”Biola Masuk ke Musik Apa pun”

Ramadhania Aladin,

“BIOLA itu friendly banget!” Itulah pernyataan spontan yang disampaikan Ramadhania Aladin, atau akrab disapa Nia, violis independen yang sedang mencoba bergabung dengan banyak artis dari warna musik yang berbeda.

Bagi Nia, biola bukan hanya instrumen yang dapat masuk pada aliran musik klasik. Lebih dari itu, biola bisa masuk ke berbagai warna musik. “Bener lho, sudah saya buktikan, saya sudah mencoba berkolaborasi dengan siapa saja, dengan warna musik apa saja. Hasilnya? tetap bagus kok, dan enak didengar!” ujarnya dengan antusias.

Sebagai violis yang tidak terikat dengan kelompok band tertentu, Nia pernah bergabung mengusung klip Ari Lasso, “Misteri Illahi”. Ia juga pernah bekerja sama dengan kelompok musik Caffeine untuk lagu “Bidadari” dan “Yang Tak Pernah”. Bahkan dengan Pas Band ia ikut andil pada lagu “Tak Pernah Ada”. Termasuk dengan Padi dan Aryo dalam “Detik Ketujuh”.

“Inilah yang saya kira menjadi satu bukti, biola bisa diterima oleh siapa pun dan warna musik apa pun, kan?” ujarnya menekankan. Nia mengaku, mempelajari biola sejak usia 12 tahun. Rupanya, pepatah buah jatuh tak jauh dari pohon, bisa diterapkan pada Nia. Neneknya seorang pianis. Bahkan, Nia pernah mendapat biola yang diwariskan dari buyutnya yang juga pemain biola. Dalam mengasah kepiawaiannya menggesek biola, Nia berguru kepada hampir semua guru biola yang ada di Indonesia. Karenanya, ia terobsesi untuk menghapus image, bahwa biola identik dengan musik klasik yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu yang eksklusif.

“Biola itu bersahabat banget lho dengan semua jenis musik apa pun. Aku pun ingin bersahabat dan mencoba memainkannya dengan siapa pun,” ujar Nia seraya menambahkan, bahwa biola bisa masuk ke berbagai jensi musik seperti jazz, pop, pop alternatif, rock, pop kreatif, dangdut, bahkan ska sekalipun.

“Kemarin aku baru saja mengisi musik acara pertemuan alumni kursus ESQ yang religius banget. Belum lama, aku juga sempat gabung ama Aa Gym untuk suguhan lagu-lagu islami. Meski demikian, ciri gesekan biola klasik Nia, tetap terasa cantik di pendengaran. Terutama saat Nia memainkan instrumen milik Kenny G. pada penyerahan beasiswa “PR” di Grand Ballroom Hotel Savoy Homann Bandung, Rabu (28/9).

“Memainkan biola itu, yang penting cara masuknya tepat, sehingga kehadirannya tidak merusak lagu yang sudah ada. Ini tergantung kepandaian kita,” ujarnya. Bagi Nia, biola memang bukan sekadar alat musik. Tetapi juga sahabat yang enak dibawa-bawa dan mampu mengekspresikan kondisi hatinya pada saat suka ataupun duka. “Biola itu kan ekspresif banget, makanya aku suka sekali,” ujar Nia yang mengaku ngefans dengan Vanessa Mae, Luluk Purwanto, dan Henri Lamiri ini.

Tentang pengalaman bermain biola yang tak terlupakan, Nia mengatakan, pernah sedih sekaligus kecewa, saat akan pentas di acara “SCTV Award” beberapa bulan lalu. “Bayangin aja, tiba-tiba saja biola saya, enggak bisa bunyi. Oh, aku malu banget. Tapi enggak tahu mesti gimana lagi,” ujarnya. Dari situ Nia mengaku, dalam kondisi apa pun seorang artis harus siap. Termasuk jika kelak ia masuk dalam jajaran selebriti violis Indonesia.

“Kalau enggak ada pengalaman seperti itu, mungkin aku tidak akan belajar. Tapi syukur alhamdulillah, karena peristiwa itu, mentalku sekarang jauh lebih harus dipersiapkan,” ujar Nia, mahasiswa Fakultas Hukum Unpar Bandung, yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya ini. (Eriyanti/”PR”)***Sabtu, 08 Oktober 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: