Lewat Antologi Lagu, Suntikkan Energi buat Negeri

Posted in Lain-lain on April 8, 2008 by jazzmuziek

Arief J Wicaksono

Oleh
Wahyu Dramastuti

JAKARTA – ”Leny, please aku ingin tahu biaya masuk sekolah. Kalo sakit, dokter dan obatnya berapa? Cukupkah kita untuk merawat Una di negeri ini… Manusia di sini mulai tak manusiawi dan kebenaran mulai jadi barang opini.

Bisakah kita melindungi Una di negeri ini…?”
Petikan lagu karya Bimbim (grup band Slank) berjudul “Indonesiakan Una” itu menggugah hati Arief J Wicaksono, yang kemudian menuangkan dalam bukunya, Simfoni Indonesia—Antologi Lagu untuk Negeri. “Indonesiakan Una” melengkapi puluhan lagu lain yang didokumentasikan Arief dalam buku tersebut, yang semuanya mengangkat tema cinta Tanah Air.
Tak bisa disangkal, buku bersampul merah putih itu menunjukkan betapa Arief mencintai tanah kelahirannya, Indonesia. Melalui karya tersebut, ia mengajak semua orang untuk melihat Indonesia dari berbagai perspektif, termasuk bineka tunggal ika yang bisa menumbuhkan rasa toleransi antarsesama warga.
Rupanya, Arief terlahir dari keluarga militer. Ayahnya adalah anggota purnawirawan TNI berpangkat Letkol, yang selalu bercerita tentang Tanah Air kepada delapan anaknya. Namun sang ayah juga menyukai musik. Dua hasrat yang mengalir dalam diri sang ayah itulah yang kemudian tertancap di lubuk hati anak-anaknya.

Baca selebihnya »

Merajut Kembali Kejayaan Lagu Batak

Posted in tradisional on April 8, 2008 by jazzmuziek

LCLB Nasional 2008

Jakarta – Orang Batak kerap diidentikkan dengan suara bagus dan keahlian menyanyi. Talenta ini seakan menjadi karunia yang melekat pada orang Batak pada umumnya. Sejak dulu lagu-lagu Batak dikenal dan ikut memperkaya khazanah musik nasional bahkan mancanegara. Dengan ciri melodi yang tidak terlalu rumit dan cenderung easy listening membuat lagu-lagu Batak mudah diterima pendengarnya.


Lagu “Sitogol”, “Alusi Au” dan “Lissoi” ciptaan Nahum Situmorang adalah contoh lagu-lagu yang sangat akrab di telinga orang Indonesia, tak peduli asal mereka. Cornel Simanjuntak dengan lagu romantisnya “O Ale Alogo”, Guru Siddik Sitompul atau S.Dis menggubah lagu fenomenal “O Tano Batak” yang secara informal menjadi lagu wajib orang Batak.


Tembang “A Sing Sing So” gubahan Boni Siahaan dan dipopulerkan Gordon Tobing menjadi lagu yang merakyat di berbagai belahan dunia termasuk di Amerika. Grup Parisma 71 dan Trio Golden Heart yang dimotori Dakka Hutagalung menghasilkan lagu-lagu sentimentil dan jenaka sempat menghiasi belantika musik Batak.
Demikian juga dengan lagu-lagu “Eta Mangalap Boru”, ”Tading Maham” serta “O Turang Lame Gogo” dan “Piso Surit” yang berasal dari Simalungun dan Tanah Karo juga dikenal luas. Lagu-lagu di atas tercipta antara tahun 1920 hingga ‘70-an.


Eksistensi lagu-lagu Batak masih berlanjut dengan puluhan karya emas gubahan Firman Marpaung seperti “Mangkuling Giring-giring” dan “Putus Singkola” yang sempat merajai peredaran lagu-lagu Batak. Berikutnya era grup vokal bermunculan dengan lagu-lagu ciptaan sendiri.
Sebut saja Trio The King dengan lagu “Andigan”, Trio Amsisi dengan beat khas Batak ciptaan personelnya Iran Ambarita, Jack Marpaung dan Trio Lasidos dapat bertahan lama di pasar lagu Batak dan dikenal dengan aliran lagu ratapan (andung), rock serta blues. Demikian juga lagu “Inang” ciptaan Charles Hutagalung dan lagu “Sai Anju Ma Au” yang dipopulerkan Nainggolan Sister masih menjadi salah satu lagu favorit pilihan pecinta musik karaoke hingga kini.


Namun, di penghujung tahun 1990 hingga sekarang, lagu-lagu Batak tak lagi booming. Entah apa penyebabnya, yang jelas sejak saat itu hingga sekarang lagu-lagu yang tercipta dan mencapai hits bisa dihitung dengan jari. Maraknya pembajakan lagu, royalti yang tidak memadai serta persaingan yang makin ketat mungkin bisa dikedepankan sebagai penyebab. Namun, yang menjadi pertanyaan apakah kondisi ini akan dibiarkan?

LCLB 2008
Setelah vakum selama 20 tahun Lomba Cipta Lagu Batak kembali digagas untuk dilaksanakan tahun 2008 ini. Drs Roy H Ritonga, STh ketua Panitia dan Dr Paimin Napitupulu sebagai penasihat panitia LCLB 2008 dalam keterangan persnya, Sabtu (29/3), mengatakan lomba ini bertujuan memaksimalkan potensi lagu-lagu Batak dari seluruh puak Batak di tingkat nasional maupun internasional dalam rangka mendukung potensi pariwisata daerah Batak khususnya Danau Toba dan Sumatera Utara umumnya yang dikenal sebagai Toba Dream.


Di sisi lain ketua penyelenggara Hotma MT Pardede menerangkan untuk menghasilkan karya lagu yang berkualitas dari lomba ini dibutuhkan dukungan dari semua elemen yang terkait baik pencipta lagu lintas generasi, panitia, dewan juri, industri musik, media massa, pihak sponsor terutama dukungan dari masyarakat musik Indonesia. Pendaftaran untuk mengikuti lomba ini telah dibuka mulai 10 Februari lalu dan akan ditutup 12 April 2008. Lalu seperti apakah lagu Batak yang dihasilkan dari LCLB 2008 ini? Mari menunggu dan berharap. (dame sitompul)

dari : sinarharapan.co.id

Skid Row, Kini Giliran Genre Metal

Posted in musik pop-R n B-rock on April 8, 2008 by jazzmuziek

Skid Row Gelar Konser Murah

Jakarta – Kedatangan konser tur band di Jakarta, kini menjadi gilirannya genre metal. Didahului legenda band power metal asal Jerman, Helloween, 22 Februari lalu. Kini akan menyusul hadir, Skid Row, band heavy metal yang didirikan di New Jersey, Amerika Serikat (1986).
Tak cuma di Jakarta (ex-Drive In, Taman Impian Jaya Ancol, 7/3), Skid Row yang telah ditinggalkan gitaris Dave “The Snake” Sabo itu juga bakal berkonser di Stadion Siliwangi, Bandung (9/3), Stadion Diponegoro, Semarang (11/3), Stadion Tambaksari, Surabaya (13/3) dan Lapangan Rampal, Malang (15/3).
Log Zhelebour selaku promotor, menyebut undangan bagi Skid Row di Indonesia sekaligus ingin menjawab bahwa pergelaran rock tak selalu memancing kerusuhan. “Agar trauma konser rock, bisa dihilangkan!” kata Log Zhelebour di Hard Rock Café, Kamis (28/2) sore.


Diakuinya, ketat perizinan konser di Bandung setelah peristiwa maut beberapa waktu lalu, membuat ia sempat kesulitan. “Tetapi, karena saya jadi promotor musik rock sejak era Orde Baru, maka kesulitan bisa terlewati. Apalagi dengan janji sudah bergaransi,” jawabnya, yakin.
Menjelaskan kenapa ia berani menjual tiket murah di Bandung, Semarang, Surabaya dan Malang (Rp 20.000-Rp 30.000) dibandingkan Jakarta yang seharga Rp 100.000. “Saya tidak mencari keuntungan sebesar-besarnya, karena memang hobi sebagai promotor rock. Yang penting acaranya lancar dan baik,” katanya.
“Saya bisa mengontrak Skid Row relatif murah, karena saya selalu memberikan tawaran di bawah harga resmi. Kalau mereka tak mau, ya sudah!” sambung Log.
Kemudahan mengundang Skid Row, menurutnya, juga lantaran manajemen mereka telah mengetahui bahwa Indonesia sudah sering menyelenggarakan konser tur artis-artis mancanegara. Apalagi, khusus buat Skid Row, mereka dipersilakan hadir di lima kota besar yang jarang bisa terjadi di negara mana pun.

Baca selebihnya »

“Sing Like A Star” Modal Menjadi Bintang: Percaya Diri

Posted in inovasi on April 4, 2008 by jazzmuziek

Jakarta – ”Waktu MTV VJ Hunt, di Bandung, ada orang yang ikut dua kali casting, lucu banget. Tapi, dia tidak bisa menjadi seorang VJ (video jockey). Dia sekarang terkenal banget, namanya Aming. Dia nggak bisa bernyanyi, tapi dia punya sesuatu, dia punya bakat lain,” kata Cipta Panca Laksana, Production Manager Global TV.


Mungkin tidak ada yang pernah menyangka bahwa laki-laki yang kini selalu muncul di Extravaganza itu pernah berjuang keras untuk muncul di layar kaca melalui ajang pencarian bakat itu. Sayangnya, Aming memang tidak memiliki bakat menjadi VJ, dan sayangnya lagi, belum ada wadah untuk orang-orang seperti Aming saat itu.
Seorang contoh lain berasal dari Amerika Serikat, William Hung, kontestan American Idol musim ketiga. Ia tidak bisa bernyanyi, berdansa atau apa pun bakat yang diinginkan kontes yang melahirkan Kelly Clarkson itu.
“Kamu tidak bisa bernyanyi, kamu tidak bisa berjoget, lalu kamu ingin saya mengatakan apa?” kata Simon Cowell, si ketua juri ketika Hung yang dengan percaya dirinya membawakan “She Bangs” Ricky Martin.

Baca selebihnya »

Incubus World Tour 2008

Posted in musik pop-R n B-rock on April 4, 2008 by jazzmuziek

 
Eksplorasi “Bunyi” di Atas Panggung

Oleh
Mila Novita

Jakarta – Hujan yang mengguyur Jakarta tidak menyurutkan semangat penonton untuk melaju ke Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Rabu (5/3).
Incubus, band asal California, Amerika Serikat, malam itu mendapat giliran menghibur Jakarta usai Bjork, Helloween, dan Backstreet Boys beberapa waktu lalu, serta menjelang Skid Row dan Java Jazz esok hari.
Pukul 20.30, Brandon Boyd (vokal, gitar, perkusi), Mike Einziger (gitar, vokal, dan piano), Jose Pasillas (drum), Chris Kilmore (DJ), dan Ben Kenney (bass, vokal), naik ke panggung yang berdiri tegak di hadapan penonton yang memadati Tennis Indoor.


“Quicksand”, yang diambil dari album terakhir mereka, Light Grenades, menjadi pembuka konser yang berjalan nyaris 90 menit ini, diiringi jeritan penonton yang telah menunggu sejak malam menjelang. Band yang mengeluarkan album pertamanya pada 1995 ini adalah salah satu yang ditunggu-tunggu. Sayangnya, Java Musikindo, selaku promotor tidak menempatkan konser ini di area yang lebih luas. Tennis Indoor hanya mampu menampung sekitar 3.500 penonton, padahal peminat konser ini membludak.

Baca selebihnya »

Performa Babyface Disambut 5.000 Penonton

Posted in musik jazz on April 4, 2008 by jazzmuziek

“Java Jazz Festival 2008” Berakhir

Oleh : John JS


Jakarta – Penyelenggaraan “Dji Sam Soe Super Premium Jakarta International Java Jazz Festival 2008” di Jakarta Convention Center (JCC) berakhir sampai dini hari, Senin (10/3).

Penampil penghujung ini antara lain Kenny Edmonds, disusul dengan band fusion asal Norwegia, D’Sound, Ray Parker Jr, Iwan Wiradz & Tri Budiman dan Elfa Secioria, 5 Wanita (Rieka Roslan, Andien, Nina Tamam, Iga Mawarni dan Yuni Shara), serta The Manhattan Transfer.


Sebelum itu, Raul Midon, hadir pula vokalis tunanetra yang berpenampilan sendiri, namun meriah cukup hanya dengan gitar dan instrumen bebunyian mulut. Berciri vokal soul dan jazz klasik mirip Stevie Wonder dan Al Jarreau, ia berhasil menembus pagar musik pop dengan salah satu lagu unggulan, “All Because of You” yang juga dinyanyikannya saat hadir di area Cenderawasih 2-3 pada malam penutup “Java Jazz Festival 2008”.

Baca selebihnya »

Iwan Fals Main Film Lagi

Posted in musik pop-R n B-rock on April 4, 2008 by jazzmuziek

Jakarta – Iwan Fals kembali berakting di film layar lebar. Ternyata memang penyanyi bernama lahir Virgiawan Listianto itu telah terlibat dua kali selaku “aktor”, yaitu di film “Damai Kami Sepanjang Hari” (1985) dan “Kantata Takwa” yang gagal edar di bioskop. Kali ini, di film “Kekasih” produksi Grandiz Media Production, ia bermain sesuai profesinya selaku penyanyi dan pemusik yang muncul di adegan-adegan penghujung.


Mungkin terbilang sedikit, tetapi memiliki makna besar di puncak klimaks se-bagai Jiwo si tokoh utama. Di saatnya nanti, Iwan sekaligus menyanyikan lagu tema, “Aku Milikmu” karya cipta Pongki “Jikustik”, yang berkisah tentang percintaan dua anak manusia.
Diakuinya, untuk kembali menjejakkan kaki di film layar lebar, beberapa pertimbangan sempat mampir di benaknya sebelum ia mengiyakan tawaran tersebut.

Baca selebihnya »

Industri Musik Pop Indonesia Kini Menoleh Kontes Band

Posted in musik pop-R n B-rock on April 4, 2008 by jazzmuziek


Oleh
John JS

Jakarta – Serunya penyelenggaraan kontes band pendatang baru atau independen (indie) belakangan ini, kemungkinan bakal mengubah arah/cara merekrut para A&R (artist & repertoire) di berbagai label rekaman Tanah Air.

Perkiraan macam begitu, sudah lebih dulu terjawab dengan realitas beberapa runner-up Dream Band (kontes band kerja sama TV7-majalah Hai) yang kini berada di bawah lindungan label bergengsi, seperti contoh utamanya, Kapten di EMI Indonesia. Lalu, keberuntungan serupa juga dialami oleh mantan Juara Utama “A Mild Live Wanted” regional Jawa Barat, Vagetoz yang beruntung langsung direkrut Sony BMG Indonesia.


Apa pun kini peraturan ketat bagi finalis utama dan pemenang utamanya, tetapi celah intaian para A&R pada peserta kontes band semacam “A Mild Live Wanted” (yang melahirkan d’Masiv), “KFC Music Hit List” (Juliette dan Antique), dan “LA Lights Indiefest” (VOX dan d’Rinos), bisa menjadi kemungkinan menarik, karena selera pasar publik muda semakin sulit dimengerti.
Baca selebihnya »

“A Legendary Diva” Satu Lagi Biografi Titiek Puspa

Posted in sosok on April 4, 2008 by jazzmuziek

Jakarta – ”Dia hebat, dia pantas,” kata Alberthiene Endah, penulis biografi Titiek Puspa, A Legendary Diva, yang diluncurkan Senin (10/3) di Hotel Mulia Senayan, Jakarta. Itu adalah dua alasan sederhana untuk menuliskan 357 halaman biografi yang juga memuat banyak foto sang legenda hidup sejak masa kecil sampai dengan saat ini.
Ini bukan biografi pertama bagi Titiek Puspa. Pada 2004 lalu, ia juga meluncurkan biografinya yang dituliskan oleh wartawan Kompas, Ninok Leksono. Meskipun bukan yang pertama, A Legendary Diva ini menjadi spesial karena gaya penulisannya yang berbeda.


“Ada perbedaan antara yang ditulis Ninok dan Alberthiene. Ninok menuliskannya dengan cara lelaki, kebanyakan berupa data, baik data hidup maupun data lagu. Kalau Alberthiene, dia menceritakan seperti perempuan menceritakan perempuan, jadi ada sentuhan perempuannya,” kata perempuan yang disapa dengan sebutan mbak, tante, dan eyang ini.
Tidak terlalu lama waktu yang dibutuhkan Alberthiene untuk menuliskan biografi ini. Eyang, demikian Alberthiene menyapa perempuan kelahiran 1 November 1937 ini, begitu lancar bercerita.
“Kalau Eyang cerita, yang sedih justru saya. Sesedih apa pun ceritanya, Eyang masih bisa ngakak,” kata Alberthiene mengenang.
Buku yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama ini menceritakan kisah hidup Titiek secara mendetail. Dari ketika ia masih kecil, hidup di zaman penjajahan Jepang yang penuh dengan penderitaan, memulai hidup sebagai penyanyi, sampai dengan ketika ia menyaksikan satu per satu penerusnya lahir. Namun, ia tidak tergerus oleh zaman.

Baca selebihnya »

Naff “Rahasia Hati” Tak Ada yang Berubah

Posted in musik pop-R n B-rock on April 4, 2008 by jazzmuziek

Oleh
Mila Novita

Jakarta – Seperti mengalami sebuah pengulangan ketika Naff meluncurkan album kelimanya di Hard Rock Cafe, Rabu (12/3) sore. Judul album yang mirip dengan album sebelumnya, Isyarat Hati, yang diluncurkan sekitar dua tahun lalu, menggambarkan keseluruhan musik mereka.

Tidak banyak yang berubah dari musik Naff. Rusyaedi “Ady” Makmun (vokal), Dedi Raksawardana (gitar), Andri “Ade” Kurniawan H (gitar), Odeu Wijaya (bas) dan Hilal Hamzah (drum) masih “mencontek” kesuksesan Isyarat Hati yang menelurkan single “Akhirnya Ku Menemukanmu” dan “Kau Masih Kekasihku” itu. Masih ada jeritan hati yang mengatasnamakan cinta di sini.


Tentang persamaan itu, Dedi mengaku memang sengaja. “Orang kalau bikin album baru selalu ditanya perubahan, kami tidak ingin berubah, kami ingin membuat apa yang kami inginkan. Pada saat pembuatannya, kami memang senang ke sana (musik mellow), bukan karena strategi marketing,” katanya.

Baca selebihnya »

An Evening with Diana Ross, “Entertainer Sejati” Itu Akhirnya Datang Juga

Posted in artis, musik jazz on April 4, 2008 by jazzmuziek

Oleh
John JS

Jakarta – Setelah menghadirkan konser boyband Backstreet Boys, akhir Februari lalu, kini promotor Buena Productions memberikan giliran pada Diana Ross (64).

Perempuan penyanyi legendaris ini bakal menggelar pertunjukan musik bertajuk An Evening with Diana Ross di Ballroom, The Ritz-Carlton, Jakarta, Minggu (23/3) mendatang.
Kesempatan langka tersebut sekaligus menjadi aktivitas amal, dengan menyumbangkan sebagian hasil penjualan tiket kepada Dewan Kerajinan Tangan Nasional. Seperti dijelaskan oleh Presiden Direktur Buena, Peter Basuki, bahwa kehadiran Diana Ross ke Indonesia akhir Maret nanti, menjadi bukti bahwa Indonesia telah masuk dalam peta pertunjukan musik dunia.


“Tentunya hal ini berkat success story dari konser beberapa artis mancanegara di Indonesia, khususnya di awal tahun 2008 ini. Situasi kondusif seperti ini tentunya mesti dipupuk agar pencinta musik Indonesia dapat terus menikmati suguhan musik dari artis dan musisi internasional, yang tentunya sedikit banyak juga turut mengharumkan nama bangsa di kancah musik dunia,” tambahnya.


Dia juga mengatakan, “Walaupun kami kerap mendatangkan artis mancanegara ke Indonesia, tentunya untuk menghadirkan artis sekaliber Diana Ross tidak bisa sembarang. Ini membutuhkan ekstra kerja keras dan networking yang baik. Terlebih mengingat Diana Ross yang merupakan penyanyi wanita legendaris sekaligus sebagai entertainer sejati telah memiliki konsep panggung yang harus kami penuhi.”

Baca selebihnya »

Tompi Hadir Lagi dengan Kegembiraan Jazz

Posted in artis, musik jazz on April 4, 2008 by jazzmuziek


Jakarta – Teuku Adifitrian yang lebih akrab dikenal sebagai Tompi, terhitung cepat menghasilkan album rekaman. Kini dia telah melangkah ke album keempat bertajuk My Happy Life, sesudah T (2005), Soulful Ramadhan (2006), dan Playful (2007).
“Tahun ini saya mengawalinya dengan jazz, baru pada materi yang mendatang saya keluarkan versi pop,” ujar penyanyi yang berprofesi utama sebagai dokter itu.
Baginya, album terbarunya ini terbilang spesial, karena memuat suara tangis putra pertama Tompi, Teuku Omar Dakari yang lahir pada 4 November 2007 lalu. “Saat rekaman, usianya baru sekitar dua bulan. Lagi tidur, dia saya ganggu. Agar bisa keluar sound nangis,” kenang Tompi.
Di My Happy Life ini, Tompi juga mengajak kolaborasi pendatang baru, Sierra. Tentu, bukanlah penyanyi kacangan, karena gadis tersebut adalah lulusan perguruan tinggi seni suara di Australia. “Kini dia sudah kembali ke Indonesia. Karakter vokalnya, cocok dikawinkan dengan warna vokal saya,” kata Tompi.


Keduanya nyanyi bareng dalam judul “Love Letter”, sebuah karya lagu ciptaan pemusik jazz usia muda, Indra Aziz. Akan tetapi, dalam pilihan singel andalan utama, Tompi memilih singel bertajuk “Sedari Dulu”, dengan pertimbangan lagu itu lebih kental bernuansa pop, dibandingkan lain-lainnya yang condong jazz, soul dan funk.
Dikatakannya, tahap penyelesaian My Happy Life dilakukan pada saat ia telah rampung bertugas di rumah sakit dan jam praktik selaku dokter umum. “Terpaksa dicicil, karena saya tak mau kerja dokter terganggu,” ungkapnya.
Mencoba membandingkan makna perbedaan konsep antara T, Playful dan My Happy Life, disebutkan Tompi bahwa T merupakan starting awal yang beridealisme, namun memakai unsur pop yang begitu kuat. Adapun Playful, meski lebih terekspos oleh kalangan pers begitu bagus, namun tetap kalah citranya dengan album perdana, T. Sementara itu, My Happy Life sengaja melakukan penekanan pada konsep jazz.

Baca selebihnya »

Marcell “Hidup” dengan “Candu Asmara”

Posted in musik dangdut on April 4, 2008 by jazzmuziek

 Oleh : Mila Novita


Jakarta – Mungkin “Candu Asmara” adalah satu-satunya lagu dangdut yang melekat di benak Marcell. Bukan hanya karena goyangan Cici Faramida, penyanyi dangdut yang memopulerkan lagu itu di tahun 1990-an, bukan pula hanya karena kepintaran Guruh Soekarnoputra, pencipta lagu itu, tapi karena pada keduanya.


ni adalah penghargaan saya untuk Om Guruh dan Cici,” kata Marcell dalam sebuah wawancara di Hotel Gran Mahakam, Jakarta, Kamis (13/3).
Bagi Marcell, “Candu Asmara” bukanlah dangdut seperti pada umumnya. “Saya telaah secara musik, ini nggak ada dangdutnya, elektronik banget. Yang membuat lagu ini kayak dangdut karena ada pentatonik (skala lima not per oktaf seperti gamelan Jawa) Jawa. Basnya aja yang dibikin dangdut, kalau basnya diganti, jadi elektronik,” kata Marcell meyakinkan.

Baca selebihnya »