365 Jam Mengenang Kepergian Harry Roesli


“JANGAN matikan lampu di meja kerja saya.” Itulah ucapan Harry Roesli, kepada keluarganya setahun yang lalu, menjelang kepergian untuk selamanya. Kata-kata itu pula yang menjadi salah satu pendorong lahirnya acara “365 Jam Mengenang Harry Roesli” di rumahnya, Jln. Supratman 57, Kota Bandung.

Lampu, merupakan lambang ambisi dan cita-cita yang tak pernah padam dari lelaki kelahiran 10 September 1951 tersebut.

Ketua Panitia, Layala Roesli (23), putra Harry Roesli, secara simbolik, membuka acara dengan menyalakan lampu di meja kerjanya. “Selama 365 jam, lampu ini akan menyala terus,” ujar Layala, disaksikan sekira 30 penonton. Dalam kurun waktu 365 jam itu, mereka akan mengadakan serangkaian kegiatan. Antara lain, acara seni musik, dialog tentang kebudayaan, ekonomi, dialog tentang problematika sehari-hari, dan pameran perjalanan karier, serta sepak terjang Harry Roesli semasa hidupnya.

Acara mengenang ‘kepergian’ Harry Roesli, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kang Harry, dibuka Sabtu (26/11), pukul 14.55 WIB. Puncak acara direncanakan jatuh pada 11 Desember, pukul 19.55 WIB, bertepatan dengan waktu ‘kepergian’ Kang Harry setahun yang lalu.

Ferdinand Semaun, pengurus Harry Roesli Foundation (HRF) mengatakan bahwa kegiatan itu bukan acara pergelaran, melainkan acara pencarian inspirasi dari spirit dan energi yang pernah dikobarkan Harry Roesli semasa hidupnya.

Acara tersebut terbuka untuk umum. Mereka menyediakan panggung untuk siapa pun mengekspresikan jiwa seni mereka di atasnya. Layala mengatakan, ia dan HRF ingin memperkenalkan kembali kepada publik bahwa Rumah Musik Harry Roesli (RMHR) adalah milik para seniman Bandung. Banyak seniman Bandung yang ‘besar’ di sana. “Saat ini, seniman bisa siapa saja. Bisa pemuda, pelajar, mahasiswa, ataupun anak jalanan,” ujar Lahami, saudara kembar Layala.

Memang, semasa hidupnya, Harry Roesli adalah tokoh yang dikenal peduli dengan para seniman jalanan, serta kaum pemulung di Bandung lewat Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) yang didirikannya. Selain itu, ia juga termasuk orang yang peduli dengan generasi muda. “Harry Roesli telah peduli, fokus, dan konsen terhadap kehidupan anak-anak muda. Sebab, anak-anak muda di matanya adalah kunci kebangkitan bangsa,” ujar Aat Suratin.

Ferdinandus, juga mengatakan, pada 10 Desember, akan dilangsungkan final Lomba Talenta Pengamen Cilik, pentas musik waspada AIDS, dan Antinarkoba. Pada puncak acara, Minggu (11/12), akan dilangsungkan diskusi besar tentang perekonomian, mulai pukul 13.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB. “Kami akan coba datangkan pakar-pakar ekonomi, tapi saat ini kami masih mengkonfirmasi mereka,” ujar Ferdinandus.

Pada dasarnya, menurut Aat Suratin, HRF berharap dengan acara tersebut dapat melihat kepergian Harry Roesli sebagai anugerah yang sangat indah. Semoga kepergiannya memberikan kesadaran baru tentang makna eksistensi kemanusiaan dan jadi tahu serta mengerti arti hidup ini.

Grup perkusi RMHR

Setelah acara sambutan, dari balik panggung keluar 4 lelaki dan 3 perempuan yang merupakan anggota Grup Perkusi RMHR. Penampilan mereka unik dan memukau penonton yang hadir. Untuk menghasilkan musik, mereka membanting-banting bangku plastik ke lantai dan memukul-mukul jemuran besi dengan stik drum. Enam orang membanting-banting bangku, dan satu orang memukul jemuran besi.

“Inilah adalah penampilan pertama mereka,” ujar Layala, selaku pelatih grup tersebut.

Grup ini, menurut Layala, sebelumnya selalu tampil dengan menggunakan beduk yang dikenal dengan sebutan beduk Jepang. Beduk Jepang adalah warisan almarhum Harry, dan beduk tersebut sudah dimiliki tiga generasi. Generasi pertama adalah grup Didi Petet, generasi kedua grup Saswi, dan ketiga adalah Grup Perkusi RMHR ini.

Format baru dengan menggunakan bangku dan jemuran besi, baru diciptakan Layala dan Rully Handiman pada Obtober 2005. “Ide musiknya, sih, dari barang-barang keseharian yang menghaslkan musik. Bisa apa saja,” tambah Layala.

Saat ini, ia juga sedang mematangkan konsep meeting music atau musik rapat. Musik rapat adalah rangkaian musik yang didapatkan dari barang-barang yang ada dalam kegiatan rapat yang bisa menghasilkan nada. “Kayak bunyi pulpen diketokkan ke meja, bunyi kertas saat ditulis, dsb,” ujar lelaki kelahiran 6 Juli 1982 tersebut.

Menjelang kepergiannya, Harry menyerahkan sebuah buku kepada anak kembarnya yang diwakili Layala. Buku tersebut terdiri dari sekira 300 halaman kosong. Hanya beberapa halaman depannya saja yang diisi prolog dari Herry Dim, Aat Suratin, dan Putu Wijaya.

Pada sampul buku tersebut terdapat gambar tengkorak kepala dan tulisan Harry Roesli (1951-2004). Hal itu, bagi Layala dan Lahami sebagai satu pertanda kepergian ayahnya. Untuk saat ini, buku itu masih disimpan di rumah Harry Roesli dan dikunci. Tidak semua orang bisa melihatnya.

“Satu saat nanti kita tunjukin buku kesaksian itu. Tapi, untuk saat ini sih, belum jelas mau dikeluarin kapan,” kata Layala.(Feby/”PR”)***Minggu, 27 Nopember 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: