150 Seniman Dangdut ”Ngumpul” di Ancol


KEBEBASAN seniman untuk mencipta atau mencari dan menemukan unsur estetik dalam karyanya, apa pun bentuk dan jenisnya, kata Rhoma Irama, tidak lepas dari proses kemanusiaan. Orientasi seni, katanya, tak sekadar mendeskripsikan realitas dan apa yang dinilai indah oleh sang senimannya. “Melainkan mengembangkan makna hakiki, sebagai makhluk yang dikaruniai akal dan hati nurani,” kata si Raja Dangdut ini kepada “PR”, menjelang “Konser Amal Dangdut All-Star 14 Jam Non Stop” yang digelar di Pantai Karnaval, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Sabtu (14/5).

Jika kemudian Bang Haji ( Rhoma Irama-red), memboyong para anggota PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Dangdut Indonesia) ke sebuah konser, baginya tidak lagi sekadar unjuk kebolehan atau melulu menghibur. “Ini bentuk empati kita semua, para seniman dangdut kepada saudara kita yang lain yang tengah diuji dan dicoba oleh Allah SWT. Melalui musik amal ini, bagaimana kita dapat menghadirkan rahmat Allah yang menumbuhkan cinta kepada sesama,” ungkapnya.

Boleh jadi inilah hajat insan musik dangdut terakbar sepanjang tahun ini. Menghadirkan tak kurang dari 150 artis dan 10 grup musik, anggota PAMMI dari Jakarta dan dari berbagai daerah. Para artis pendukung yang hadir nyatanya tidak hanya insan dangdut, tapi juga bintang sinetron dan pelawak. Mendatangkan artis dengan jumlah lebih dari seratus orang bukan perkara mudah, kata Rhoma. Terlebih sebagian besar dari mereka adalah artis penyandang nama besar yang skedul kegiatannya padat.

Namun, nyatanya mereka dapat hadir dan memenuhi konser amal bertema “Buktikan Merahmu! Buktikan Pedulimu!” yang digelar PAMMI dan Gudang Garam ini. “Kita tahu kebanyakan artis cukup sibuk. Tapi kenapa mereka antusias mendukung penyelenggaraan konser ini. Semua ini karena didorong satu tujuan mulia, membantu sesama,” kata Ketua Umum PAMMI ini.

Lebih jauh konser ini, kata Andre Wijaya, Asisten Presiden Direktur PT Gudang Garam Tbk, bertujuan mengumpulkan dana bagi korban bencana alam yang terjadi di Indonesia, antara lain di Aceh dan Nias. Dana tersebut dikumpulkan melalui penjualan album musik dangdut bernuansa kemanusiaan. “Sepanjang sejarah musik dangdut modern di Indonesia, belum pernah terjadi konser sespektakuler ini, yang melibatkan lebih dari 100 artis,” papar Andre, yang mengaku bangga mensponsori acara ini.

Konser digelar sejak pukul 11.00 WIB, mengandalkan alunan suara Cucu Cahyanti, Machica Mochtar, Lusy Andini, Maria Mustafa dan belasan penyanyi dangdut pendatang baru (grup Walet) sebagai tembang pembuka. Menyusul kemudian penampilan para penyanyi dangdut asal Kalimantan Selatan yang dikelompokkan dalam grup Kartika, di antaranya Minawati Dewi, Gadis Mandasari, Ade Nurul dan Leny Arsita.

Meski udara pantai cukup panas, tak menyurutkan para insan dan penggemar musik dangdut untuk terus bergoyang mengikuti irama lagu. Saat konser siang hari, antusias penonton kurang greget. Tapi sore harinya, penonton mulai berjubel hingga larut malam. Panggung berukuran 25 meter x 10 meter dengan tata lampu kurang lebih 25.000 watt dan sound system berkapasitas 30.000 watt, menambah semarak dan gegap gempitanya konser ini.

Rentang waktu konser selama 14 jam nonstop, tentu menjadi catatan tersendiri bagi perhelatan yang dimuarakan sebagai bentuk peduli ini. Konser yang berakhir pukul 24.00 WIB itu, menghadirkan artis penutup Alam “Mbah Dukun”, Vety Vera, Hamdan ATT, Ageng Kiwi, Caca Handika, Ozy Syaputra dan Ricky Likoer.

Raja dangdut Rhoma Irama tampil bersama grup Soneta-nya kebagian sekira pukul 20.00 WIB. Disusul dengan penampilan Ine Chyntia, Imam S. Arifin, Denny Malik, Iis Dahlia, Erie Susan, Meggy Z, Cici Faramida dan Saiful Jamil, yang diiringi Orkes Melayu Mahatidana. Menjelang pukul 22.00 WIB, panggung diisi dengan acara peluncuran album kemanusiaan berjudul “Kita Adalah Satu Untuk Saudaraku.” Menurut rencana hasil dari penjualan album ini, disumbangkan untuk membangun gedung sekolah di Aceh dan Nias.

Tampil juga artis lain memeriahkan konser ini di antaranya Ikke Nurjanah, Kristina, Muchsin Alatas, Iyet Bustami, Mansyur S, A Rafiq, Yus Yunus, Rita Sugiarto, Evie Tamala, Itje Trisnawati, Ayu Soraya, Jaja Miharja, H. Mandra, pelawak Kiwil dan puluhan artis dangdut lainnya ini juga disiarkan langsung oleh Indosiar.

Meggy Z, yang ditemui usai menyanyi mengatakan, masyarakat saat ini menghadapi tantangan besar. Persoalannya tidak hanya menyangkut masalah ekonomi, tapi juga mental dan moral. “Karenanya sebagai seniman, khususnya insan dangdut, kita harus punya kontribusi konkret membantu masyarakat. Salah satunya ya konser amal ini. Paling tidak ikut membangun masyarakat di mana kita berada,” kata Meggy, yang bersyukur konser ini juga dapat menampung kreativitas pedangdut pendatang baru.

Meggy meyakini adanya regenerasi insan musik dangdut yang tumbuh secara natural. Oleh karena itu, Meggy sangat menghargai lahirnya bakat-bakat baru yang kelak diharapkan dapat menjadi artis dangdut profesional. “Kepada mereka inilah kelak estafet perjuangan insan musik dangdut akan diserahkan. Karena itu, para senior hendaknya bersedia membimbing dan memberi kesempatan para artis pendatang baru untuk tampil,” katanya, seraya mengucapkan terima kasih kepada PT Gudang Garam, Indosiar, Musica Studio, Taman Impian Jaya Ancol dan Dinas Kebudayaan Pemda DKI, yang bertindak sebagai sponsor konser amal ini.(Eddie Karsito/”PR”)*** Minggu, 15 Mei 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: