Anugerah Musik Indonesia


Membanggakan atau Sekadar Upacara?


Oleh UKON AHMAD FURKON

TADI malam, acara puncak Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2005 digelar di Jakarta. Wajah-wajah sumringah para pemenang menyeruak hingga ke ruang-ruang keluarga di seantero negeri melalui layar kaca. Lantas, hingga gelaran untuk yang kesembilan kalinya, adakah AMI –juga ajang penghargaan musik lainnya– telah mampu menjadi perhelatan yang membanggakan dan memberi makna? Ataukah keberadaannya terantuk pada rutinitas atau sekadar upacara?

Hadirnya ajang penghargaan, adalah sebuah keniscayaan sebagai insentif bagi insan-insan musik, juga merupakan salah satu barometer pencapaian, baik bagi industri musik secara keseluruhan maupun bagi insan musik secara personal. Dengan anugerah musik, iklim musik yang tercipta pun diharapkan menjadi lebih kondusif, dinamis, dan kompetitif.

Absennya penghargaan musik dapat menjadi ciri kondisi industri musik yang kurang gizi. Namun, ajang penghargaan musik yang berkembang seyogianya adalah ajang penghargaan yang berwibawa. Hal ini setidaknya dicirikan oleh dua indikasi. Pertama, ajang penghargaan musik dimaksud, benar-benar mampu menjadi ajang pemberian anugerah yang andal dan terpercaya, dilengkapi dengan sistem dan infrastrukur penilaian atau penjurian yang baik. Dalam konteks ini, yang diperlukan tidak hanya sekadar kecukupan personel penjurian serta mekanisme penilaian yang objektif, tetapi juga penyusunan kategorisasi yang valid, dan lain-lain. Kedua, ajang penghargaan musik yang berwibawa mampu mengemas dirinya menjadi sebuah sajian entertainment atau tontonan yang menarik. Indikatornya, sajian tersebut tidak hanya mampu mengakumulasikan atensi dan melahirkan decak kagum penonton di tempat pertunjukan dan pemirsa televisi, tetapi juga menjadi sebuah perhelatan yang mampu mengkristalkan kebanggaan dalam diri para artis musik sendiri. Dalam industri musik Indonesia sendiri, ajang penghargaan musik telah eksis cukup lama. Pada era 1980-an sempat muncul ajang penghargaan yang digelar oleh dua perusahaan kaset, yakni BASF Award dan HDX Award. Selain itu, sempat pula hadir PAMI (Penghargaan Artis Musik Indonesia) yang diprakarsai sebuah majalah musik dan KAMI (Kado Artis Musik Indonesia) yang digelar Forum Wartawan Musik Jakarta. Selanjutnya, pada tahun 1996 AMI memulai eksistensinya. Kini, selain AMI terdapat pula beberapa anugerah musik lainnya, seperti SCTV Music Award dan Penghargaan MTV Indonesia. Keduanya diprakarsai stasiun televisi. Hadirnya beragam ajang penghargaan, merupakan kabar menggembirakan apabila pemaknaannya dipadankan pada banyaknya pihak yang memiliki kepedulian dan apresiasi terhadap perkembangan musik di tanah air. Namun, apabila ajang-ajang tersebut kurang memiliki wibawa, hanya digelar seadanya, bahkan terkesan asal-asalan, tentunya kecil peluang keberadaannya mampu memberikan andil yang signifikan bagi perkembangan musik. Waktu pula yang kemudian akan memberikan jawaban, karena biasanya anugerah musik yang kurang kredibel, tidak mampu menjaga keseimbangan.  

Kendala dana

Untuk menghadirkan anugerah musik yang berwibawa, masalah dana kerap menjadi kendala. Hal ini dapat dipahami, mengingat penyelenggaraan anugerah musik membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana dimaksud, tidak hanya untuk membiayai acara puncak pengumuman pemenang, tapi juga untuk membiayai proses penjurian, pengadaan piala dan hadiah, promosi, dan lain-lain. Masalah dana itu pula yang tampaknya kerap menghinggapi perjalanan AMI. Untuk mengatasinya, Yayasan Anugerah Musik Indonesia (YAMI) yang menaungi AMI, sempat bereksperimen dengan menggaet produk tertentu sebagai sponsor utama dan dicantumkan sebagai nama kegiatan. Setidaknya, hal itu berlangsung pada periode 2000-2002. Namun, kebijakan tersebut telah melahirkan kontroversi panjang. Banyak musisi yang menginginkan agar AMI tidak dihubungkan dengan image produk tertentu untuk menjaga independensi. Kendati dari sisi isi, YAMI menjamin AMI tetap independen, namun dengan adanya embel-embel produk tertentu, susah rasanya membuang penilaian dependensi itu dari sisi kesan. Seolah-olah AMI menjadi milik produk yang bersangkutan. Untuk menanggulangi hal tersebut, AMI sesungguhnya tetap dapat menggaet sponsor. Namun agar independensi tetap terjaga, baik dari sisi isi maupun kesan, sebaiknya sponsor yang digaet tidak berasal dari produk-produk yang terkait dengan dunia musik, seperti label, pita kaset, dan lain-lain. Nama sponsor pun jangan sampai melembaga menjadi embel-embel nama penghargaan. Selain itu, AMI juga dapat menggandeng kalangan pemerintah secara lebih intensif. Terlebih sekarang ada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang semestinya memiliki perhatian terhadap perhelatan-perhelatan semacam ini. Terlepas dari permasalahan dana, dalam sembilan tahun penyelengaraannya, AMI telah mampu memberikan warna tersendiri dalam perjalanan industri musik di tanah air. Menyadari masih banyak hal yang harus diperbaiki, dari tahun ke tahun nampak upaya AMI untuk terus berbenah diri. Tak hanya dari sistem penjuriannya, tetapi juga dari gebyar acaranya. Tak heran, jika pada tahun-tahun awal penyelenggaraan, banyak musisi peraih penghargaan yang enggan untuk hadir langsung menerima piala, kini pemandangan tersebut semakin jarang terlihat.

Selain itu, tampak pula upaya AMI untuk adaptif terhadap perkembangan musik yang acap terasa begitu cepat. AMI 2005, misalnya, untuk pertama kalinya memasukkan lagu-lagu Indonesia berbahasa asing. Hal ini untuk merespons banyaknya lagu berbahasa Inggris yang ditelurkan artis-artis musik kita dalam dua tahun terakhir. Hal lain yang patut dicatat dari perhelatan AMI 2005, adalah cukup banyaknya artis-artis baru atau artis muda yang bertengger sebagai nominasi. Ada Pinkan, Tia AFI, Ello, Marcell, Dhea Ananda, Marshanda, hingga Digo yang merupakan artis pendatang baru asal Bandung.

Terpahatlah cacatan manis hadirnya banyak generasi baru dalam peta musik, setidaknya dalam satu tahun terakhir. Semoga saja, wajah-wajah muda dan baru tersebut, juga musisi lainnya yang lebih senior, tak hanya dapat menghadirkan musik, tetapi –sebagaimana tema AMI 2005– juga mampu menyajikan “cinta” dalam langkah dan karya mereka. Ketika teror menjadi berita yang biasa, ketika keadilan hanya ada di dalam kata, saat kehidupan dirasa semakin susah, kita sungguh-sungguh haus akan cinta. ***  PR-Sabtu, 19 Nopember 2005

Penulis, pemerhati musik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: