Kemeriahan Jazz Hadir Kembali


KEMERIAHAN itu hadir kembali. Setelah hampir delapan tahun tidak terdengar, publik penikmat jazz kini bisa menikmati lagi olahan dan improvisasi nada serta performance sejumlah musisi kawakan. Rasa haus akan suguhan musik berkualitas pun langsung terpuaskan, karena yang hadir dan memberi sajian tidak hanya insan-insan jazz lokal ternama, tapi juga beberapa seniman yang sudah malang melintang di blantika jazz dunia seperti Deodato, Incognito, Earth, Wind and Fire, Tania Maria, Eric Bennet dll., serta Raja Soul James Brown.

Digelarnya kembali pentas jazz internasional, yang kali ini dinamai Jakarta International Java Jazz Festival, memang seakan membuka kembali catatan yang mencantumkan Indonesia sebagai salah satu negara yang pernah memiliki “ritual” jazz bertaraf dunia. Publik jazz tanah air tentu ingat, betapa kegairahan kerap terpancar dalam setiap even tahunan, Jakarta Internasioal Jazz Festival (JakJazz) hingga 1997.

Umur JakJazz memang tidak panjang. Tapi, pada hakikatnya, jazz tetap hidup. Buktinya, irama jazz tetap terdengar, meski agak sayup-sayup. Bahwa nasional masih eksis, bisa dilihat di sejumlah tempat yang memang setia menyuguhkan jazz, misalnya di kafe-kafe, klub jazz, dan kampus-kampus. Eksistensi itu juga diperkuat lahirnya album jazz, meski jumlahnya memang sangat sedikit tapi mendapat sambutan cukup hangat, seperti album milik Indra Lesmana “Rumah Ketujuh” dan “Reborn”.

Dalam perspektif industri musik tanah air, jazz memang bukan musik yang menjanjikan peroleh materi bagi para pengusungnya. Tak heran jika para musisi jazz lebih banyak berkeliaran di dalam komunitasnya sendiri. Bukan pemandangan aneh, apabila dalam sebuah pertunjukan musik jazz, yang hadir itu-itu juga. Mereka saling mengapresiasi dalam jumlah terbatas. Bagi mereka para pencintanya, jazz memang sebuah gaya hidup, sebuah kebutuhan batin. Jadi, sesuai kodratnya yang penuh improvisasi, jazz tetap bisa dinikmati kendati dalam ruang yang serba terbatas.

Hadirnya kembali festival jazz berskala internasioal, tentu saja membahagiakan. Betapa tidak, di tengah maraknya perkembangan musik (industri), jazz tidak tenggelam. Ribuan penonton yang menyaksikan penampilan sedikinya 300 musisi jazz di 11 panggung di Jakarta Convention Centre selama tiga malam berturut-turut, 4-6 Maret ini, menjadi salah satu bukti bahwa musik jazz tetap ditunggu dan tentu saja diminati.

Jakarta International Java Jazz Festival, memang bukan sekadar sebuah pertemuan musikal. Mereka juga kumpul untuk berdialog dalam satu bahasa, bahasa musik. Apabila dalam pertemuan itu muncul situasi yang timpang, misalnya satu panggung dijejali pengunjung, tapi panggung lainnya sepi penonton, bisa jadi hal itu bukan disebabkan “bahasa” musiknya yang kurang menarik, tetapi boleh jadi pada ketertarikan siapa yang menyampaikan “bahasa” itu.

Ketika penyanyi muda Indonesia, Marcell, atau The Groove tampil di Ruang Cendrawasih, misalnya, jumlah penonton terhitung sedikit. Tapi toh mereka tetap menyuguhkan sajian musik yang enak diapresiasi. Lain halnya ketika diva gaek Tania Maria atau James Brown tampil. Panggung mereka dijejali penonton. Persoalannya mungkin bukan dari materi musik yang mereka suguhkan. Tapi, itu tadi, penonton agaknya ingin menikmati bagaimana dua musisi itu menyajikan musik dengan gaya dan karakternya.

Mengutip pernyataan penggagas Jakarta International Java Jazz Festival, Peter F. Gontha, “Musik jazz sering diasumsikan sebagai musik yang berat dan hanya diminati oleh kalangan tertentu…”, agaknya memang benar. Namun, musik jazz telah berubah sesuai zaman, karena jazz, juga musik jenis lain, tidak statis. Musik jazz itu dinamis, selaras dengan jiwa jazz itu sendiri.

Jadi, sebagai sebuah festival berskala internasional, Jakarta International Jazz Festival bolehlah dijadikan harapan tidak saja sebagai ruang berekpresi bagai para musisi, tetapi juga ruang apreasiasi bagi publik penikmat musik, yang tidak berbatas. (Tim “PR”)***6-3-05

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: