Seratus Hari “Plus” Harry Roesli di Unpas


BEGITU memasuki halaman Kampus Universitas Pasundan di Jalan Dr. Setiabudhi Bandung, Sabtu (2/4) malam, bau minyak tanah langsung menyengat. Rupanya, bau itu berasal dari puluhan obor setinggi tongkat pramuka yang dipancang di sepanjang jalan memasuki halaman parkir kampus tersebut. Nyala api pada obor-obor itu tampaknya telah lama padam.


PENYANYI Doel Sumbang ikut menghangatkan suasana peringatan 100 hari wafatnya tokoh musik Harry Roesli di Kampus Unpas Jalan Setiabudhi Bandung, Sabtu (2/4).*M. GELORA SAPTA/”PR”

Rupanya, puluhan obor tadi berhubungan dengan acara yang saat itu tengah digelar di halaman parkir, Peringatan 100 Hari Plus Meninggalnya Harry Roesli. Entah kebetulan atau tidak, puluhan obor yang diniatkan sebagai penerang jalan itu tiba-tiba padam.

Belasan remaja memegang obor yang sama. Sementara itu, di atas panggung, sebuah lagu bertajuk kehilangan seorang yang sangat berarti tengah dipentaskan. Lagu itu usai dan dedengkot Indonesian Corruption Watch (ICW) Teten Masduki didaulat tampil berorasi. Rupanya, Teten tak hendak berbicara jauh-jauh dari “habitatnya”. Tadi malam, Teten juga berbicara tentang Harry Roesli dan perjuangannya melawan korupsi.

“….Korupsi adalah pikiran untuk berkuasa dengan cara merampas, mencuri, merampok…” Begitu penggalan orasi yang diteriakkan Teten. Senyampang dengan itu, belasan anak yang ternyata personel teater dari Fakultas Ilmu Seni dan Sastra (FISS) Unpas perlahan bergeming dari tempat semula. Obor-obor di tangan mereka yang semula padam, dinyalakan. Sementara, mereka sendiri membuat garis lurus, dari depan ke belakang.

Saat Teten berorasi, belasan remaja itu beringsut menuju panggung. Mereka menggumamkan kalimat-kalimat pendek yang berujung panjang. Kalau disimak, gumaman-gumaman itu sebenarnya seperti “koor” doa. Akan tetapi, saat itu, apa yang mereka lakukan tak lebih dari “musik latar” orasi Teten.

Civitas academika Universitas Pasundan (khususnya FISS) sengaja menggelar kegiatan tersebut. Bukan apa-apa. Kata Dekan FISS, Drs. Ramlan, M.Sn., mengenang Harry Roesli mengingatkan kepada kenangan seorang guru, kawan, dan seorang yang dekat –bahkan mungkin sangat dekat– dalam kreativitas yang tak pernah ada hentinya.

“Kita mengenang tidak cukup dalam satu kenangan manis, tetapi ia juga hadir dalam kenangan yang membuat kita selalu terpancing melihat sesuatu dari perspektif lain. Itulah barangkali yang membuat banyak orang kehilangan, setelah kepergiannya menuju Ilahi,” ungkapnya.

Wajar jika FISS Unpas merasa kehilangan dan bermaksud mengenang 100 hari kepergian musisi “bengal” tersebut. Bahkan, bagi FISS, hal itu merupakan kewajiban. Harry Roesli merupakan sosok yang tak dapat dipisahkan dari Unpas. Terlebih, pada tahun 1999, Harry mendirikan Jurusan Seni Musik di Unpas.

“Sampai akhir hayatnya, beliau konsisten menjadi pembina di fakultas. Oleh karena itu, peringatan 100 hari ini kami maksudkan untuk ‘mengumumkan’ bahwa Kang Harry juga merupakan seorang guru sekaligus pemikir pendidikan. Buktinya, beliau tak henti-hentinya menyampaikan konsep-konsep kurikulum pendidikan musik, khususnya di Jurusan Seni Musik Unpas. Sampai sekarang, kurikulum itu masih digunakan,” tuturnya.

Selama sehari penuh, FISS Unpas melangsungkan peringatan itu dengan berbagai jenis kegiatan. “Republic Entertainment”, “Doel Sumbang Team”, dan “Yayasan Seniman Jalanan” digaet sebagai mitra. Pukul 8.30 WIB, rangkaian kegiatan dibuka dengan peresmian studio baru dan dinamakan “Studio Harry Roesli”. Setelah itu, kegiatan diisi dengan pemberian anugerah kepada keluarga almarhum dan dilanjutkan dengan diskusi bertajuk “Harry Roesli dan Pemikirannya untuk Indonesia”.

Tak hanya itu, sebelum pentas seni dilangsungkan tadi malam, digelar pula pameran seni rupa dan fotografi. Sebagai puncak, dipentaskan pula puisi, teater, performance art, dan musik. Sejumlah seniman turut ambil bagian, seperti Putu Wijaya, Doel Sumbang, Didi Petet, dan sebagainya. Namun, peringatan kali ini tak sekental ketika peringatan serupa digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Sabtu (19/3) lalu. Tadi malam, Putu tak berkesempatan menampilkan teater eksperimental yang ia pentaskan di TIM. Atmosfer yang tercipta tadi malam tak mampu menggelorakan elan perjuangan, meski Teten Masduki berucap, “Saya akan melanjutkan perjuangan Kang ”. (Hazmirullah/PR)*** Minggu, 03 April 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: