Jejak Harry Roesli Dalam Ruang yang Riuh


JIKA jejak seorang seniman terletak pada karya-karyanya, ini pula yang mesti diberlakukan bagi musisi kondang seperti Harry Roesli (1951-2004). Ketika jejak itu hendak diingat dan dikenang, maka yang berlaku adalah bagaimana menafsirkannya sehingga bisa dihadirkan. Dengan kata lain, membaca dan menghadirkan karya-karya Harry Roesli merupakan persoalan tentang bagaimana upaya tafsir dilakukan. Termasuk bagaimana tafsir itu dihadirkan sehingga menjadi sebuah peristiwa. Dan ketika tafsir itu dihadirkan sebagai peristiwa pertunjukan, maka persoalannya lagi, bagaimana menghadirkannya dan di mana peristiwa penafsiran itu terjadi.

Hal ini tak bisa dihindari, terlebih ketika keingingan untuk menghadirkan jejak Harry Roesli itu dibebani oleh semacam keinginan memasuki spirit ruang proses kreasi karya-karyanya sebagai sebuah penghormatan dan penghargaan. Membaca, menafsir, dan menghadirkan kembali jejak-jejak karya serta kiprah Harry Roesli inilah yang dilakukan oleh sejumlah musisi Bandung dengan menggelar acara bertajuk “Reuni Musisi Bandung Tribute to Harry Roesli”, Rabu Malam (2/3) yang lalu di Fame Station Bandung.

Ini memang menarik. Bukan hanya telah menjadi sewajarnya mereka, para musisi Bandung itu membaca dan mengenang kembali jejak seorang Harry Roesli. Bahkan telah menjadi seharusnya. Sosok dan kiprah Harry memang tak bisa dipisahkan dari denyut perkembangan musik di kota tempat di mana ia lahir dan menetap. Dalam konteks perkembangan dinamika dan fenomena musik, serta munculnya generasi-generasi baru para musisi di Bandung, Harry Roesli tak bisa dilewatkan, untuk mengatakan tak bisa dipisahkan.

Selain itu, acara ini pun menjadi sekaligus ajang reuni para musisi Bandung. Maka hadirlah nama-nama seperti Dewi Gita, Rif/, atau Rida dan Sita “RSD”, selain juga Uci Wibie, The Cat, serta kelompok 4 Peniti. Seluruhnya, tak hanya mampu menafsirkan jejak-jejak Harry dalam penampilannya, melainkan juga penampilan mereka bisa menjual. Dan inilah yang agaknya terjadi.

Naluri show biz yang paling sederhana pun akan dengan mudah menyebutkan bahwa kehadiran deretan penyanyi-penyanyi itu ditambah nama Harry Roesli adalah sebuah peluang yang manis.

Tak salah memang, bahkan wajar saja rasanya. Hanya kemudian, ada yang tiba-tiba terasa lepas, yakni suasana yang kehilangan daya refleksinya atau mungkin kontemplasinya. Ruang perlahan-lahan menjadi lebih didominasi oleh suasana hiburan.

Ini agaknya memang sebuah risiko sebab ruang di mana seluruhnya berlangsung menyimpan jejaknya sebagai sebuah pub. Sajian musik dan performance para penampil telah cukup menegaskan bagaimana mereka menafsir jejak karya-karya Harry. Namun, ya, itu tadi, interaksi psikologis penonton dan ruang pub menjadikan suasana kerap riuh rendah. Orang pun lalu lalang dan berdiri bergerombol dengan lampu yang remang-remang.

Dan inilah yang membedakannya dengan 40+3 Harry Roesli di Dago Tea House beberapa waktu yang lalu, di mana seluruh kemasan acara mengantarkan orang untuk tidak merasa sedang memperingati 43 hari wafatnya Harry, tapi justru tengah merayakan hidupnya. Menafsir jejak-jejak karya Harry dengan penampilan para penyanyi beken, juga adalah merayakan proses kreasi yang telah ditempuhnya. Namun, tempat di mana tafsir itu dihadirkan juga ternyata sangat menentukan.

Sebenarnya menafsir jejak karya dan kiprah Harry telah terbangun pada bagian-bagian awal. Pemutaran kembali dokumentasi konser dan sosok Harry adalah sebuah strategi yang cerdik untuk mengondisikan suasana pengunjung. Demikian pula dengan penampilan Uci Wibie yang membawakan “Tegar”. Dalam tafsir vokal penyanyi yang tampil berpakaian serba hitam ini, lagu yang diciptakan Harry tahun 1975 itu terasa hidup dengan tekanan pada aksentuasi liriknya dan struktur tempo yang terukur.

Hal demikian dengan menguak kembali kiprah Harry lewat kelompok Kharisma. Kelompok ini merupakan jejak Harry pada sekira tahun 1970-an. Menurut Harry Pochang, salah seorang senior DKSB, kelompok yang dilatih oleh Harry Roesli yang seluruh anggotanya adalah siswa SMA 1 Bandung ini merupakan awal dari kebangkitan genre vokal group. Dan kelompok ini telah menghasilkan dua album.

Dari 15 anggota dulunya, termasuk Kania Handiman—istri Harry—dengan 5 anggotanya hadir malam itu, Kharisma tampil sebagai sebuah reuni. Dan kemampuan olah vokal mantan remaja-remaja tahun ’70-an itu memang masih menyimpan jejaknya. Mereka membawakan sebuah lagu karya Harry, “Nafas Pelangi,” yang terdapat dalam album kedua mereka.

Tafsir jejak karya Harry Roesli juga dilakukan oleh kedua putra kembarnya, Hami dan Yala dalam formasi kelompok Hami Yala Band . Pada nomor “Kaki Langit” tafsir olahan musikal keempat anak muda ini cukup memikat, meski ada sayup-sayup ketaksabaran menjaga tempo. Gebukan dan variasi drum Yala, cukup membuat permainan mereka hidup dan membangun komposisi yang dinamis, terutama pada pertengahan lagu dan refrain. Hanya sayangnya, vokal Hami terasa terlalu lunak sehingga lirik yang menjadi kekuatan lagu-lagu Harry, nyaris tak terdengar jelas karena lebih mirip suara gumaman.

Sementara itu, penampilan kelompok 4 Peniti dengan menafsir lagu “Jangan Menangis Indonesia” merupakan tafsir yang menarik. Biola, bas mayor, dan permainan gitar akustik hadir dengan struktur musikal yang lembut dan mengendap, lalu perlahan menjelajah ke tempo yang tinggi. Penampilan mereka pun menjadi atraktif dan mempertegas aksentuasi liriknya. Dan ini juga yang terasa dalam penampilan kelompok The Cat, dengan performance dan warna musik mereka yang rada-rada nge-rock. Dalam tafsir mereka, lagu “Keringat”, seakan-akan memiliki karakter dan tenaganya yang lain.

Sementara itu, penampilan Dewi Gita sendiri malam itu terasa hambar. Lagu “Burung Camar” karya Harry yang liriknya sangat menyentuh, yang mengungkapkan persoalan kekerasan dan nasionalisme, dalam warna dan karakter Dewi Gita, terasa tidak muncul geregetnya.

Ketika hari semakin malam, para pengunjung bertambah padat. Suasana, entah dari mana mulanya, tiba-tiba mencair, kehilangan daya refleksi dan konsentrasinya. Dan tafsir atas jejak karya Harry pun terus berlangsung dalam sentakan-sentakan musik dan suasana pub yang riuh. (Ahda Imran)***PR-Sabtu, 05 Maret 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: