“Java Jazz” Sisakan Pesan Persaudaraan


SEIRING temaramnya kilau lampu di 11 panggung, perhelatan akbar insan jazz yang berlangsung sejak Jumat (4/3), berakhir tadi malam. Dinamika nada yang berbaur dengan karakter musik dari 300 musisi lokal dan internasional serta tepukan tangan penonton, yang selama tiga malam berturut-turut memenuhi atmosfer Jakarta Convention Center (JCC), juga tak lagi terdengar. “Jakarta Internatioanl Java Jazz Festival 2005” memang telah usai. Namun, spirit jazz agaknya tetap menggema dan menjelma menjadi semangat persaudaraan yang universal. Seperti dituturkan penyanyi kulit hitam asal Amerika Serikat, Angie Stone, yang semalam tampil di Plenary Hall, “Kami datang dengan cinta, perdamaian dan persaudaraan. Rasa persaudaraan yang kami terima akan kami bawa, dan persaudaraan di hati kami milik Anda semua.”

Penyanyi yang terkenal dengan lagu-lagu bercorak R&B seperti “Seem You’re Much Too Busy” dan “I Wanna Thank You” itu memang berhasil memanfaatkan momen “Java Jazz” untuk mengingatkan publik bahwa cinta, perdamaian, dan persaudaraan harus tetap menjadi sikap hidup siapapun dan di manapun. Dengan demikian, pentas “Java Jazz” tidak melulu sebagai ajang pertemuan musikal, tetapi juga sekaligus wahana dialog untuk mengampanyekan soal-soal kemanusiaan.

Terlepas dari isu yang secara tidak langsung diusung para musisi jazz itu, “Java Jazz Festival” bagaimanapun telah menorehkan harapan bahwa musik juga bisa berperan sebagai media persaudaraan. Buktinya, meski para para musisi itu datang dari negara berlainan dengan suguhan musik yang berbeda, mereka bisa bersatu dalam harmoni nada yang menarik untuk diapresiasi.

Angie Stone, vokalis muda R&B yang sarat bakat ini memang memiliki karakter vokal melengking dan serak basah, khas tipikal vokal perempuan hitam Amerika. Penampilannya yang bersahaja di pentas Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC) Minggu (6/3) malam memperoleh sambutan meriah, terutama dari belia (remaja putri) yang mengenalnya melalui nomor tembang duetnya bersama vokalis wanita blues yang tengah naik daun, Joss Stone.

Tehnik vokal serta gaya berkomunikasi intens Angie di pentas mengingatkan penikmat musik kepada style yang oleh generasi seniornya dimanfaatkan oleh Millie Jackson atau Dionne Warwick atau Diana Ross. Bermesra-mesra dengan nada-nada kalimat yang umumnya menyentuh kepribadian dan keseharian kaum hawa, Angie Stone dengan leluasa menggiring publik penontonnya ke irama-irama lamban yang membuai, menyejukkan suasana sekaligus mengakrabkan dia ke publiknya lebih mendalam lagi.

Di sektor band pengiringnya pun yang cenderung membangun harmoni yang manis dengan permainan R&B yang ringan serta jernih, menopang karakter nyanyian Angie yang memang mendekati gaya Millie Jackson dan sedikit pengaruh kelincahan serta keserakan nada tinggi yang lazim dilantunkan oleh vokalis Chaka Khan.

Berbeda dengan subyek harmoni Joss Stone yang lebih mengekor kepada materi-materi yang pure blues sebagaimana yang diuapayakn oleh Janis Joplin sebelumnya, maka Angie Stone berada di luar khasanah cakupan R&B The Rolling Stone dan genrenya, namun lebih menggali melodi-melodi koor gaya Gospel serta memadukannya secara apik ke dalam gubahannya.

Dalam ruangan yang berbeda, Assembly Hall 1, musisi asal Amerika Serikat Jeff Lorber Quartet menyajikan sejumlah nomor berbeat cepat dengan dukungan sound keras, bak band rock tahun 1980-an. Solois flute yang bergantian dengan tenor saksofon mencoba mengimbangi Lorber yang mayoritas bermain keyboard, namun sesekali juga coba melengkingkan suara gitar Fender merahnya. Nomor-nomor fusion era 1980-an kembali mengisi lembaran penampilan Lorber di pentas JJF 2005 di Jakarta, sesuatu sajian yang cukup menjenuhkan dan bisa dibilang tak menuai inovasi berarti bagi seorang Lorber, bintang musisi session di balik studio industri rekaman dunia.

Lorber termasuk jajaran artis jazz yang dikenal publik internasional sebagai pencetus keyboards selaku instrumen kunci di kancah fusion jazz, bersama dengan antara lain, Chick Corea, Stu Goldberg, Jan Hammer, George Duke, Joe Zawinul, Bob James, Dave Grusin, atau Dave Sancious.

Gubahan komposisi Lorber memang berkisar ke upaya integrasi jazz dan rock yang tahun 1970 – 1980-an lama di nanti-nantikan publik, namun untuk ukuran milenium baru tentu sudah membosankan. Mengingat pelbagai kelompok seperti “Return To Forever”-nya Al-Dimeola-Stanley Clarke-Chick Corea atau GRP-nya Grusin sudah menguras kurun eksplorasi jenis fusi yang serupa modelnya. Konsep pendekatan Lorber untuk tahun 2005 rupanya hanya mematangkan tehnik permainan personil pendukungnya, terutama di sektor drum dan bass. Namun sumbangan vokalis tuan rumah Andien dalam nyanyian berbahasa Indonesia cukup menjalin komunikasi publik meski secara musikalitas keseluruhan tetap hambar.

Meski kualitas solo 9 keyborad Lorber cukup memikat, buat penikmat musik jazz kamar yang lebih serius cenderung kecewa, karena membandingkan dia dengan kepiawaian komposisi jazz kontemporer murni Eropa yang ditawarkan oleh gitaris Volker Kriegel, saksofonis Klaus Doldinger ataupun keybordis Jasper van t’Hof’s.

Di stage I lobi JCC, Minggu (6/3) siang, sebuah eksplorasi menarik disuguhkan oleh kelompok Kul-kul. Seperti kelompok Krakatau yang mengolah idiom-idiom musik Sunda, kelompok ini mencoba berangkat dari spirit etnik jazz yang memasukkan warna musik Bali. Pertemuan antara gamelan Bali (Timur) dan materi musik Barat hadir menjadi kesatuan yang memikat dalam menemukan kemungkinannya persinggungannya dengan estetika jazz. Dan dari sejumlah nomor yang mereka mainkan, terasa bahwa kemungkinan itu telah ditemukan. Sebuah warna jazz dengan karakternya yang berbeda. Karakter yang liat dan penuh interaksi yang tak terduga.

Nuansa musikal yang mereka suguhkan lebih dari sekadar berkesan menjadi semacam eksotism music. Tapi menawarkan gagasan tentang hubungan antara jazz dan kebebasan. Gendang dan gending Bali yang serentak cepat dalam tempo yang tinggi dan beralih-alih, saling melapis dengan violin, keyboard, dan gebukan drum. Suguhan kelompok ini mendapat aplaus yang hangat dari para penonton yang lesehan.

Nuansa etnik yang dibalut dengan adonan Jazz pun terasa di Ruang Merak 1, tempat Tamam Hoesein & Friends tampil. Dalam beberapa menit, sebagai pembuka pementasan, para personel – termasuk Tamam Hoesein– mempertunjukkan kemahiran masing-masing dalam menjelajahi nada dan kemudian menyulamnya menjadi Jazz yang dinamis. Setelah itu, sejumlah repertoar lagu daerah dimunculkan secara medley dan bermula dari “Haela Hoyen” (NAD) dan “Pakarena”

(Makassar).

Tetsuo Sakurai, musisi Jazz Jepang yang terkenal dengan cabikan basnya, tampil di ruang Cendrawasih yang dipenuhi oleh para penggemarnya. Nama Tetsuo Sakurai bukanlah nama yang asing buat publik jazz Indonesia. Dan seperti mengerti benar hal itu, Sakurai benar-benar memuaskan kepenasaranan penggemarnya. Bersama Greg Howe (gitar), Dennis Chambers (drum), dan Akira Onozuka (keyboard), Sakurai memainkan beberapa nomor yang menarik, termasuk dalam warna jazz yang kuat. Permainan bass sakurai memang layak diacungi jempol. Gelombang cabikan bassnya sesekali mengendap padat, lalu dilepas dalam kocokan yang menggeram panjang.

Di ruangan lain, Assembly Hall 3, tokoh senior musik Jazz Indonesia asal Surabaya, Bubi Chen tampil. Kekuatannya dalam memainkan tuts-tuts piano masih sangat terasa meski kini usianya tak lagi muda. Sesekali, irama yang ia buat begitu mendayu berayun-ayun. Namun, dalam rentangan waktu tertentu, Bubi Chen mampu menyulap irama-irama yang ia buat demikian garang.

Sesekali, terasa pula melodi yang ia mainkan begitu menyayat. Akhirnya, “konferensi tingkat tinggi” musisi Jazz dunia berakhir dan ditutup oleh “Godfather of Soul”, James Brown. Peter F. Gontha berjanji akan mencatatkan kegiatan tersebut ke dalam agenda tahunan. Banyak catatan yang sebenarnya perlu disampaikan kepada pihak penyelenggara, mulai dari persoalan tidak bersahabatnya suasana yang diciptakan, hingga kesalahan menempatkan musisi pada sebuah ruangan tertentu. Dengan menafikan semua itu, bravo Jazz Indonesia!(Tim “PR”)***Senin, 07 Maret 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: