Jazz dan Publik yang Wangi


SEPERTI yang lain, tubuh gadis cantik itu tak mau diam. Melonjak-lonjak kecil dengan kedua tangan yang bergerak-gerak ke atas. Sesekali, seperti yang lain juga, ia berteriak histeris memberi aplaus. Matanya yang berbinar-binar tak lepas menatap panggung, di mana penyanyi dan pianis terkenal Tania Maria sedang beraksi. Penampilan perempuan setengah baya di Assembly Hall Jakarta Convention Centre (JCC), Jumat Malam (4/3) dengan suguhan jazz afro-Latin dan pop yang impulsif, penuh warna, dan kaya imrovisasi ini, benar-benar membuat gadis cantik itu larut ke dalam suasana pertunjukan. Tak jarang ia bergumam mengikuti potongan lirik lagu. Terlebih lagi ketika Tania melantunkan tembang terkenalnya “Come With Me”.

Gebukan drum, cabikan bass dan rentetan pukulan serta sabetan simbal yang apik, atau performance Tania yang energik, adalah kekuatan bahasa musik yang menularkan sensivitas respons ke dalam tubuh para penikmatnya. Seperti gadis itu, yang tak perduli dengan rambut lurusnya yang mengenai wajah dan pundak seorang fotografer yang berdiri di sebelahnya. Rambut dan tubuhnya yang wangi, mungkin menjadi alasan mengapa si fotografer tidak perlu merasa terganggu.

Sementara itu di sudut yang lain, seorang perempuan setengah baya dengan jas batik, juga tak mau diam. Kakinya bergerak-gerak, tapi dengan respons yang agak malu-malu.

Di sebelahnya sang suami tampak lebih atraktif, sambil sesekali merangkul bahu istrinya, seperti yang dilakukan oleh pasangan di depannya. Tania Maria terus menggedor respons para penonton, seolah-olah tak memberi tempat orang untuk hanya sekadar diam menikmatinya.

Dan seperti penampilan Tania Maria, penyanyi cantik populer Laura Fygi yang tampil sebelumnya di tempat yang sama juga disambut dengan antusiasme publik yang menarik.

Pukau sensualitas penyanyi bersuara serak menggairahkan dengan sentuhan Latin jazz yang lembut ini, benar-benar membuat para penikmat jazz tak hanya memberi respons dengan mengikuti lagu. Tapi juga tak henti-henti menggerakan tubuh. Terutama ketika Laura Fygi membawakan tembang populer “Kissas-kissas”. Lagu ciptaan Antonius Carlos Jobim ini, pertama kali dinyanyikan oleh Astrud Gilberto pada sekira tahun 1960-an dalam warna bossanova.

Mungkin terlalu pagi untuk mengindentifikasi bagaimana sesungguhnya karakter publik jazz Indonesia lewat penyelenggaraan Jakarta International Java Jazz ini. Tapi, paling tidak sejak hari kedua, tampak siapa sesungguhnya mereka. Mereka adalah generasi anak-anak muda kosmopolitan yang rapih dan wangi, paling tidak mereka yang menjadi publik kebanyakan. Publik yang atraktif dan ramah berkomunikasi dengan para penampil. Mereka adalah generasi kafe yang datang dengan penampilan yang manis dan wangi.

Di lobi JCC, mereka duduk lesehan di lantai dan lalu-lalang memilih stage yang disukai, dengan rata-rata berkelompok, atau bersama pasangannya. Bagi mereka, nama penampil lebih menarik ketimbang dibebani oleh semacam apresiasi musik. Kenyataan inilah yang membuat sejumlah penampil lokal di stage-stage yang terletak di lobi tampak kurang menjadi minat mereka. Jika pun mereka mendekatinya, terkesan hanya sekadar membuang waktu, menunggu jadwal pertunjukan di stage yang telah dipilihnya.

Pilihan mendatangi suatu stage secara tak langsung, juga menjelaskan kedekatan dan tingkat apresiasi mereka pada si penampil. Lihatlah, bagaimana ketika James Brown dan Tania Maria tampil dalam waktu yang bersamaan. Mayoritas anak-anak muda yang wangi dan manis itu, lebih tersedot menyaksikan penampilan Tania Maria. Tak jelas apakah hal ini menunjukkan bahwa apresiasi terhadap James Brown lebih didominasi oleh publik jazz yang lebih tua dan penuh nostalgia.

Perkembangan musik jazz, memang tak bisa dipisahkan dari fashion, seperti yang dikatakan oleh Indra Lesmana. Dan itu tak hanya terasa dari olahan dan warna musikalitasnya. Tapi juga dari perkembangan publiknya. Publik yang juga hidup dalam sebuah budaya fashion. Dan mereka adalah generasi anak-anak muda eksklusif perkotaan yang manis dan wangi.

Yang datang menonton dengan sensivitas respons yang energik. Tak mau diam, sampai rambutnya mengenai orang di sebelahnya, seperti gadis cantik di sebelah fotografer itu.(Tim “PR”)***6-3-05

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: