Angklung Mang Udjo & Hangatnya Bajigur


SUASANA remang menyambut setiap undangan yang hadir begitu memasuki pekarangan belakang Saung Angklung Udjo Jalan Padasuka Bandung, Sabtu (28/5) malam. Bukan karena rimbunnya pepohonan bambu serta pohon kelapa dan pisang yang memenuhi pekarangan, tetapi akibat tidak berfungsinya lampu penerangan yang tersedia.

Beberapa undangan terlihat duduk lesehan di saung-saung yang ada di sejumlah pojok, sambil menyantap suguhan makanan khas Tatar Parahyangan seperti opak, rangginang, wajit, angleng yang ditemani bandrek dan bajigur.

Jika tamu menyempatkan diri berkeliling pekarangan, mereka pun bisa menikmati sajian kacang rebus dari para pedagang yang hadir dengan gerobaknya. Demikian pula halnya dengan sate, martabak telur, jagung bakar, nasi atau mi goreng, dapat dinikmati secara langsung.

Sambil menikmati hidangan ditemani gemerisik dedaunan bambu yang sebagian berjatuhan akibat tertiup angin malam, para undangan disuguhi nomor-nomor lagu khas Pasundan. Seperti tembang, “Mojang Priangan”, “Neng Geulis”, “Es Lilin”, “Manuk Dadali” dan lainnya. Mereka pun hanyut dalam seluruh acara bertajuk “A Culture, Nature, and Harmony in Saung Angklung Udjo 2005” tersebut. Sebagian besar insan pariwisata dan seniman tidak memedulikan kurang berfungsinya alat penerangan maupun kurang bagusnya tata suara.

Alat musik yang terbuat dari bilah-bilah bambu dan sangat sederhana itu, mampu menciptakan harmoni suara luar biasa. Paduan komposisi nada yang dihasilkan seakan bukan dari alat musik angklung tetapi berasal dari perangkat musik elektrik. Semisal nomor instrumen “Sepasang Mata Bola” saat mengiringi peragaan busana karya Tavip yang diperagakan Mojang dan Jajaka tahun 2004, mampu dimainkan dalam berbagai aliran musik.

Pada bagian awal “Sepasang Mata Bola” dimainkan dalam warna musik pop yang mengarah ke jazz. Memasuki reffrain irama musik berubah perlahan dan menjadi irama keroncong, beberapa saat kemudian berubah ke swing jazz dan ditutup dengan irama rock.

Tentu saja atraksi anak-anak dari Saung Angklung Udjo ini mengundang decak kagum dan tepuk tangan. “Mungkin ini yang selalu mereka pentaskan di luar negeri. Pantas sangat bagus dan tidak kampungan,” ujar salah seorang tamu mengomentari.

Memang, musik angklung selama ini banyak yang menilai semata-mata sebagai musik tradisional karena bentuknya yang sederhana dan terbuat dari bilah-bilah bambu.

Tetapi banyak yang tidak mengetahui kalau alat musik angklung dapat juga dimainkan untuk mengiringi tembang-tembang masa kini yang beriramakan pop kreatif atau kontemporer. Buktinya tembang “Ada Apa Denganmu” milik Peterpan pun tetap mengentak dan tidak kehilangan daya tariknya untuk diikuti hadirin.

Alhasil hingga menjelang pukul 22.00 WIB meskipun acara sudah berakhir sejumlah tamu undangan tetap memilih diam di tempat. Musik angklung terus mengalun menemani para undangan, ditingkahi semakin gemerisiknya daun bambu karena hembusan angin semakin besar. Sementara bulan yang sebelumnya berselimut awan mulai memperlihatkan wajahnya. (Retno HY/”PR”)*** Minggu, 29 Mei 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: