Konser Musik “Satu Nafas Tiga Cinta” di Sabuga


Tiket Murah dengan Suguhan Berkelas

BOLEH jadi sekira 4.000 penonton yang datang ke pertunjukan musik “Satu Nafas Tiga Cinta” di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jln. Tamansari, Bandung, semalam, merupakan peminat musik yang paling beruntung tahun ini. Hanya dengan mengeluarkan Rp 5.000,00 untuk membeli tiket, mereka mendapat suguhan musik yang berkelas dari tiga grup musik sekaligus, Juliette, Gamma, dan Naif.

Tak pelak, yang menjadi bintang malam itu adalah Naif, grup musik yang kondang mengusung lagu-lagu yang bernapaskan tahun 70-an. Tak sia-sia penonton menunggu mereka, hingga naik panggung pukul 22.15 WIB. Tadi malam, David, Pepeng, Fajar, dan Jarot tampil prima, menyuguhkan sembilan nomor lagu dengan tampilan yang apik.

Membuka pertunjukan dengan lagu “Dia Adalah” – yang kental pengaruh “Break on Trought (The Other Side)”-nya The Doors–Naif langsung disambut gempita oleh penonton. Puluhan penonton langsung merangsek ke dapan panggung, berebut lahan untuk menggoyangkan badannya. Disambung dengan lagu kedua “Hai Monas”, dengan cerdas David, sang vokalis, melakukan conditioning dengan menyapa penonton menggunakan bahasa Sunda.

“Kumaha dararamang di Bandung…klub Vespa aya…saha nu resep piknik. Hayu urang piknik seperti tahun 72-an,” ujarnya disambung dengan lagu “Piknik 72” yang temannya memang menceritakan berpiknik dengan menggunakan motor Vespa.

Setelah memperkenalkan “Air & Api” dari album barunya, Naif berturut-turut membawa “Poss”, “Towal-Towel”, “CCP”, “Mobil Balap”, dan ditutup dengan “Aku Rela”. Sepanjang pertunjukan, penonton tampak sangat menikmati lagu demi lagu yang dibawakan Naif, terutama mulai lagu “Poss” dan seterusnya.

Komunikasi yang dilakukan David di sepanjang pertunjukan, jelas merupakan salah satu kunci penting sukses penampilan mereka. Padahal, saat diwawancarai sebelum , David mengaku selalu “ngeri” jika manggung di Bandung. “Penonton Bandung itu unpredictable (tak bisa diduga). Sekelas Dewa saja pernah gagal di sini. Emang agak ngeri juga, main di kota yang musisinya segudang. Sekalipun beberapa pertunjukan kita di sini sukses, kita tetap harus prima main di sini,” katanya.

Diakuinya, dari rangkaian konser yang disponsori produsen rokok Gudang Garam di 24 kota tersebut, Bandung termasuk yang mendapat perhatian serius. “Kemarin kita main di Malang asyik banget. Penontonnya sangat apresiatif. Mudah-mudahan hal ini berulang juga di Bandung,” katanya sambil memohon diri untuk merapikan penampilannya sebelum naik panggung.

Menjanjikan

Sekali lagi, penonton yang datang tadi malam memang beruntung. Dua grup musik yang tampil sebelum Naif, juga menyajikan musik yang tidak kalah apik. Juliette yang membuka pertunjukan, membawakan lima lagu, yang mereka ambil dari album pertama mereka “Berawal dari Benci”, mereka menyuguhkan lagu-lagu pop-rock yang enak didengar.

Apalagi Vromie (vokal dan gitar), Ale (guitar, bass, vox), dan Bimo (drum dan synthesizer), sekalipun mereka belum begitu dikenal publik musik, permainan mereka jelas menunjukkan bahwa mereka merupakan musisi yang sudah mempunyai jam terbang cukup lama.

Sekalipun hanya bermain bertiga, musik mereka sama sekali tidak menganut aliran minimalis. Lagu-lagu “Dunia Hitam”, “Sudahlah”, “Inikah Cinta”, “Sahabat”, dan “Pergi” dikemas dengan aransemen musik yang full power.

Gebukan drum Bimo jelas merupakan faktor penting dalam lagu-lagi Juliette. Terutama dalam memberikan kerangka yang kokoh, untuk lagu-lagu mereka yang beat-nya lumayan kencang. Walhasil, lagu “Sudahlah” merupakan lagu terbaik yang dimainkan Juliette. Sekilas jika awam mendengarkan lagu tersebut, tak akan percaya itu hanya dimainkan oleh tiga orang.

Sementara penampilan Gamma juga tak kalah heboh. Membuka pertunjukan dengan lagu “Hey Kecil”, Gamma menampilkan bintang tamu seorang penggebuk drum cilik Rafi. Untuk lagu ini, jelas Rafi yang mencuri perhatian penonton.

Penonton sempat mencari-cari di mana pemain drumnya, karena Rafi cilik tak terlalu kentara. Menampilkan sepuluh lagu, dengan aneka ragam jenis musik mulai dari art-rock, hip-hop, hingga funk, musik yang disajikan Gamma sangat menjanjikan. Jadi, sekali lagi, sungguh beruntung para penikmat musik yang datang ke Sabuga, semalam.(Y. Fitriadi/”PR”)***Sabtu, 02 April 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: