George Duke Jazz, Penuh Sihir dan Energi


PUKAU dan sihir George Duke Jazz adalah energi, pukau dan sihir yang membebaskan“. Ungkapan itu bisa saja berlebihan. Tapi mungkin tidak untuk penampilan George Duke. Di hadapan publik jazz yang memenuhi Plenary Hall Convention Centre Jakarta, Jumat (4/3) malam, selama lebih kurang 1,5 jam, musisi jazz asal California (AS) itu, tampil memamerkan bagaimana spirit dan energi jazz yang bisa menjadi sebuah pukau dan sihir. Lompatan dan improvisasi nada-nada yang mengejutkan, dan tempo yang tak terduga saling melapis menjadi interaksi musikal yang mengundang decak kagum dan histeria penonton.

Tampil dari arah kanan panggung, musisi bertubuh tambun yang pada tahun 1999 oleh Keyboard Magazine dinobatkan sebagai “R&B Keyboarding of The Year” ini, langsung disambut oleh riuh tepuk tangan. Setelah menyapa akrab penonton dan mengajak mereka merespons salah satu senandung lagunya, ia langsung menuju keyboardnya. Maka mengalirlah sebuah nomor energik dengan melodi yang cepat.

Dengan penampilannya yang ekspresif, di tangan Duke organ sesekali meraung dan berkelit ke arah nada lembut, yang berinteraksi dengan cabikan bas. Pada beberapa bagian, teknik permainan mereka tak hanya menghadirkan sebuah skill, tapi juga bagaimana instuisi musikal saling berdialog. Sebuah permainan yang cepat dan dinamis, yang menyuguhkan lompatan-lompatan serta improvisasi yang tak terduga. Sementara itu, drum melapisinya sayup-sayup, untuk kemudian dilepas sendiri. Ketukan, roffel, dan hantaman pada bass drum dan sabetan simbal, masuk ke dalam harmonisasi estetika bunyi yang membuat penonton histeris, berkali-kali memberi aplaus.

Bahasa tubuh George Duke adalah bahasa jazz. Di depan organnya, instrumental pop, jazz pop, dan warna funk saling membayang. Demikian juga dengan nuansa Jazz Braziliannya, atau jazz intersections dan smoth yang manis. Semuanya dimainkan lapis-melapis.

Tekstur musikal yang disuguhkannya dalam “Jakarta International Java Jazz” semalam adalah warna dan rasa yang telah dikenal oleh publik. Sebuah tekstur musikal yang tak hanya bertenaga, tapi juga menyuguhkan estetika bunyi yang menyimpan ekspresi kebebasan.

Pada nomor lain, Duke pun menyuguhkan sebuah nomor manis dengan nuansa Brasil yang kuat. Pada nomor ini harmonisasi demikian terukur. Nuansa Latin menggelincir di permukaan tuts organnya, mengalir dalam nada-nada rendah namun bertenaga.

Sementara itu, di Assembly Hall, dalam format Etnik Jazz, Sujiwo Tejo tampil berkolaborasi dengan basis Bintang Indrianto. Tejo mencoba mengusung jazz dalam warna dan performance yang berbeda. Ia menyatukan pertunjukan jazz dengan tari dan wayang kulit. Pada nomor “Blakotak”, misalnya, Tejo berinteraksi dengan para punakawan di balik layar. Tak hanya berdialog, tapi juga memainkan musik mulut yang nge-jazz.

Nomor ini dibuka dengan komposisi etnik jazz yang menarik. Sayang tampilnya para penari, agak mengganggu, karena penampilan mereka tak memberi aksentuasi apa pun, selain hanya menggerakkan tubuh.

Sebenarnya, tak hanya George Duke yang mampu memikat khalayak, semalam. Penyanyi asal Amerika Latin, Laura Fygi pun berhasil merengkuh antusiasme penonton ketika tampil selama satu jam di Assembly Hall 1 Jakarta Convention Centre. Aksi panggung dan kualitas vokalnya benar-benar mampu membetahkan ratusan penonton yang memadati ruangan tersebut.

Saat dia tampil, tak terdapat sedikit pun celah bagi penonton untuk berpaling meski sebentar. Apalagi, di antara satu lagu dengan lagu lainnya, Laura melontarkan joke-joke segar kepada penonton. Sampai suatu ketika, dia berhasil membuat riuh penonton dengan ucapan, “Bandung is much better”.

Sebelumnya, di ruangan yang sama, Elfa’s Bossas juga mampu menerbitkan decak kagum. Selama satu jam, Elfa Secoria dkk. mampu menghibur penonton dengan adonan musik yang memang sangat renyah. Apalagi, kwartet penyanyi perempuan yang terdiri dari Lita Zein, Uci Nurul, Yuyun, dan Vera tampil maksimal. Selama tampil, mereka membawakan sejumlah lagu dari tokoh musik bossanova seperti Antonio Carlos Jobim dan Sergio Mendez.

Meskipun mengusung jenis bossanova, ternyata dalam penampilannya, tak jarang tercium “aroma” swing, waltz, dan bahkan reggae. “Aroma” swing tercium ketika kwartet itu membawakan lagu “Shadow of Your Smile”. Sementara itu, nuansa reggae terasa ketika Lita dkk. membawakan lagu Sergio Mendez berjudul “Parto Mossunado”. Tak hanya lagu-lagu dalam beat lambat, Elfa’s Bossas juga membawakan lagu-lagu yang up beat, seperti “Adios America”.

Di ruangan lainnya, Merak Room 1 dan 2, penyanyi Lizz Wright juga mampu mendapatkan antusiasme yang sama. Dia mampu menawarkan sebuah “rasa” lain dalam pementasannya. Jenis musik yang ia bawakan begitu halus, lembut, dan dalam range vokal yang tidak luas. Kendati demikian, Lizz Wright pintar sekali memain-mainkan tangga nada dengan suaranya.

Akan tetapi, secara keseluruhan, terjadi ketimpangan dalam pementasan perdana “Jakarta International Java Jazz Festival 2005”. Dari sebelas panggung yang disediakan, hanya beberapa yang dipadati penonton. Rata-rata, di panggung-panggung tersebut, menampilkan musisi asing. Sementara itu, panggung-panggung yang menampilkan musisi jazz Indonesia sepi pengunjung.

Sebagai contoh adalah pementasan The Groove, Rieka Roslan, dan Marcel di Cendrawasih Room. Hanya segelintir orang yang menyaksikan pertunjukan mereka. Tapi apa mau dikata, inilah Indonesia.(Hazmir/Noe Firman/Rayendra Alamsyah/Gelora Sapta/”PR”/Ahda Imran)***Sabtu, 05 Maret 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: