Sayang…, Iwan Fals Terlalu Lama Bersendu

”Raja Balada” Itu Terfokus pada Lagu Kemanusiaan

SAYANG…sayang sekali, Iwan Fals terlalu lama bersendu dalam konser bertajuk “Bersatu Dalam Damai” kali ini. Padahal, apresiasi 7.000-an khalayak yang menyesaki Fairground IPTN Bandung, Rabu (9/2) malam, mulai “naik” dan bahkan mungkin sudah mendekati puncak. Sebenarnya, malam itu, Iwan hanya perlu meneruskan kemeriahan yang telah dibalakan oleh grup musik Slank.


VOKALIS Slank, Kaka (kiri), menyambut kehadiran Iwan Fals dengan bernyanyi bersama lagu “Yang Terlupakan” pada konser pertama “A Mild Live Tour Concert Iwan Fals & Slank PLUR” yang berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 110 juta bagi korban tsunami, di Fairground IPTN Bandung, Rabu (9/2) malam.*
DUDI SUGANDI/”PR”

Rupanya, apa yang disajikan Iwan bertolak belakang dengan kemauan khalayak. Teriakan “Bento” yang dilakukan khalayak sepanjang Iwan tampil ternyata tak berbalas. “Raja Balada” itu memilih berfokus kepada lagu-lagu anyar bertajuk kemanusiaan, khususnya sebagai bukti solidaritas kepada para korban bencana tsunami Aceh, seperti “Aku Menyayangimu”, “Pulanglah”, dan “Harapan Tak Boleh Mati”. “Aku Menyayangimu” adalah sebuah lagu yang berasal dari puisi goresan tangan K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus), “Pulanglah” adalah sebuah lagu yang secara khusus didedikasikan kepada dua pejuang kemanusiaan, Munir dan Harry Roesli. Sedangkan, “Harapan Tak Boleh Mati” adalah sebuah lagu ciptaan Iwan yang terinspirasi dari sebuah kasur yang dihanyutkan air bah tsunami di Aceh. Di atasnya, seekor kepiting terbawa hanyut.

Dengan menafikan itu, sebenarnya Iwan tampil maksimal. Seluruh kemampuan vokalnya terasa benar dieksploitasi. Apalagi, tampak jelas Iwan begitu menghayati setiap lagu yang dibawakannya. Saking seriusnya, senar salah satu gitarnya pun putus. Ketika Iwan mengeluarkan improvisasi “suara serak”-nya dan ketika Iwan memainkan melodi dengan harmonikanya, tepuk tangan membahana. Selebihnya, penonton hanya terdiam.

Satu-satunya “masalah”, para khalayak sepertinya kesulitan mengapresiasi apa yang disampaikan Iwan melalui lagunya. Hal itu diperparah oleh buruknya kualitas suara sepanjang konser dilangsungkan. Saat Iwan tampil, mayoritas khalayak pun akhirnya memilih ngampar.

**

SECARA umum, awal konser 27 kota berjudul “A Mild Live Tour Concert Iwan Fals & Slank PLUR” itu berlangsung meriah. Kaka, Bimbim, Abdee, Ridho, dan Ivan langsung berhasil menggamit apresiasi khalayak saat membuka penampilan meski membawakan lagu-lagu dari album terbaru, “Lo Harus Gerak” dan “PLUR”.

Suasana terus menanjak begitu Slank membawakan lagu-lagu dari album terdahulu, seperti “Gara-Gara Kamu”, “I Miss You But I Hate You”, “Virus”, dan “Pacarku Ketinggalan Zaman”. Hal itu berlanjut ketika Slank membawakan lagu-lagu sanggian anyar, seperti “Indonesiakan Una” dan “Atjeh (Investigation)”. Tak henti-hentinya, koor para penonton membahana mengisi seantero gedung. Kaka sendiri sebagai vokalis, sukses memuncakkan apresiasi dengan aksi-aksi panggungnya yang gemilang.

Panggung tiba-tiba gelap. Sejenak kemudian, sorot tunggal lampu mengarah kepada Ivan yang sedang memainkan sebuah intro lagu dengan piano. Setelah usai, Kaka menyanyikan sebuah lagu milik Iwan Fals berjudul “Yang Terlupakan”. Di sini, terasa sebuah aroma lain dari atas panggung. Benar saja, setelah 1 bar Kaka bernyanyi, Iwan masuk.

Inilah sebenarnya momentum puncak konser itu. Setelah dibiarkan tampil sendiri, setelah “Yang Terlupakan” usai dinyanyikan, Iwan mampu mempertahankan suasana ketika ia menyanyikan “Aku Bukan Pilihan”, sebuah lagu ciptaan Pongky “Jikustik” yang termaktub di dalam album “In Collaboration With”. Setelah itu, apresiasi menurun drastis.

Suasana kembali menanjak begitu Iwan melantunkan lagu “Ha-dapi Saja” dan “Bunga Kehidupan”. Apalagi, setelah 1 bar “Bunga Kehidupan” dibawakan, Slank kembali memasuki panggung. Iwan dan Slank kembali bersatu dalam sebuah kolaborasi. Terang saja, animo khalayak kembali menggeliat bahkan hingga akhir konser. Sejumlah lagu yang akrab di telinga khalayak pun ditampilkan, seperti “Orkes Sakit Hati”, “Lembah Baliem”, “Makan Gak Makan Asal Ngumpul”, dan “Bendera Setengah Tiang”. Akhir-nya, konser itu diakhiri dengan sebuah lagu Iwan Fals berjudul “Kesaksian”.

Sumbangan 110 juta

Konser di Fairground IPTN Bandung itu merupakan awal dari rangkaian konser di 27 kota. Konser itu dijadikan sebagai perwujudan “Solidaritas untuk Aceh” dan secara khusus dipersembahkan untuk membantu para korban bencana tsunami. Malam itu, terkumpul sumbangan senilai Rp 110 juta.

Dalam jumpa pers yang berlangsung di Majesty Regency, Jalan Suriasumantri Bandung, Selasa (8/2), Marketing Service Area Manager PT HM Sampoerna Tbk. Wilayah Bandung, Amelia Syafrina Dewi Nasution mengatakan, seluruh hasil penjualan tiket konser akan disumbangkan melalui Sampoerna Foundation. (Hazmirullah/”PR”)***Jumat, 11 Februari 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: