Konser 318 Artis untuk Aceh

SECARA bergelombang, rombongan artis tiba di Pantai Carnaval Ancol Jakarta Utara, Ahad (9/1). Begitu bus yang membawa rombongan artis berhenti, ratusan penonton berkerumunan. Berdesak-desakan mereka memadati tepi-tepi pagar pembatas antara penonton dan pengisi acara yang terletak di samping kanan panggung. Begitu mengetahui nama mereka dielu-elukan, para artis hanya melambaikan tangan dari kejauhan.


HEIDI Yunus melantunkan lagu “Istighfar” dalam konser kemanusiaan peduli Aceh-Sumut di Pantai Karnaval Ancol Jakarta, Minggu (9/1). Lebih dari 300 artis menyumbangkan suaranya dalam konser yang hasil penjualan tiketnya akan disumbangkan bagi korban gempa dan tsunami di NAD dan Sumut.*HARRY SURJANA/”PR”

Tatkala bus-bus yang membawa rombongan artis itu keluar-masuk lokasi Pantai Carnaval, “Konser Kemanusiaan” tetap berlangsung meriah, meski mengusung tema sendu kepedulian terhadap para korban bencana tsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatra Utara. Ya, sejak pukul 12.00 WIB konser itu diadakan untuk menggalang dana kemanusiaan bagi para korban. Tak kurang dari 318 artis melibatkan diri dalam kegiatan yang berlangsung selama 12 jam nonsetop tersebut.

Beberapa jam sebelum acara dimulai, ribuan penonton memadati kawasan tersebut. Apalagi, mereka hanya ditarik uang Rp 10.000,00 untuk dapat mengantongi tiket masuk dan menikmati sajian musik selama 12 jam penuh plus suasana pantai yang indah. Pukul 12.00 WIB, konser dibuka oleh dua grup band sekaligus, “Sheila on 7” dan “The Fly“.

Sejak itu, kesan yang terasa di seluruh kawasan Pantai Carnaval –sepanjang konser berlangsung– jauh dari sendu. Semua tampak meriah, apalagi ketika menyaksikan gegap gempita dan megahnya panggung. Satu-satunya penegas bahwa konser itu diselenggarakan untuk Aceh adalah ucapan para artis yang bertugas selaku pembawa acara, seperti Donny Kesuma, Edi Brokoli, Thessa Kaunang, Maudy Koesnaedi, Miing, Ussy Sulistiowaty, Ade Namhung, Edwin, Jody, Tamara Geraldine, dan lainnya.

Berjenis-jenis lagu ditampilkan sejak siang itu, mulai dari pop hingga metal. Semakin lama, suasana yang mewarnai konser itu semakin panas. Ya, panas suasana sempat memuncak ketika grup musik metal asal Surabaya “Power Metal” tampil menyuguhkan “Timur Tragedi”.

Akan tetapi, setelah itu, suasana kembali meredup dan cenderung dingin menyusul tampilnya Ruth Sahanaya. Penyanyi bertubuh mungil yang akrab disapa Uthe tersebut melantunkan “Andaikan Kau Datang Kembali”, sebuah lagu milik Koes Plus yang diaransemen ulang oleh Erwin Gutawa.

Setelah itu, Maia Ahmad dan Tia AFI yang kini tergabung ke dalam duo “Ratu” tampil menyuguhkan “Salahkah Aku Bila Terlalu Mencintaimu”. Sajian itu sekaligus menutup sesi pertama karena azan salat Magrib telah memanggil.

* *

PETANG hilang malam menjelang. Aliran manusia yang memasuki kawasan Pantai Carnaval terus saja terjadi. Ketika ditanya, kebanyakan dari mereka merupakan fans grup-grup band dan penyanyi papan atas Indonesia, seperti Slank, Dewa, dan bahkan Iwan Fals. Apalagi, kebanyakan dari mereka juga membekali diri dengan sejumlah aksesoris bertuliskan kata-kata tertentu, “Orang Indonesia” (OI), Slankers, dan sebagainya.

Sekira pukul 19.00 WIB, penyanyi jazz Syaharani tampil sebagai pembuka sesi kedua. Ia menyanyikan dua lagu berturut-turut, “Buat Aku” dan “Memberi Cinta Adalah”. Kala itu, suasana belum sepenuhnya kembali menggejolak seperti sediakala. Baru setelah Dea Mirella tampil, suasana sedikit menggelegak. Apalagi, di luar kebiasaan, Dea menyanyikan lagu milik Godbless berjudul “Panggung Sandiwara”. Rupanya, Dea memiliki suara melengking dan ternyata sangat pas membawakan lagu tersebut. Sebuah suguhan yang spektakuler tentunya.

Setelah itu, suasana menurun drastis. Para penonton pun sempat mencemooh ketika bintang-bintang AFI didaulat tampil. Hanya sebentar hal itu terjadi dan bintang-bintang AFI tetap menampilkan lagu milik Krakatau “Sekitar Kita”.

Akan tetapi, ketika duet pembawa acara Maudy Koesnaedi-Miing mendaulat Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso tampil, penonton kembali bersorak mencemooh. Sejenak Sutiyoso berpidato dan kemudian menyumbangkan suaranya lewat lagu milik Jikustik, “Setia”. Setelah itu, Vina Panduwinata tampil dengan dua buah lagu, “Mohon Ampun” dan “Ceria”. Sampai di sini bahkan hingga pukul 21.00 WIB menjelang, para penonton belum menggeliat.

Suasana sedikit bergeser ketika Project Pop tampil menyuguhkan lagu berirama dangdut. Grup kocak asal Kota Bandung itu menampilkan “Dangdut is The Music of My Country“, disusul kemudian oleh Denny Malik, Kristina, dan Inul Daratista yang menyanyikan lagu “Anoman Obong”. Di sini, tampak jelas para penonton yang menamakan dirinya “OI” atau “Slankers” ternyata tak fanatik. Saat gendang mengentak dan suling mendayu, tetap mereka berjoget ala dangdut.

Suasana itu berlangsung sebentar. Soalnya, tak lama kemudian, grup-grup band pengusung jenis lagu pop, rock, dan sebagainya kembali ditampilkan. Di sini, mantan vokali Dewa, Ari Lasso tampil menyanyikan lagu “Mengejar Matahari” dan “Misteri Ilahi”. Grup Dewa juga tampil dengan “kuldesak”, serta Godbless dengan “Syair Kehidupan” dan “Rumah Kita”.

Ketika konser mendekati puncak, Krisdayanti, diva pop Indonesia turut tampil dalam acara tersebut dengan menyanyikan lagu “Pilihlah Aku”. Bahkan, bersama sang suami, Anang Hermansyah, KD –demikian ia biasa disapa– melagukan lagu “Bungong Jeumpa”. Grup musik Cokelat tampil membawakan “Luka” dan “Bendera”. Audy menampilkan lagu “Menangis Semalam”. Iwan Fals, “Raja Balada” Indonesia mendapat kehormatan malam tadi dengan menampilkan lagu baru tentang Aceh bertajuk “Harapan Tak Boleh Mati”.

Menyaksikan keseluruhan konser, nyaris tak tercipta “nuansa bencana”. Semua tampak bergembira. Bedanya, itu tadi, penonton hanya ditarik Rp 10.000,00 untuk tiket masuk, 50 persen-nya disumbangkan untuk para korban bencana. Sampai pukul 22.00 WIB, dana yang terkumpul berjumlah lebih dari Rp 700 juta.

Satu hal yang layak diacungi jempol, dalam perhelatan akbar tersebut, tak terlihat pengamanan ketat terhadap penonton. Padahal, para penonton yang tergabung ke dalam beberapa “organisasi fans” artis/grup band tertentu sangat rawan perkelahian. Terakhir, sebulan lalu, terjadi perkelahian antara OI (pengagum Iwan Fals) dengan Slankers. Dalam skala kecil, perkelahian sempat terjadi di areal konser meski bukan dari dua kubu berbeda.(Hazmirullah/”PR”)***Senin, 10 Januari 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: