua tangannya kemudian terjadi. Dalam tempo lambat, jemari itu kemudian menjelajah tuts-tuts piano. Permainan Zygmanowski menjadi semacam “jalur utama” repertoar tersebut.

Beberapa saat kemudian, suara berat tuba David Zambon masuk, memunculkan melodi. Piano Zygmanowski tak lagi kompleks seperti semula. Sejauh itu, Jean-Marc Fabiano belum memainkan akordeonnya. Setelah saatnya tiba, barulah Fabiano bergabung bersama kedua temannya. Suara akordion yang dimainkannya seakan menjadi penegas “roh” repertoar itu.

Berganti-ganti mereka memfungsikan masing-masing alat musik yang mereka pegang. Adakalanya, piano menjadi melodi, akordeon mengusung chord, dan tuba menjadi “penyela”. Adapula, akordion memunculkan melodi, tuba mengusung (semacam) chord, dan piano menjadi “penyela”. Demikian seterusnya. Pendeknya, repertoar itu pun usai dengan menuai gemuruh tepuk tangan. Baca lebih lanjut

Dwiki Dharmawan Ingin Jadi Agenda Tahunan

Posted in musik jazz on Januari 2, 2008 by jazzmuziek


KRAKATAU, grup jazz papan atas Indonesia sepertinya tak mau menyia-nyiakan kesempatan tampil di ajang “A Mild Production Jakarta International Java Jazz Festival 2005.” Dwiki Dharmawan, pentolan grup tersebut mengatakan, ajang ini dijadikan sebagai persiapan sebelum melakukan tur konser ke sejumlah negara Eropa.

“Dalam Java Jazz Festival, kami akan memainkan sekitar 70% repertoar yang akan kami bawa pada tur konser di sejumlah negara Eropa. Tur konser itu, akan di mulai pada 1 Juli mendatang, dan akan berakhir pada 10 September. Konser kami mulai dengan mengikuti ‘North Sea Jazz’ di Belanda,” ungkap Dwiki ketika ditemui “PR” usai jumpa pers yang berlangsung di Libra Room Executive Club Hotel Hilton Jakarta, Rabu (2/3) lalu.

Setelah mengikuti “North Sea Jazz,” imbuh suami penyanyi Ita Purnamasari itu, Krakatau akan bertolak ke negara Austria, Prancis, Spanyol, dan Italia. “Oleh karena itu, kami memandang pas diselenggarakannya Java Jazz Festival ini,” katanya.

Dia juga berharap agar Java Jazz Festival dijadikan sebagai agenda tahunan.(Azmeer/”PR”)***5-3-05

Oase Menyegarkan di Saat Jazz Kesepian

Posted in musik jazz on Januari 2, 2008 by jazzmuziek


Oleh UKON AHMAD FURQON

KESEPIAN. Barangkali itulah kata yang paling tepat untuk melukiskan kondisi musik jazz tanah air dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah ingar-bingar acara pencarian bakat penyanyi baru lewat kemasan ”reality show”, di saat musik dangdut asyik berbulan madu dengan televisi, ketika album musik populer laris manis hingga jutaan keping, gaung musik jazz justru kian tak terdengar, baik itu di dunia pertunjukan maupun dalam industri rekaman.

Jika pada dekade 1990-an masih ada ajang perhelatan jazz berskala besar dan bertaraf internasional seperti “JakJazz Festival,” belakangan jazz hanya tersaji dalam skala acara dan tingkat pemberitaan yang terbatas, di kafe atau paling dari kampus ke kampus.

Jazz yang kesepian juga tercermin dalam industri rekaman. Inisiasi cemerlang yang dilakukan Indra Lesmana di awal milenium lewat projek Reborn, ternyata belum bisa menstimulasi lahirnya album-album jazz lainnya yang dapat diserap pasar dalam jumlah meyakinkan. Di akhir 2004 memang muncul album “Silver.” Tapi lagi-lagi ini masih milik Indra, itu pun dengan grafik penjualan yang belum menunjukkan dapat menyamai prestasi “Reborn” yang cukup laris untuk ukuran album jazz Indonesia. Baca lebih lanjut

Jazz dan Publik yang Wangi

Posted in musik jazz on Januari 2, 2008 by jazzmuziek


SEPERTI yang lain, tubuh gadis cantik itu tak mau diam. Melonjak-lonjak kecil dengan kedua tangan yang bergerak-gerak ke atas. Sesekali, seperti yang lain juga, ia berteriak histeris memberi aplaus. Matanya yang berbinar-binar tak lepas menatap panggung, di mana penyanyi dan pianis terkenal Tania Maria sedang beraksi. Penampilan perempuan setengah baya di Assembly Hall Jakarta Convention Centre (JCC), Jumat Malam (4/3) dengan suguhan jazz afro-Latin dan pop yang impulsif, penuh warna, dan kaya imrovisasi ini, benar-benar membuat gadis cantik itu larut ke dalam suasana pertunjukan. Tak jarang ia bergumam mengikuti potongan lirik lagu. Terlebih lagi ketika Tania melantunkan tembang terkenalnya “Come With Me”.

Gebukan drum, cabikan bass dan rentetan pukulan serta sabetan simbal yang apik, atau performance Tania yang energik, adalah kekuatan bahasa musik yang menularkan sensivitas respons ke dalam tubuh para penikmatnya. Seperti gadis itu, yang tak perduli dengan rambut lurusnya yang mengenai wajah dan pundak seorang fotografer yang berdiri di sebelahnya. Rambut dan tubuhnya yang wangi, mungkin menjadi alasan mengapa si fotografer tidak perlu merasa terganggu.

Sementara itu di sudut yang lain, seorang perempuan setengah baya dengan jas batik, juga tak mau diam. Kakinya bergerak-gerak, tapi dengan respons yang agak malu-malu. Baca lebih lanjut

Kemeriahan Jazz Hadir Kembali

Posted in musik jazz on Januari 2, 2008 by jazzmuziek


KEMERIAHAN itu hadir kembali. Setelah hampir delapan tahun tidak terdengar, publik penikmat jazz kini bisa menikmati lagi olahan dan improvisasi nada serta performance sejumlah musisi kawakan. Rasa haus akan suguhan musik berkualitas pun langsung terpuaskan, karena yang hadir dan memberi sajian tidak hanya insan-insan jazz lokal ternama, tapi juga beberapa seniman yang sudah malang melintang di blantika jazz dunia seperti Deodato, Incognito, Earth, Wind and Fire, Tania Maria, Eric Bennet dll., serta Raja Soul James Brown.

Digelarnya kembali pentas jazz internasional, yang kali ini dinamai Jakarta International Java Jazz Festival, memang seakan membuka kembali catatan yang mencantumkan Indonesia sebagai salah satu negara yang pernah memiliki “ritual” jazz bertaraf dunia. Publik jazz tanah air tentu ingat, betapa kegairahan kerap terpancar dalam setiap even tahunan, Jakarta Internasioal Jazz Festival (JakJazz) hingga 1997. Baca lebih lanjut

Enjotan Funky James ”Embahnya Soul” Brown

Posted in musik jazz on Januari 2, 2008 by jazzmuziek


SERENTETAN gubahan funky-disco, soul, dan rhythm & blues (R&B) disajikan oleh James Brown (vokalis, komposer, dirigen, arranger dan produser) bersama kelompok band pendukungnya The JB’S di dalam kesatuan paket persembahan sambung menyambung tanpa jeda di show-nya di perhelatan Festival Internasional Java Jazz, Jumat (3/4) tengah malam hingga melampaui batas pukul 1.15 dini hari.

Sang embahnya musik soul yang sudah berusia di atas kepala enam ini masih prima kondisi fisiknya. Sesekali ia masih menyempatkan diri ber-hustle (menari berlari kecil di tempat) seperti yang kerap dipertunjukkan sebagai ciri penampilannya di tahun 1970-an. Teriakan-teriakan khas James Brown, hit it, all around and around, to the funky power, soul funky power! masih saja menenggarai tingkahnya di pentas. Namun, meski warna vokalnya yang sudah “paten” tetap terjaga, kondisi teriakan napas sang kakek musik funky ini kian terbatas, seiring dengan guratan-guratan yang menghias wajahnya. Baca lebih lanjut

“Java Jazz” Sisakan Pesan Persaudaraan

Posted in musik jazz on Januari 2, 2008 by jazzmuziek


SEIRING temaramnya kilau lampu di 11 panggung, perhelatan akbar insan jazz yang berlangsung sejak Jumat (4/3), berakhir tadi malam. Dinamika nada yang berbaur dengan karakter musik dari 300 musisi lokal dan internasional serta tepukan tangan penonton, yang selama tiga malam berturut-turut memenuhi atmosfer Jakarta Convention Center (JCC), juga tak lagi terdengar. “Jakarta Internatioanl Java Jazz Festival 2005″ memang telah usai. Namun, spirit jazz agaknya tetap menggema dan menjelma menjadi semangat persaudaraan yang universal. Seperti dituturkan penyanyi kulit hitam asal Amerika Serikat, Angie Stone, yang semalam tampil di Plenary Hall, “Kami datang dengan cinta, perdamaian dan persaudaraan. Rasa persaudaraan yang kami terima akan kami bawa, dan persaudaraan di hati kami milik Anda semua.”

Penyanyi yang terkenal dengan lagu-lagu bercorak R&B seperti “Seem You’re Much Too Busy” dan “I Wanna Thank You” itu memang berhasil memanfaatkan momen “Java Jazz” untuk mengingatkan publik bahwa cinta, perdamaian, dan persaudaraan harus tetap menjadi sikap hidup siapapun dan di manapun. Dengan demikian, pentas “Java Jazz” tidak melulu sebagai ajang pertemuan musikal, tetapi juga sekaligus wahana dialog untuk mengampanyekan soal-soal kemanusiaan. Baca lebih lanjut

Deodato dan Jazz Brasil yang Menjelajah

Posted in musik jazz on Januari 2, 2008 by jazzmuziek


JAZZ adalah permainan musik yang memberi banyak kemungkinan dan penjelajahan. Dan inilah yang ditawarkan dalam penampilan rancak musisi jazz terkenal asal Brasil Deodato pada hari kedua International Java Jazz Festival, Sabtu Malam (5/3) di Plenary Hall Jakarta Convention Centre (JCC).

Penjelahan ini tampak dalam sejumlah nomor yang ia mainkan dengan skill musikal para personal yang di atas rata-rata. Dari mulai Brazillian Jazz, pop, bossa nova, jazz-rock, funk, hingga olahan jazz yang merupakan score musik film seperti film seri Hunter. Dan semua warna jazz itu ditampilkan dengan teknik permainan dan naluri improvisasi yang liat dan bening.

Penjelajahan musisi yang tersohor dengan adaptasinya atas lagu “Also Sprach Zarahustra” pada tahun 1972 ini ini hadir dengan melodi-melodi yang manis dan lincah dalam permainan organnya. Kelincahan yang sama juga ditunjukkan dengan skill permainan personel pendukungnya. Dengus trombon yang sesekali mendesah panjang, atau permainan atraktif melodi brush yang mencengangkan. Seperti Jimmy Hendrix ia memamerkan kebolehannya dalam mengolah penjelajahan melodi yang cepat dengan berbagai posisi. Dari mulai melodi yang terangkat di belakang pundak, hingga petikan yang menggunakan gigi. Dalam membawakan nomor terkenal kelompok Led Zeppelin Black Dog, misalnya, jerit dan kocokan melodi menjadi ruh dari yang melapisi karakter bunyi trombon dan saksofon. Baca lebih lanjut

George Duke Jazz, Penuh Sihir dan Energi

Posted in musik jazz on Januari 2, 2008 by jazzmuziek


PUKAU dan sihir George Duke Jazz adalah energi, pukau dan sihir yang membebaskan“. Ungkapan itu bisa saja berlebihan. Tapi mungkin tidak untuk penampilan George Duke. Di hadapan publik jazz yang memenuhi Plenary Hall Convention Centre Jakarta, Jumat (4/3) malam, selama lebih kurang 1,5 jam, musisi jazz asal California (AS) itu, tampil memamerkan bagaimana spirit dan energi jazz yang bisa menjadi sebuah pukau dan sihir. Lompatan dan improvisasi nada-nada yang mengejutkan, dan tempo yang tak terduga saling melapis menjadi interaksi musikal yang mengundang decak kagum dan histeria penonton.

Tampil dari arah kanan panggung, musisi bertubuh tambun yang pada tahun 1999 oleh Keyboard Magazine dinobatkan sebagai “R&B Keyboarding of The Year” ini, langsung disambut oleh riuh tepuk tangan. Setelah menyapa akrab penonton dan mengajak mereka merespons salah satu senandung lagunya, ia langsung menuju keyboardnya. Maka mengalirlah sebuah nomor energik dengan melodi yang cepat. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.