”Trio Innova” Hangatkan Penikmat Musik Klasik


MATA ketiga musisi asal Prancis itu terpejam. Ketika itu, mereka yang menamakan diri “Trio Innova” memainkan sebuah repertoar klasik ciptaan Piazolla, “Libertango”. Patrick Zygmanowski pada piano, David Zambon pada tuba, dan Jean-Marc Fabiano pada akordeon. Ketiganya tampak sangat khusyuk kala memainkan repertoar bertempo lambat itu. Susunan tangga nada minor yang diusung terasa sangat membuai, merindingkan bulu kuduk, terkadang juga menyayat.


TIGA musisi asal Prancis yang tergabung ke dalam “Trio Innova” (dari kiri) Jean-Marc Fabiano, Patrick Zygmanowski, dan David Zambon membawakan sebuah repertoar klasik di Auditorium Pusat Kebudayaan Prancis (CCF), Jalan Purnawarman Bandung, Sabtu (16/7) malam.* HAZMIRULLAH/”PR”

Zygmanowski –musisi kelahiran Polandia 35 tahun silam– diberikan kesempatan membuka repertoar. Gemulai tarian jemari kedua tangannya kemudian terjadi. Dalam tempo lambat, jemari itu kemudian menjelajah tuts-tuts piano. Permainan Zygmanowski menjadi semacam “jalur utama” repertoar tersebut.

Beberapa saat kemudian, suara berat tuba David Zambon masuk, memunculkan melodi. Piano Zygmanowski tak lagi kompleks seperti semula. Sejauh itu, Jean-Marc Fabiano belum memainkan akordeonnya. Setelah saatnya tiba, barulah Fabiano bergabung bersama kedua temannya. Suara akordion yang dimainkannya seakan menjadi penegas “roh” repertoar itu.

Berganti-ganti mereka memfungsikan masing-masing alat musik yang mereka pegang. Adakalanya, piano menjadi melodi, akordeon mengusung chord, dan tuba menjadi “penyela”. Adapula, akordion memunculkan melodi, tuba mengusung (semacam) chord, dan piano menjadi “penyela”. Demikian seterusnya. Pendeknya, repertoar itu pun usai dengan menuai gemuruh tepuk tangan.

Lantas, ketiganya kemudian membawakan sebuah repertoar lain berjudul “Asturias”. Repertoar ciptaan Albeniz itu mengusung suasana berbeda dari sebelumnya. Tempo musik yang agak cepat –dan tangga nada mayor– menjadi penegas semua itu. Raut wajah ketiga musisi itu tak lagi bernuansa lara.

Ketika itu, tarian jemari Zygmanowski tak lagi gemulai, tapi bergerak cepat –kadang juga mencipta bunyi menyerupai derap langkah. Tuba di tangan Zambon tak ingin ketinggalan. Pun demikian, Fabiano tampak asyik berimprovisasi dengan akordionnya. “Kantong udara” yang berlipat-lipat pada alat musik itu –adakalanya– dikembangkan hingga panjang sekali. Bahkan, hingga sejajar dengan punggungnya. Mengakhiri repertoar, cepat-cepat Fabiano menutup “kantong” tersebut. Srrrep, sebuah ending yang indah.

Sebenarnya, repertoar “Asturias” itu dijadikan pamungkas konser yang berlangsung di Auditorium Pusat Kebudayaan Prancis (CCF), Jalan Purnawarman Bandung, tadi malam. Akan tetapi, rupanya ratusan penonton yang memadati ruangan tersebut –karena memang sedemikian kapasitasnya– belum merasa terpuaskan. Setelah meneriakkan “We want more!”, ketiganya kembali memasuki panggung.

Sebuah repertoar lagi kemudian dibawakan.Terjadi penurunan suasana di sini. Repertoar yang dipilih sebagai additional song agaknya kurang tepat. Makanya, terkesan terjadi sebuah degradasi. Ternyata tak hanya satu. Satu repertoar lagi mereka bawakan. Lagi-lagi, Zygmanowski bertugas sebagai pembuka. Ternyata, dalam tempo lambat ia memainkan piano.

Terasa sekali, suasana menurun drastis ketika menyimak permainan Zygmanowski. Pun demikian ketika kemudian Zambon masuk dengan tubanya. Zygmanowski –juga Zambon– mendadak menghentikan permainannya. Segera, Zygmanowski kembali bermain , kali ini dengan tempo cepat. Tepuk tangan segera membahana karena rupanya repertoar yang tengah dimainkan akrab di telinga. Ya, repertoar itu berjudul “Autumn Leaves”, sebuah lagu Jazz Standar yang pernah dibawakan oleh Nat King Cole.

Sontak, suasana kembali melonjak. Apalagi, kemudian Fabiano bergabung dengan permainan akordeon yang dibumbui improvisasi yang aduhai. Seketika juga, aturan pementasan musik klasik yang biasanya “ketat” kemudian dilanggar. Zygmanowski memberikan kode kepada penonton agar bergabung ke dalam musik, dengan tepuk tangan. Tak hanya itu, ketika kemudian tempo lagu itu diperlambat, dan Zambon ditugaskan bersolo, Zygmanowski mengambil sapu tangan dan kemudian mengusapkannya ke mata Zambon. Kejadian itu tentu saja mampu menerbitkan tawa.

**

PADA awal penampilan, Trio Innova belum memunculkan Jean-Marc Fabiano. Hanya duet Zygmanowski-Zambon yang tampil. Keduanya membawakan repertoar milik Sebastian Bach, “Sonata C Major BWV 1003” dan milik Schumann “Adagio and Allegro”. Setelah itu, Zygmanowski memainkan repertoar ciptaan milik Chopin. Kemudian, keduanya kembali berduet dengan menampilkan “Vocalise”, sebuah repertoar ciptaan Rachmaninov.

Setelah jeda, Fabiano belum juga tampil. Zygmanowski-Zambon kembali berduet dengan membawakan repertoar ciptaan Mozart, “Laudate Dominium”. Biasanya, kata Zambon, repertoar itu dimainkan dengan menggunakan biola. Lalu, keduanya menampilkan “Capriccio Tzigane”, sebuah repertoar ciptaan Kreisler.

Seperti sesi awal, Zygmanowski kembali tampil sendirian. Dia membawakan repertoar milik Debussy yang berjudul “Masque”. Katanya, musisi di Prancis mengenal repertoar itu sebagai “french touch”. Repertoar itu, imbuhnya, persis dengan sound of carnaval yang terdapat di Italia. Benar saja, seakan karnaval, tarian jemari Zygmanowski menjelajah piano. Tempo cepat dan lambat silih berganti. Pun demikian nada tinggi, rendah, mengalun, dan berderap. Tak jarang pula, Zygmanowski mencipta nada-nada mencekam.Kernyit di dahinya seakan menjadi penegas utama berbagai perasaan pada setiap denting yang ia bubuhkan ke dalam piano. Setelah itu, Zygmanowski juga memainkan repertoar Chopin berjudul “1ere Ballade”.

Barulah kemudian Fabiano tampil. Sendirian ia membawakan repertoar milik Faure, “Apres un Reve”. Lalu, ketiganya bergabung menjadi. Sayangnya, musik “gado-gado” Indonesia-Prancis hasil kreasi mereka tak ditampilkan, tadi malam. Padahal, pada konser sebelumnya –di Jakarta dan Surabaya– sempat mereka mengawinkan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dengan lagu nasional mereka, “Marseillaise”.(Hazmirullah/”PR”)***Minggu, 17 Juli 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: