Enjotan Funky James ”Embahnya Soul” Brown


SERENTETAN gubahan funky-disco, soul, dan rhythm & blues (R&B) disajikan oleh James Brown (vokalis, komposer, dirigen, arranger dan produser) bersama kelompok band pendukungnya The JB’S di dalam kesatuan paket persembahan sambung menyambung tanpa jeda di show-nya di perhelatan Festival Internasional Java Jazz, Jumat (3/4) tengah malam hingga melampaui batas pukul 1.15 dini hari.

Sang embahnya musik soul yang sudah berusia di atas kepala enam ini masih prima kondisi fisiknya. Sesekali ia masih menyempatkan diri ber-hustle (menari berlari kecil di tempat) seperti yang kerap dipertunjukkan sebagai ciri penampilannya di tahun 1970-an. Teriakan-teriakan khas James Brown, hit it, all around and around, to the funky power, soul funky power! masih saja menenggarai tingkahnya di pentas. Namun, meski warna vokalnya yang sudah “paten” tetap terjaga, kondisi teriakan napas sang kakek musik funky ini kian terbatas, seiring dengan guratan-guratan yang menghias wajahnya.

“Soul Brother Number One”, julukan lain dari James Brown memasukkan nomor kental funky, “Power of Soul” yang menggenjot energi berhura-hura di sekeliling arena pentas, disambung dengan “enjotan-enjotan” funky berikutnya, “I’m The Soul Man”, sebagaimana yang dicuplik ke dalam album “The Blues Brothers II” (1979).

Seusai lagu-lagu berirama hot, The JB’S menyeling ke kedalaman lagu-lagu berirama blues yang membuai, semacam “Try Me” (album “HOT”, 1975) atau nomor slow yang menjadi citra era berjayanya kelompok cakram rekaman “Motown” di paruh akhir 1960-an, “This Is a Mans, Mans, Mans World”, yang di paruh 1970-an kerap dibawakan oleh Gito Rollies.

“Ini penghargaan buat ‘Si Jenius’ mendiang Ray Charles, sohib saya,” kata James Brown seraya mencoba menirukan vokal khas Ray Charles yang baru-baru ini namanya kembali mencuat usai film auotobiografinya menggaet Oscar melalui aktor terbaik, Jamie Foxx.

Di pemuncak penampilan, James Brown bersama kelompok pendukungnya The JB’S, termasuk lima vokalis latar perempuan dan dua penari bule mengentak melalui nomor wajib “Funky Sound” yang menembus 4 dekade zaman, “I Feel Good (I Got You)”. Nomor ini mulai menjadi hits dunia di tahun 1966 dan salah satu dari 17 lagu James Brown yang duduk di tangga lagu pertama dari top R&B Billboard 40.

Lagu goyang disko di era 1970-an ini, setelah versi awal yang sudah menjadi klasik dan sempat dipopulerkan serta selalu dibawakan dari pentas ke pentas oleh Gito Rollies (kini H. Bangun Sugito) dalam versi kedua muncul di cakram rekaman album James Brown tahun 1975, “The Sex Machine” (“I Said, Nothin But I Feel Good)” yang dikembangkan dengan dukungan irama elektronik disco-funk yang jauh lebih menghentak.

Jumat (4/3) dini hari, mendekati pukul 1.00 WIB di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, James Brown, si “The Godfather of Soul”, embahnya musik soul Amerika dan saat berada di puncak kejayaannya selalu menancapkan julukan The Minister Of New New Super Heavy Funk alias Menteri Pembaruan (Musik) Baru (kelas) Super Funk ini bersama kelompoknya The JB’S –terdiri dari lima pemain gitar, termasuk rhythm dan bass– tiga instrumentalis alat tiup (brass) kembali menawarkan inovasinya, repertoar “Sex Machine” dengan tempo yang dinaikkan hingga nyaris mencapai kecepatan nomor gubahan “Soul Funky Train”, nomor funky disco yang mencuatkan band asuhan James Brown dalam album “Hustle With Speed” ini dalam kancah musik dansa di tahun 1976.

“Sex Machine” James Brown amat akrab di telinga kaum muda angkatan 70-an dan sempat menjadi nomor wajib Ucok Harahap (Ucok AKA) dari Surabaya setiap ia berpentas. Jika Ucok AKA lazimnya tampil hanya mengenakan G-String alias cawat dalam menyampaikan “Sex Machine”, maka Gito Rollies seusai membawakan “I Feel Good” di panggung sering memacu motor gede-nya di sepanjang Jln. Ir. H. Juanda Bandung seraya bertelanjang dada, bolak-balik sebelum mangkal di Jln. Ranggamalela (mantan kediaman aktor Barry Prima).

Lumayan membingungkan juga, jika melihat para belia yang besar kemungkinan belum lahir di era kejayaan James Brown tahun 1970-an, di Jumat malam kemarin, di pentas Plenary Hall Jakarta Convention Center, begitu leluasa dan nikmatnya ikut berjingkrak, bergoyang dan larut ke dalam nomor-nomor soul dan disco-funk.

Maklum, embahnya musik funky yang orisinal memang adalah hak paten yang digenggam James Brown. Kemudian, irama hentakan goyang swing yang diadopsi dengan hentakan irama ketukan funky oleh The JB’S kembali dipopulerkan oleh DJ-DJ di semua disko sedunia sejak medio 1990-an.

Kepopuleran irama goyang funky di tahun 1970-an, ternyata efeknya masih bisa dinikmati oleh generasi berikut di era milenium baru kini. Sekali lagi, terbukti melalui sajian gubahan “Get It Up Off That’s Thing (If That’s Things Is Gonna Better)”, salah satu nomor top James Brown di lantai “ajojing” tahun 1977.

Di dalam kamus jazz, khususnya textbook jazz susunan Joachim E.Berendt yang asal Jerman, nama sang maestro musik Funky-Soul, James Brown disebut sebagai vokalis yang berpegang ke tradisi latar belakang musik gospel (gereja) yang disekulerkan, seperti halnya para penyanyi sezamannya, yakni Wilson Pickett, Little Richard, Otis Redding, Aretha Franklin atau Isaac Hayes dan Barry White.

Di blantika industri musik Amerika, James Brown juga termasuk mengangkat moril dan pamor pemusik kulit hitam yang sempat “tertindas” di eranya, bersama dengan Otis Redding dan kemudian dilanjutkan oleh musisi Stevie Wonder melalui slogan dan semboyan pemicu motivasi melibas pelbagai rintangan hidup, yakni “Say it loud, ‘I’m Black and I’m Proud'”. Dan, James Brown pun kini terus melangkah, melampaui rentang aktivitas pentas lebih dari 39 tahun.

“Godfather of Soul” James Brown ternyata berhasil menjadi pemuncak pementasan hari pertama penyelenggaraan Java Jazz Festival 2005 di Jakarta Convention Center. Apalagi, kualitas vokal dan aksi panggung yang ia tunjukkan bersama band pendukungnya tetap aduhai meski renta mulai menggerogotinya. Satu hal yang terasa hilang dari sosok itu, adalah tarikan napas. Saat tampil, di tengah-tengah lagu, tak jarang ia menyerahkan mikrofon kepada “para pendampingnya”, baik saksofonis, gitaris, drummer, maupun penyanyi latar. Bersamaan dengan itu, Brown tampak tersengal dan hanya berdiri di hadapan keyboardnya. Sesekali, ia memainkan “melodi aneh” dengan mengusung sejumlah genre musik, seperti funky-soul, swing, dan bahkan blues.

Selebihnya, James Brown masih mampu mempertunjukkan kemampuan terbaiknya. Power vokalnya masih renyah terdengar, berbanding lurus dengan kemahirannya beraksi di atas panggung dengan hustle dan salsa. Padahal, kualitas sound system yang mendukung performance Brown tak begitu bagus. Suara yang keluar dari beberapa loud speaker ber-watt besar tak lepas terdengar, seperti “terbekap”.

**

SEJAK jazz diperkenalkan sebagai salah satu genre musik, sejak teknologi pendukung ditemukan, musik menjelma alat komunitas informasi sosial masyarakat industri yang serba konformistis. Tidak seperti zaman keemasan budaya musik klasik dan romantik Eropa, sebelumnya. Di lain pihak, masyarakat yang tak mampu mengapresiasi akan dianggap bodoh serta tak paham kebudayaan. Saat itulah muncul jazz. Karena “tabiatnya”, tak heran jika jazz dipercaya untuk memberikan rasa baru kebebasan. Apalagi, sejak awal, motto jazz adalah kebebasan dan pembebasan.

Selain James Brown, itulah pula sepertinya yang dimaksud George Duke, Laura Fygi, dan Tania Maria meski masing-masing mengusung karakter jazz yang berbeda. George Duke, musisi tambun asal California Amerika Serikat, tampil memamerkan bagaimana spirit dan energi jazz yang bisa menjadi sebuah pukau dan sihir, selama kurang lebih 1,5 jam. Menggunakan organnya, Duke membuat lompatan dan improvisasi nada-nada mengejutkan dalam tempo tak terduga, saling melapis menjadi interaksi musikal yang mengundang decak kagum dan (tentu saja) histeria penonton.

Di ruangan lain, penyanyi kelahiran Amerika Latin, Laura Fygi pun berhasil merengkuh antusiasme penonton ketika tampil selama satu jam di Assembly Hall 1 Jakarta Convention Centre. Aksi panggung dan kualitas vokalnya, benar-benar mampu membetahkan ratusan penonton yang memadati ruangan tersebut. Saat dia tampil, tak terdapat sedikit pun celah bagi penonton untuk berpaling meski sebentar. Apalagi, di antara satu lagu dengan lagu lainnya, Laura melontarkan joke-joke segar kepada penonton.

Dalam khazanah musik dunia, Laura dikenal sebagai Ratu Jazz. Apalagi, dia memang merupakan pewaris dari deretan panjang penyanyi pada masa kejayaan jazz dahulu. Pencapaian range vokalnya bisa disetarakan dengan Whitney Houston. Namun, dalam hal penyampaiannya kepada khalayak, ia mirip dengan Billie Holiday atau mungkin Sarah Vaughan. Agak sedikit serak, menggairahkan, serta sangat mahir dalam hal mengontrol tone.

Kualitas dan virtuoso yang sama juga sangat terasa dalam penampilan musisi eksentrik Tania Maria. Permainan piano dan penjelajahan imaji-imaji musikalnya yang kaya pada organ, menciptakan suasana pertunjukan yang hidup. Belum lagi interaksi perkusi yang atraktif dan kedutan-kedutan bass yang mengendap berat namun bertenaga.

Dengan karakter vokal dan performance-nya yang impulsif dalam warna jazz Afro-Latin yang kental, sepanjang penampilannya, penonton nyaris tak henti-henti memberi applaus. Bahkan dengan sangat akrab, mereka masuk mendendangkan lirik-larik lagu Tania. Bahkan penonton masih serempak meneririakkan We want to more! ketika telah berakhir. Akhirnya Tania dan personelnya kembali tampil membawakan sebuah nomor pamungkas yang energik. (Tim “PR”)***Minggu, 06 Maret 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: