Bandung Pantas Disebut Kota Artis


Oleh DJASEPUDIN

KOTA Bandung dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia, mempunyai magnet tersendiri dan kekhasan yang mandiri. Seolah Bandung mempunyai daya pesona yang dapat memperdaya siapa saja. Berduyun-duyun masyarakat di nusantara berkunjung ke Bandung. Terutama anak muda. Seakan-akan belum dikatakan “anak gaul” bila belum main di Bandung.

Magnet Bandung tersebut satu di antaranya dibangun atas nama citra. Citra Bandung memang identik dengan keindahan. Makanya, Bandung sempat dijuluki “Paris”-nya pulau Jawa. Anak muda Bandung, memang dikenal kreatif dan berpikiran positif. Lebih-lebih dalam hal dunia hiburan.

Gambaran paling sahih, lihatlah kawasan Dago di malam Minggu, dari mulai sekitar pertokoan BIP hingga Simpang Dago atau di pelataran Gedung Sate: yakni di lapangan Gasibu, di situ tumplek-plek anak muda dari berbagai penjuru kota, berkumpul bersama melepas malam panjang dengan aneka kegiatan. Umumnya diekspresikan dengan pertunjukan kesenian.

Tak hanya Dago dan Gasibu yang mewadahi kehausan muda Bandung dalam berkarya. Kawasan GOR Saparua pun turut berperan. Sedikitnya, sebulan sekali GOR Saparua kedatangan muda-mudi Bandung menuangkan gejolak seninya. Atau datanglah ke gedung CCF (Centre Culturel Francais) dan Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) di dua tempat ini kerap dijadikan ajang unjuk kabisa muda Bandung dalam mengekspresikan gelora jiwa seninya.

Satu lagi tempat muda Bandung berekspresi adalah Gedung Kesenian Rumentang Siang. Di gedung yang berlokasi di kawasan Kosambi ini, bukan pertunjukan band yang unjuk kebolehan, melainkan acara pergelaran drama, longser, atau kabaret yang biasa disuguhkan. Tentunya panggung kesenian di kampus-kampus perguruan tinggi pun turut menyemarakkan kegiatan khazanah kesenian Bandung.

Dari sanalah bibit-bibit bakat seni mulai terangkat. Yang nantinya bakal meramaikan panggung seni jagat Jakarta (Indonesia).

Baik yang berkelompok mau pun perorangan tak sedikit artis yang menghiasi dunia hiburan Jakarta (nasional) berasal/meniti kariernya diawali dari Kota Bandung.

Dalam dunia perfilman nasional kita, tentu mengenal nama Rachmat Hidayat, Ibing Kusmayatna, Lenny Marlina, Ida Kusumah, Meriam Bellina, Yurike Prastica, hingga angkatan Rachel Maryam dan kawan-kawan.

Dari dunia sastra remaja (lebih dikenal “sastra pop”) kiranya kita tak mungkin melupakan nama Eddy D. Iskandar, Pimpinan Redaksi Tabloid Sunda Galura itu, banyak menghasilkan buku-buku yang menggambarkan dunia remaja kota. Salah satu judul bukunya, yang laris manis itu adalah Gita Cinta dari SMA. Juga Gola Gong yang mencuatkan Catatan Si Roy. Walaupun kampung halamannya di Serang, Banten, dalam proses kreatifnya beliau sempat “bergelandangan” di lorong-lorong Kota Bandung.

Sedangkan dari dunia sastra yang dianggap “serius”, Bandung pantas berbangga hati kepada Dewi Sartika. Gadis mungil yang masih menimba ilmu di UPI Bandung itu, menjuarai lomba novel se-Indonesia yang diprakasai oleh Dewan Kesenian Jakarta.

Lewat Dadaisme-nya, Dewi Sartika menyingkirkan puluhan naskah novel yang dihasilkan oleh sastrawan-satrawan senior dan berlevel nasional. Selain Dewi Sartika, Bandung pun patut berbangga pada Dewi Lestari alias Dee “RSD”. Dee, telah menghasilkan novel Supernova yang telah beberapa kali cetak ulang, karena karyanya laku di pasaran. Selain Dee, masih ada Icha Rahmanti yang melambung dengan karyanya Cintapucino.

Sedangkan dari dunia yang mengobral cuap-cuap kata, alias presenter, Bandung pun menyumbang banyak nama. Pada presenter pria, Bandung memunculkan Ferdi Hasan, Alford (merangkap pesulap), Farhan, Irfan Hakim, Doni Kesuma dan beberapa personil Project Pop seperti Izur Muchtar, Deni, Yosi, Ujo, Daan, Gugum, Aming Extravaganza, dll. Sedangkan pada presenter wanita, Bandung melejitkan nama Tika Panggabean, Rina Gunawan, belakangan juga Tina Talisa (Moka Jabar yang sekarang sering nongol di salah satu stasiun TV swasta).

Dalam dunia perhumoran pun, Bandung tak kalah dari hegemoni pehumor-pehumor yang berasal dari Jakarta atau Jawa yang tergabung pada grup lawak Srimulat. Apalagi setelah kemunculan grup SOS.

Atas dukungan berbagai pihak, baik pemerintah (Disbudpar Jabar), akademisi (SMKI), perseorangan (semisal: Tantan Sugandi, Miing Bagito, dan Kang Ibing), juga pemirsa di seluruh Indonesia, akhirnya SOS yang digawangi oleh Sule “Coy”, Oni “Sumardi” dan Obin, ternobatkan sebagai jawara API (Audisi Pelawak TPI) 1.

Yang menarik dan unik dari SOS adalah dalam setiap lawakannya selalu menampilkan guyonan-guyonan segar khas masyarakat Sunda. Bagaimana dengan dunia musik? Sami mawon, auman Bandung memang bergaung kencang. Mari kita lihat satu per satu dari genre musik berbeda.

Pada aliran rock, siapa sih yang tak mengenal grup Jamrud. Grup rock yang lahir di Cimahi ini, tengah digandrungi muda-mudi di seluruh pelosok negeri. Lewat tembang “Terima Kasih” dan “Tejo” itu, Jamrud semakin mengukuhkan bahwa Bandung gudangnya grup rock papan atas. Selain Jamrud dari Bandung, muncul juga grup /rif, GIGI, Pas Band dan Seurieus.

Sedang pada genre pop? Sarua. Bahkan Bandung dapat dikatakan tengah merajai pada genre ini. Entah itu yang pop murni atau pop rock. Untuk menyebut beberapa nama, kita sebut saja grup Bimbo, Elfas Singer’s, Five Minutes, The Cat, PHB, Caffein, Dygta, Laluna, 7 Kurcaci, dan belakangan datang Numata. Tentunya tidak melupakan grup band yang tengah naik daun, Peterpan. Grup band yang dimotori Ariel (vokal) ini, diakui atau tidak, telah menggeser popularitas grup band asal kota gudeg Yogyakarta, Seila on 7.

Peterpan, diawal kariernya, sebagaimana grup lain sering ngamen dari panggung kafe ke panggung kafe lainnya. Entah itu dalam acara festival atau undangan seremonial, Baik di panggung terbuka maupun di panggung tertutup. Peterpan juga sebelum terkenal seperti sekarang, di kalangan muda Bandung telah akrab di telinga, sampai pada akhirnya mereka dikenal ke seantero Indonesia setelah mengeluarkan album kompilasi yang melahirkan “Mimpi yang Sempurna”.

Artis-artis di atas hanya yang tergabung dalam sebuah grup band atau grup lawak. Sedangkan yang bersolo karier, lebih banyak lagi jumlahnya. Dari artis pria kita tentu mengenal pada Purwacaraka, Dwiki Darmawan, Iwan Abdurahman, atau Iwa K. Sedangkan pada artis wanita, kita mengenal Hetty Koes Endang, Nia Daniati, Trie Utami, Ruth Sahanaya, Mel Shandy, Inka Christie, Nicky Astria, Dewi Gita, Sania, Nadila, hingga Nira Diana.

Tentunya, kita pun patut mengingat pada artis-artis yang telah tiada. Di antaranya: sang legenda, almarhumah Nike Ardila. Walaupun Nike telah tiada, atas jasa-jasanya dalam dunia permusikan di Jawa Barat khususnya Kota Bandung, namanya selalu dikait-kaitkan bila ada artis pendatang baru. Namanya pun hingga kini tetap harum di antara para fans setianya.

Di jalur dangdut, Bandung tentu lebih bergaung. Baik secara pergelaran dangdutnya pun artis yang bermunculan ke permukaan. Anda tentu masih ingat di sekira tahun 2003-an, Bandung pernah semarak oleh aneka goyangan yang dipersembahkan oleh salah satu stasiun TV swasta dalam bentuk panggung hiburan dangdut, ada goyang bajigur, goyang bandrek atau goyang batagor.

Artis dangdut dari Bandung pun bertebaran di panggung nasional. Salah satu buktinya adalah Nais Larasati, duet Aas dan Iis Ariska, yang dibesarkan oleh grup BBR. Belakangan muncul nama Kinkin Kintamani dan Nita “Goyang Heboh” Talia. Artis yang berasal dari Cipacing ini tidak hanya terkenal sendirian, grup dangdut yang membesarkannya pun juga maju ke level nasional, yaitu Rudysta.

Data-data di atas semakin diperkokoh setelah adanya KDI (Kontes Dangdut TPI). Dari ajang kontes ini Bandung secara berturut-turut menempatkan wakilnya sebagai jawara pertama. Pada KDI 1 posisi juara ke-satu dan kedua diraih oleh Siti Rachmawati dan Nassar Sungkar. Sedangkan pada KDI 2, juara ke-satu dimenangkan oleh Gita. Uniknya, penampilan mojang asal Garut ini, dalam setiap penampilannya tidak mengumbar “eksploitasi birahi”. Gita murni menjual suara renyahnya. Sedangkan pada genre musik daerah (Sunda) Bandung pun tak kalah dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Di musik tradisional Bandung memiliki Darso, Yayan Jatnika, Nining Meida, dan Yana Kermit. Bandung patut berbangga pula kepada Doel Sumbang.

Di tangan Doel Sumbang, musik dan bahasa Sunda kini kian akrab di telinga pemirsa di nusantara.

Lain lagi pada dunia karawitan. Bandung memiliki Nano S. Kehebatan Nano dalam berkarier dibuktikandengan seringnya tampil di mancanegara. Nano pun sering mendapatkan penghargaan kesenian. Bukti teranyar, Nano S. diberikan anugerah budaya oleh Dewan Kesenian Jakarta pada bulan Desember 2004.

Oh, ya sedikit melenceng, dari dunia olah raga pun Bandung selalu memiliki selibriti di bidangnya. Bila dulu Bandung berbangga kepada Adjat Sudrajat (pemain kemeumeut Persib Bandung). Bahkan Adjat sempat mengeluarkan album berduet dengan Hety Koes Endang. Sedangkan kini, Bandung menjual Taufik Hidayat. Anak Pangalengan hasil didikan Iie Sumirat ini, tidak hanya indah menari-nari di lapangan hijau memainkan tepakan-tepakan bulu angsa. Jelas, Bandung memang gudangnya artis-artis potensial. Kebintangan anak-anak Bandung di level nasional sebelumnya telah teruji di “kawah keartisan Bandung”. Memang, situasi dan kondisi Bandung mendukung ke arah itu.

Melihat kenyataan-kenyataan di atas, selain julukan kota kembang, Bandung pun pantas mendapatkan julukan kota Artis. Setuju? Terserah Anda.***PR-Sabtu, 17 September 2005

Penulis, mahasiswa sastra Sunda Unpad, tinggal di Cibinong-Bogor.

2 Tanggapan to “Bandung Pantas Disebut Kota Artis”

  1. bagus juga ni tulisan, baik untuk jadi refernsi

  2. Memang Bandung jadi mazhab dunia seni. lanjutkan Kang Djasep nulis tentang seni dan bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: