”Rainy Days” Persembahan Buat Perry Pattiselanno


IDANG Rasyidi, musisi kenamaan Indonesia itu, ternyata membuat komposisi jazz berjudul ”Rainy Days” seminggu lalu. Komposisi bernuansa acid itu dibuat secara khusus buat Perry Pattiselanno, musisi Indonesia yang tewas dalam ledakan bom di Hotel Grand Hyatt Amman Yordania, dua pekan silam. Rupanya, sosok Perry berkesan begitu dalam bagi seorang Idang.


PENYANYI jazz Dian Pratiwi bersama pemain terompet Rio Sidik yang tergabung ke dalam Grup Xinau membawakan sebuah nomor jazz dalam kegiatan Bali Jazz Festival di Sand Island Hard Rock Hotel Bali, Sabtu (19/11) malam.*
HAZMIRULLAH/”PR”

Bagi Idang, adik kandung Oele dan Jacky Pattiselanno itu merupakan salah satu maestro musik jazz terbaik yang dimiliki Indonesia, saat ini. Wajar tentunya jika musisi sekaliber Idang merasa kehilangan dengan tewasnya Perry. Perasaan Idang ditumpahkan ke dalam tarian jemari pada tuts hitam-putih piano, Sabtu (19/11) malam.

Nanda, teman sepanggung Idang, sepertinya juga terhanyut ke dalam perasaan itu. Terbukti, Nanda juga mengungkapkan perasaannya melalui petikan melodi yang menyayat-nyayat. Saat itu, Idang menghampirinya.

Penyelenggaraan Bali Jazz Festival pada hari kedua nyaris bisa dikatakan bernuansa etnik. Banyak penampil menyuguhkan kecenderungan seperti itu saat manggung.

Kecenderungan ke arah etnik itu dimulai oleh grup musik asal Yogyakarta, Anane. Yang teramati, hampir tak terasa ”aroma” jazz saat mereka tampil. Hal itu dibenarkan oleh Juliandi, pentolan grup tersebut, ketika ditemui ”PR” seusai tampil. ”Kendati demikian, ada dua personel kami yang berlatar belakang musik jazz, yakni Andi Setiawan (keyboard) dan Pramono Abdi Pamungkas (saxophone),” ungkapnya.

Malam itu, mereka menyuguhkan komposisi-komposisi yang berlatar sejumlah daerah di Indonesia, khususnya Gayo, daerah asal Juliandi. Komposisi yang mereka sajikan mengisahkan banyak cerita, terutama berkaitan dengan alam dan perjuangan.

Komposisi-komposisi yang mereka tampilkan itu adalah ”Tung Alung Alung”, ”Ho Ho Hi He”, ”Perueren”, ”Kekeberen Ni Pejuang”, dan ”Dansa Gayo”.

Sebenarnya, tak hanya itu yang mereka punya. Yang jelas, mereka sengaja menahbiskan diri sebagai grup yang berciri pengolahan ritme yang khas timur, permainan sukat, serta perpaduan jenis musik Turki, Melayu, Pelog, dan Hadrah Kuntulan ala Banyuwangi. ”Selain ritme, kami juga menggunakan sejumlah alat musik daerah. Malam ini (semalam,- red.), kami membawa Taganing dari Batak, semacam gondang kecil. Selain itu, kami juga menggunakan Djimbe dan Dun-Dun, alat musik khas Afrika,” katanya.

Nuansa etnik selanjutnya disajikan oleh Kul-Kul dan Xinau. Kedua grup tersebut mengusung nuansa Bali, saat tampil.

**

TADI malam, nuansa avant-garde dan free jazz menyeruak melalui penampilan grup Eero Koivistoinen, Trio dari Finlandia. Tiga personel grup tersebut adalah Eero Koivistoinen (saxophone), Giorgos Kontrafouris (organ, keyboard), Jussi Lehtonen (drum). Semula, personal grup itu adalah Eero Koivistoinen, Edward Vesala (drum), Pekka Sarmanto (bass). Waktu itu, mereka memilih jazz beraliran Avant-garde dan free jazz. Pada tahun 1967, Federasi jazz Finlandia kagum menyaksikan talenta Koivistoinen sebagai musisi jazz. Karenanya, Koivistoinen layak menerima Georgie Award sekaligus menjadi nominasi Jazz Musician of The Year di negaranya itu. Pada tahun 1969, Koivistoinen bersama grupnya berhasil memenangi kompetisi jazz di Montreux, Swiss.

Beberapa tahun lalu, Koivistoinen tertarik untuk mempelajari musik tradisi negara-negara di benua Afrika. Alhasil, ia membuat rekaman dengan seorang drummer asal Senegal pada tahun 1998. Nuansa itulah yang dihadirkan Koivistoinen.

Menyaksikan penampilan itu, wajar jika Sven Malm, seorang pengamat musik mengungkapkan, ”Lovely group play, strong with colour, unusual…”

Dua penampil lain yang juga memukau adalah Jan de Haas asal Belgia dan Rudresh Mahanthappa, warga AS berkebangsaan India. Di Amerika, Rudresh disebut sebagai Rising Star of The Alto Saxophone dalam polling yang diadakan oleh Downbeat International Critics. Tadi malam, kemampuannya itu disuguhkan dengan baik dan mampu menghipnotis penonton.

Hal yang sama berlaku bagi Jan de Haas, drummer, pemain perkusi, sekaligus pemain vibraphone. Semalam, ia menyuguhkan sejumlah komposisi bernuansa Latin. Inilah yang menarik dan sepertinya banyak disukai penonton. Jan de Haas memulai aktivitas profesionalnya pada tahun 1981, ketika ia mendapatkan job sebagai drummer di ”BRT Radio Big Band”, dengan konduktor Etienne Verschueren.

Setahun kemudian, ia kembali ke Eropa dan menjuarai Jazz Hoeilaart European Jazz Contest. Sejak itulah, ia menjadi drummer yang supersibuk, manggung dengan banyak musisi jazz Belgia maupun internasional lainnya.

Di antaranya, Chet Baker, Phil Wilson, Jeff Gardner, Tars Lootens, Toots Thielemans, Philip Catherine, Steve Houben, Richard Rousselet, Jacques Pelzer, Michel Herr, Erwin Vann, Pirly Zurstrassen, Nathalie Loriers, dan Fabrice Alleman.

Jan de Haas juga pernah manggung bersama sejumlah musisi solo internasional, seperti Jack van Poll, Eddie Daniels, Rick Margitza, Jerome Richardson, dan Jan Jarczyck. (Azmeer/”PR”)***Minggu, 20 Nopember 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: