Semarak Tarian Massal Beraroma Bali


PADA awalnya, Tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura. Tarian tersebut melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi “ucapan selamat datang”, meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius.

Tari Pendet pulalah yang menjadi pembuka kegiatan “Pentas Massal 2005” yang berlangsung di Gedung Kesenian Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Jln. Buahbatu Bandung, Sabtu (9/4). Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh dua sanggar tari Bali, yakni Asmarandana dan Dewi Anggraeni.

Menurut I Made Rai Netra, ketua pelaksana kegiatan tersebut, pentas massal bertajuk “Ekspresi Gerak Dalam Seni dan Budaya Bali” itu merupakan ajang evaluasi bagi anak didik kedua sanggar tari. “Ini sebenarnya kegiatan rutin yang biasanya diselenggarakan sekali dalam setahun. Selain ajang evaluasi, kegiatan ini juga kami maksudkan untuk menjajal mental saat mentas,” ujarnya ketika ditemui “PR” di lokasi pentas.

Lazimnya, Tari Pendet dibawakan oleh sekelompok remaja putri. Akan tetapi, pada kegiatan tersebut, 15 penari yang membawakan Tari Pendet seluruhnya masih kecil. Bahkan, ada salah seorang penari yang baru berusia 3,5 tahun, yakni Sri Rahayu Yusnita Putri. Alhasil, tari “selamat datang” yang disajikan para penari cilik sebagai pembuka acara itu menjadi lucu. Seluruhnya, kelucuan itu tertuju kepada lakuan-lakuan polos yang dibuat Ayu, demikian sapaan akrab Sri Rahayu, bocah balita itu.

Dengan mimik serius, tak jarang Ayu memperbaiki posisi songket yang saat itu dikenakannya. Pada saat yang lain, ia menggeser tubuhnya karena –mungkin– merasa “bersalah”. Banyak lagi lakuan Ayu yang mampu menerbitkan tawa (atau setidaknya senyuman). Meski sadar dirinya ditertawakan, tak terbersit kepanikan pada semburat ekspresi wajah Ayu. Ia mampu mengikuti gerakan teman-temannya hingga usai. Itulah sesungguhnya hal yang patut diapresiasi.

Secara keseluruhan, Ayu bersama 14 temannya berhasil mengucapkan “selamat datang” menggunakan Tari Pendet, meski –jika dilihat berdasarkan pakem tradisi– jauh dari sempurna. “Aroma Bali” sudah mulai terlihat, mulai dari delikan mata, gerakan tangan, kecondongan tubuh, bahkan hingga kepada langkah-langkah kaki yang dibuat.

**

MADE Dwiyana, perwakilan orang tua murid yang berkesempatan memberikan kata sambutan, menyambut baik even tersebut. Banyak hal yang dapat dipetik, katanya, terutama soal pendidikan berkesenian pada anak-anak. “Dalam hal pendidikan itu, banyak aspek yang juga dapat dipetik, yaitu aspek komunitif, afektif sikap, dan psikomotorik. Hal itu terkait dengan ketaatan anak kepada guru, melatih keterampilan, bahkan hingga kepada melatih kebersamaan,” ungkapnya.

Seusai tari “selamat datang” tadi, perlahan, suasana yang tercipta semakin serius. Lima penari putri yang hampir beranjak remaja tampil membawakan Tari Terunajaya, sebuah tari yang berkisah tentang kehidupan remaja yang sedang beranjak dewasa. Di sini, kualitas gerak dan komposisi mulai terlihat meski belum sepenuhnya sempurna. Delikan mata, posisi tangan, kecondongan tubuh, serta gerakan kaki yang mereka buat sudah mampu menyiratkan simbol-simbol.

Hal itu berlanjut tatkala belasan tarian lain dipertunjukkan, seperti Tari Legong Kuntul, Tari Puspa Wresti, Tari Kebyar Duduk, Tari Tenun, Tari Belibis, Tari Panji Semirang, Tari Cendrawasih, Tari Manuk Rawa, Tari Sekar Jagat, Tari Jaran Treji, Tari Oleg Tamulilingan, Tari Legong Lasem, Tari Topeng Dalem (Arsawijaya), dan Tari Cilinaya. Jadinya, pentas kemarin memang benar-benar massal. (Hazmirullah/”PR”)***Minggu, 10 April 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: