Merebut Habitat Siti Nurhaliza


Oleh ADJIE ESA POETRA
IRONIS! Belum lama berselang, sekelompok demonstran yang kesal terhadap pemerintah Malaysia dalam kasus blok Ambalat dikabarkan telah membakar sejumlah foto sang idola, Siti Nurhaliza. Perilaku politik tersebut telah menyeret seorang Siti Nurhaliza yang tidak berdosa sehingga eksistensinya langsung atau tidak harus tergusur di negeri ini.

Oleh sebab itu, tidak ada salahnya apabila saat ini kita segera berpikir bagaimana merebut berbagai “peninggalan” yang bisa kita manfaatkan. Sehingga peristiwa itu menjadi peluang untuk lebih banyak artis kita yang menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Tentu, semua itu perlu diawali dengan mempelajari berbagai kekuatan yang dimiliki superstar yang sangat kewanitaan itu. Termasuk melakukan berbagai evaluasi terhadap para promotor kita.

Di negeri ini, kebersahajaan memang sedang menjadi barang yang amat mahal dan sulit didapat. Sayangnya, dunia entertainment kita kurang bisa memahaminya sehingga dunia hiburan hanya diidentikan dengan glamoritas dan keangkuhan. Padahal, bila kita mau melihat jauh ke belakang, warna sosial masyarakat kita merupakan komunitas yang banyak merindukan panutan yang bersahaja. Hal tersebut pernah dibuktikan dengan melegendanya para penyanyi solo yang bersahaja seperti Chrisye, Ebiet G. Ade, Dewi Yull, Andi Mariem Mattalata, Iwan Fals, Nike Ardilla, dll. Belum lagi, berbagai legenda yang dilakukan grup musiknya seperti Bimbo, Koes plus, dll. termasuk calon legendaris dari Bandung, Peterpan. Demikian halnya terhadap dunia film layar lebar yang ambruk gara-gara terlampau banyak menyajikan glamoritas dan keangkuhan.

Ditengah-tengah kenyataan yang dicontohkan tadi, sayang sekali apabila banyak potensi artis-artis muda bersahaja kita belum termanfaatkan sebagaimana mestinya. Sepertinya, para produser dan manajemen artis kita hanya baru bisa terkagum-kagum atas kebersahajaan seorang Nurhaliza tanpa cepat bertindak melahirkan para pesaing bagi artis dari negeri tetangga itu. Padahal, di tengah berbagai kesulitan bangsa ini, profil dan warna musik bersahaja bakal tetap menjadi pilihan paling kuat.

Pandangan orang-orang dibalik layar Siti Nurhaliza terhadap warna sosial masyarakat kita ternyata sangat jeli. Kejelian orang- orang di balik layar Siti Nurhaliza, dibuktikan dengan terus-menerus menebarkan citra kebersahajaan artisnya. Mereka seolah-olah tahu bahwa tindakannya itu merupakan formula yang tepat bagi masyarakat yang selama tiga setengah abad cukup direpotkan keangkuhan penjajahnya. Belum lagi keangkuhan sebagian besar penguasa dan para politisinya.

Lain di sini lain pula di negeri asalnya. Nurhaliza yang dipandang sebagai manusia “suci” oleh para pencinta seni suara kita, di negerinya selalu disikapi sama sejajar dengan penyanyi Malaysia lainnya. Lepas dari benar atau tidaknya, baru-baru ini kita sempat mendengar gosip tentang perselingkuhan Nurhaliza dengan pria bersuami. Besar kemungkinan kabar itu hanya gosip belaka, tapi hal itu menunjukkan, betapa bedanya masyarakat kita dan Malaysia dalam menyikapi gadis ayu bersuara emas itu.

Negeri ini, adalah negeri yang secara potensial jauh lebih kaya dari Malaysia. Sesungguhnya, tidak akan terlalu sulit untuk mencari sosok artis dengan citra sehebat Nurhaliza.

Jangan jauh-jauh, dari unsur penyanyi baru saja, Tia AFI atau Imey dan Metha “Cantik Indonesia” sesungguhnya sangat berpotensi untuk disetarakan dengan pelantun “Cindai” itu. Namun sayangnya para debutan baru itu, tidak pernah dibangun sebagaimana Nurhaliza. Khusus tentang Tia, dalam proses perjalanan kariernya di AFI, sering kali memperoleh sikap atau komentar-komentar yang kurang menguntungkan dari sebagian komentator seniornya.

Tak perlu ada kecemburuan terhadap sukses Siti Nurhaliza di sini, karena selain bersahaja, dia adalah penyanyi yang secara skill sangat memadai untuk menjadi idola.

Dia, adalah penyanyi yang bukan sekadar nyaris selalu cermat atau nyaris tidak pernah fals dalam memproduksi nada. Lebih dari itu, dirinya selalu mampu memproduksi nada dengan seartistik atau seindah mungkin. Dengan penguasaan teknik ungkapan dinamiknya yang tinggi, ia pandai benar mempengaruhi perasaan pendengarnya. Suaranya senantiasa mampu mengombang-ambing perasaan laksana perahu di lautan yang kadang tenang namun tiba-tiba seperti akan tenggelam, kemudian muncul sangat jelas. Dan dalam membawakan lagu apa pun, ia senantiasa bernyanyi secara relax but powerfull di samping memiliki wilayah suara lebih dari empat oktaf. Kalau pun ada yang perlu dikoreksi darinya, hanyalah dalam kekurangmampuan memperindah irama yang tak seindah alunan dinamiknya. Contohnya, dihampir setiap membawakaan irama freemaat atau ketukan irama yang tidak terpatok, ia belum terlihat dapat membawakannya dengan indah. Juga jarang sekali ia berani menunjukkan teknik pengalihan tekanan ketukan atau sincopasi secara cukup fantastis. Namun demikian, dalam menghayati ketukan atau irama yang standar boleh dibilang bagus.

Bisa mengimbangi

Kehadirannya di Indonesia sesungguhnya bukan tanpa bisa diimbangi. Saat berkolaborasi dengan Bimbo yang sama-sama memiliki profil bersahaja di TransTV bulan Ramadan lalu, citra kebersahajaan Nurhaliza kesannya jadi tidak terlampau luar biasa. Pertunjukan saat itu benar-benar bisa citra artis Indonesia di negerinya sendiri.

Sesungguhnya, masih banyak potensi kita yang bisa mengimbangi Siti Nurhaliza. Sebut saja penyanyi solo seperti Chrisye, Ebiet, Andi Mariem, Iwan Fals, dsb. Dari kalangan yang lebih muda bisa disebut nama penyanyi bersahaja seperti Dessy Fitri, Nira Diana, Melly Goeslaw, Rita Effendi, Audy, Yuni Shara, dll. termasuk bahkan Peterpan sendiri.

Sangat mengistimewakan seorang Nurhaliza memang tidak melanggar etika kita sebagai tuan rumah. Tapi, kalau pun tindakan tadi dapat dianggap sebagai tindakan perlindungan terhadap artis dalam negeri, hal tersebut masih belum seberapa bila dibandingkan dengan tindakan perlindungan yang lazim dilakukan pihak Malaysia terhadap para artisnya. Dengan alasan proteksi itu tadi, pelayanan pihak Malaysia terhadap para artis pendatang biasanya tidak lebih baik dari pelayanan yang kita berikan terhadap artis Malaysia.

Eksistensi penyanyi yang dalam setahun bisa puluhan kali tampil di Indonesia ini, mudah-mudahan bisa mengilhami munculnya banyak penyanyi baru kita yang kebetulan memiliki sifat yang bersahaja pula. Saya bisa memberi contoh bagaimana artis senior bersahaja yang tadinya sudah mulai memudar seperti Iwan Fals, Bimbo, Koes Plus, Chrisye, Ebiet yang tiba-tiba kembali menyeruak hebat bersamaan terjadinya krisis multidimensi yang melanda negeri kita. Termasuk juga artis barat bersahaja semacam Norah Jones, Josh Groban, dsb. Bahkan termasuk Susilo Bambang Yudhoyono yang senantiasa mendapat sambutan hangat setiap mengalunkan suaranya.

Pulau Sipadan dan Ligitan telah direbut dengan nyaris tanpa perlawanan. Blok Ambalat yang tengah kita pertahankan dengan sangat sengit pun masih belum tentu nasibnya. Namun yang paling hebat lagi, kita semua termasuk saya telah menyerahkan seluruh hati untuk direbut seorang Siti Nurhaliza yang penuh keteladanan.

Namun, kini eksistensi Siti Nurhaliza tampaknya akan sulit bisa kembali dalam waktu dekat ini. Dan di tengah-tengah hati yang tengah mencari, kini kita hanya bisa bertanya, kapan para promotor dunia hiburan kita mulai sangat berani memperlakukan artis kita yang sesungguhnya tidak kalah hebatnya dari Siti Nurhaliza?*** PR-Minggu, 27 Maret 2005

Penulis, guru vokal tinggal di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: