Oase Menyegarkan di Saat Jazz Kesepian


Oleh UKON AHMAD FURQON

KESEPIAN. Barangkali itulah kata yang paling tepat untuk melukiskan kondisi musik jazz tanah air dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah ingar-bingar acara pencarian bakat penyanyi baru lewat kemasan ”reality show”, di saat musik dangdut asyik berbulan madu dengan televisi, ketika album musik populer laris manis hingga jutaan keping, gaung musik jazz justru kian tak terdengar, baik itu di dunia pertunjukan maupun dalam industri rekaman.

Jika pada dekade 1990-an masih ada ajang perhelatan jazz berskala besar dan bertaraf internasional seperti “JakJazz Festival,” belakangan jazz hanya tersaji dalam skala acara dan tingkat pemberitaan yang terbatas, di kafe atau paling dari kampus ke kampus.

Jazz yang kesepian juga tercermin dalam industri rekaman. Inisiasi cemerlang yang dilakukan Indra Lesmana di awal milenium lewat projek Reborn, ternyata belum bisa menstimulasi lahirnya album-album jazz lainnya yang dapat diserap pasar dalam jumlah meyakinkan. Di akhir 2004 memang muncul album “Silver.” Tapi lagi-lagi ini masih milik Indra, itu pun dengan grafik penjualan yang belum menunjukkan dapat menyamai prestasi “Reborn” yang cukup laris untuk ukuran album jazz Indonesia.

Di tengah suasana jazz tanah air yang kurang menggembirakan, di awal 2005 ini, Peter F. Gontha dan kawan-kawan membuat gebrakan menggembirakan. Dalam tiga hari terakhir, tepatnya 4-6 Maret 2005, mereka menggelar sebuah perhelatan jazz bertaraf internasional bernama Jakarta International Java Jazz Festival (JIJJF) 2005 di Jakarta Convention Center.

Dengan visi menyinergikan Timur dan Barat ke dalam satu kesatuan harmoni, JIJJF 2005 menampilkan pendekar-pendekar jazz dari berbagai negara. Dari luar negeri hadir lebih dari 20 bintang, seperti James Brown, Laura Fygi, Tania Maria, Jeff Lorber, Jeff Kashiwa, George Duke, dan Incognito. Sedangkan dari dalam negeri hadir Bubi Chen, Indra Lesmana, Canizzaro, Krakatau, serta lebih dari 60 nama beken lainnya. Yang unik, JIJJF 2005 juga menghadirkan nama-nama “jazzy” yang intens pula menggarap musik pop seperti Andien, Bunglon, Glenn Fredly, Marcell, Rieka Roeslan, Ruth Sahanaya, T Five, Ten 2 Five, dan The Groove.

Acungan jempol

Kehadiran JIJJF 2005 bisa dikatakan laksana oase yang menyegarkan. Di samping karena telah lama Indonesia hampa akan perhelatan jazz bertaraf internasional, ajang yang sebagian keuntungannya disumbangkan untuk membangun Aceh dan Sumatra Utara pascabencana tsunami ini, juga layak diberikan acungan jempol karena dapat dibesut lebih rapi dibandingkan ajang-ajang jazz yang pernah ada sebelumnya.

Dari sisi artis pendukung, JIJJF 2005 menampilkan artis yang lebih variatif dengan lebih banyak nama ternama. Sementara dari sisi materi acara, ajang yang semoga bisa digelar setiap tahun ini, tak hanya menyajikan penampilan live para jawara jazz. Dihadirkan pula beragam acara lainnya seperti workshop, Indonesian Jazz Idol Search, dan klinik jazz yang sangat berguna untuk memasyarakatkan jazz, termasuk memberikan pengetahuan jazz yang lebih mendalam kepada publik. Apalagi workshop dan klinik jazz dibimbing langsung oleh musisi-musisi jazz dunia.

Sayangnya, dari sisi promosi, sepertinya JIJJF 2005 kurang begitu maksimal, terutama untuk promosi di luar Jakarta. Padahal untuk ukuran perhelatan yang baru pertama kali digelar, promosi yang maksimal sangat diperlukan dalam rangka sosialisasi dan menancapkan brand.

Tantangan sosialisasi

Di samping JIJJF, pada tahun 2005 ini terdapat beberapa perhelatan jazz lainnya yang telah teragendakan. Pada 23-24 April 2005, di Kota Bandung akan digelar “Asia Africa Jazz Festival”. Selanjutnya, pada bulan November akan dilangsungkan “Ramadhan Jazz Festival” di delapan kota sekaligus, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Samarinda, Balikpapan, dan Medan. Sebelumnya, pada tanggal 19 Januari dan 16 Februari lalu telah sukses digelar dua acara jazz, masing-masing Jazz For Aceh dan 2 Love Jazz – The Art of Duo, yang keduanya mempertemukan Indra Lesmana dan Bubi Chen.

Seiring dengan beberapa agenda jazz sepanjang 2005, baik yang telah maupun akan digelar, pertanyaan yang kemudian muncul apakah di tahun ini, masa depan jazz akan lebih? Akankah jazz lebih menggema dan diterima publik secara lebih massif?

Kendati agenda-agenda tersebut sangat layak disambut hangat, tampaknya insan musik jazz masih harus bekerja ekstrakeras agar musik ini lebih menggema dan diterima oleh lebih banyak kalangan. Kenyataannya, jazz sejauh ini masih belum dipahami secara utuh. Sebelum jauh menyelami, banyak masyarakat yang telah lebih dulu mengecap jazz sebagai musik yang rumit, sehingga sukar dinikmati oleh kalangan awam.

Pandangan bahwa jazz memiliki sofistikasi sehingga memerlukan kapasitas intelegensia yang lebih tinggi dibanding memahami musik non-jazz, adalah sebuah tesis yang rapuh. Faktanya, musik tidak semata-mata dipahami melalui rasio, tetapi sangat melibatkan rasa serta banyak terkait dengan konstruksi sosial suatu komunitas. Oleh karena itu, jika jazz belum diterima secara luas, bisa sangat berkaitan erat dengan sosialisasi yang belum intensif atau polanya yang tidak mengena.

Buktinya, sejauh ini jazz lebih banyak dihidangkan di kafe-kafe atau hotel berbintang yang menjual ekslusivitas dan sulit dijangkau oleh orang kebanyakan. Mereka yang datang, bahkan ada yang sekadar agar ditempel cap bonafide atau masuk kategori kaum borjuis. Bila di satu sisi ini masuk langkah sosialisasi, di sisi lain langkah seperti ini dapat merusak citra jazz sebagai musik yang membebaskan dan jauh dari kesan glamor.

Demikian pula dengan sosialisasi lewat produk rekaman. Banyak orang yang sebenarnya ingin tahu lebih jauh tentang jazz. Namun karena sebagian produk jazz masih hanya tersedia dalam format CD yang harganya mahal, tidak semua orang mampu mengaksesnya.

Oleh karena itu, agar jazz lebih memasyarakat, diperlukan upaya-upaya sosialisasi yang memudahkan akses masyarakat terhadap produk-produk jazz, baik dari segi ruang, sarana, maupun harga. Di samping itu, insan musik jazz juga perlu membuat terobosan-terobosan agar kesan jazz sebagai musik yang bias kalangan, dapat segera sirna. Upaya tersebut bisa dilakukan melalui reformasi format musiknya sendiri maupun format acara. Terkait dengan upaya itu, peran media, termasuk radio khusus jazz seperti ARH FM di Jakarta dan KLCBS di Bandung ikut memiliki andil yang sangat penting.

Jazz di tanah air harus mampu mendekati dan menyelami masyarakatnya, agar berikutnya keadaan dapat berbalik dengan sendirinya, masyarakat yang akan mencari jazz. Selama jazz memosisikan dirinya di menara gading, selama itu pula ia akan merasa sepi. ***

Penulis adalah pemerhati musik & film, alumnus ITB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: