“La Noche Latina” , Pesta Bernuansa Latin


ADA sesuatu yang aneh ditunjukkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Provinsi Jawa Barat Budiyana dan Duta Besar Republik Kuba untuk Indonesia, Miguel Ramirez. Belum juga berselang lama memberi sambutan, keduanya langsung “ngeloyor” pergi meninggalkan Ramayana Ballroom Grand Hotel Preanger Bandung.

Padahal, acara “La Noche Latina” yang mereka hadiri dan mereka buka, baru saja dimulai. Bahkan, ketika kedua pergi, grup musik Los Morenitos yang menjadi band pengiring, baru saja warming up dengan menyajikan musik instrumental berirama salsa. Apakah Budiyana dan Ramirez pundung atau tak berkenan dengan suguhan acara yang bakal digelar, seperti halnya kaum politikus yang walk out karena tak setuju dalam sebuah persidangan?

Ah, jauhkan prasangka buruk itu. Perginya Budiyana dan Ramirez dari sebuah acara yang baru saja dibuka, bukan karena mereka tak suka. Melainkan wujud “kebaikan hati” dan sikap penuh pengertian keduanya untuk membiarkan ratusan “latin mania” yang menghadiri acara tersebut bisa berpesta tanpa merasa rikuh karena dihadiri pejabat. Ya, “La Noche Latina” atau “Malam Pesta Bernuansa Latin” semalam bukan untuk apa-apa, kecuali pesta.

Dalam sambutannya, Budiyana memanfaatkan kesempatan untuk “menjajakan” kekayaan budaya Sunda, terutama kepada Dubes Republik Kuba Miguel Ramirez yang mengaku baru kali pertama menginjakkan kaki di Kota Bandung. Ia menyebut-nyebut jaipongan. “Kalau malam ini kita menyaksikan musik Latin, besok kami undang menyaksikan kesenian khas Sunda, jaipongan. Kami undang Mr. Miguel untuk menikmati khazanah budaya Sunda. Kami memiliki ‘gurilap’, yakni gunung, rimba, laut, air, dan pantai,” tutur Budiyana.

Menjawab undangan Budiyana, Miguel Ramirez menyatakan keinginannya untuk menyaksikan –atau setidaknya mendengarkan– musik Sunda. Selain itu, ia mempersilakan hadirin untuk menikmati sajian musik Latin yang memang merupakan “menu utama” acara itu.

Usai sambutan, delapan pemain musik berikut trio vokalis memasuki panggung. Merekalah personel Los Morenitos Band. Tanpa jeda yang terlalu panjang, mereka langsung memperdengar sebuah repertoar berirama salsa sebagai pemanasan. Sampai di sini, belum terlihat adanya apresiasi berarti dari penonton, kecuali gerakan-gerakan kecil anggota tubuh.

Barulah setelah itu, pesta sebenarnya dimulai. Trio vokalis Los Morenitos membawakan sebuah lagu milik Gloria Estefan. Sayangnya, pada permulaan lagu, ada masalah pada sound system. Mikrofon yang digunakan trio vokalis itu terus ngajuit (berdengung keras). Tapi, dalam waktu singkat, hal itu sudah dapat diatasi. Harmoni irama Salsa yang diperdengarkan semakin enak untuk diapresiasi secara komunal. Buktinya, tak lama berselang, puluhan pasang hadirin mengambil inisiatif untuk “melantai”.

**

APRESIASI komunal. Itulah sesungguhnya ciri khas banyak kesenian “tradisi” di dunia, termasuk Indonesia. Fenomena yang terjadi tadi malam sebenarnya bisa disejajarkan dengan apa yang berlaku saat musik dangdut digelar. Tentu saja, banyak hal yang kemudian membedakannya.

Tadi malam, tak ada desak-desakan penonton, apalagi “senggol basah” (istilah yang mungkin hanya dikenal dalam dunia pentas dangdut). setiap pasangan bebas mengapresiasi musik Latin (khususnya salsa) yang diperdengarkan ke dalam koreografi yang mereka kehendaki. Cukup menyelaraskan gerakan dengan tempo lagu yang cenderung cepat.

Suasana dibuat dingin sejenak. Seluruh penonton kembali ke tempat masing-masing. Sebuah tari yang mengusung irama Cha-Cha dipertunjukkan dan dibawakan oleh Studio 14 Bandung. Tiga pasang penari yang ternyata masih belia bergerak seirama. Seluruh anggota tubuh dengan lincah mereka mainkan. Mereka tampak terlatih. Semakin cepat mereka menari begitu musik Cha-Cha yang tadi mengiringi mereka diubah menjadi rock ‘n roll. Tepuk tangan berderai mereka tuai saat menyudahi pertunjukan.

Suasana pesta dikembalikan kepada hadirin. Personel Los Morenitos kembali membawakan lagu. Saat itu, tempo lagu yang mereka bawakan tidak begitu kencang. “Corazon Espinado” milik Santana menjadi pilihan. Kembali, hadirin mengapresiasinya dengan tarian komunal. Seusai “Corazon Espinado”, tempo lagu dipercepat dengan dua buah lagu bergenre rock ‘n roll. Setelah itu, irama dikembalikan kepada salsa.

Rupanya, tak hanya salsa dan rock ‘n roll yang menjadi “pengawal” utama pesta tadi malam. Selain keduanya, personel Los Morenitos membawakan berbagai genre musik, seperti Bossanova dan bahkan Waltz.(Hazmirullah/”PR”)***Sabtu, 09 April 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: