Bubi Chen Masih ”Lincah”


TARIAN jemari Bubi Chen pada tuts-tuts piano ternyata masih lincah. Itulah yang memesona publik jazz yang memadati Sand Island Hard Rock Hotel, Kuta Bali, Jumat (18/11) malam.

Terkadang, tarian jemari itu melengking seolah menjerit. Terkadang pula, tarian itu mengalir bagai air. Malam itu, Bubi yang bergabung dengan Benny Likumahuwa, Jeffry Tahalele, serta kakak-beradik Oele dan Jacky Pattiselanno, memainkan berbagai “aroma”. Semakin lengkaplah “aroma” itu ketika vokalis Bertha muncul yang kemudian menyanyikan tiga lagu, yaitu “Lady be Good“, “Somewhere Over The Rainbow“, dan “Charade“. Ketika menyanyikan lagu Somewhere Over The Rainbow, Bertha berduet dengan putrinya yang masih belia, Jasmine.

Hari pertama penyelenggaraan Bali Jazz Festival semakin lengkap, karena grup Krakatau muncul sebagai penampil penutup. Seperti biasanya, Dwiki Dharmawan dan kawan-kawan menyuguhkan aliran world music dalam bumbu musik etnik melalui alat musik yang diusung tiga musisi Bandung, Yoyon Dharsono, Zainal Arifin, dan Ade Rudhiana. “The Gangs of Seven“, itulah salah satu komposisi original Krakatau yang dibawakan Dwiki dan kawan-kawannya.

**

PELAKSANAAN Bali Jazz Festival dibuka oleh penampilan grup musik asal Kota Bandung, Imam Pras Quartet. Sebagaimana halnya Krakatau, Imam Pras juga menyuguhkan jazz bernuansa etnik. “Kendati demikian, kami belum menggunakan alat-alat musik tradisional Indonesia. Nuansa etnik yang kami sajikan masih terbatas kepada rhytm pada alat musik,” katanya ketika ditemui “PR” seusai tampil di pentas.

Grup musik yang diawaki Imam Pras, Ari, Rudi Aru, Boyke Priyo Utomo itu menyuguhkan dua komposisi asli original mereka, “Nature” dan “Rebana“. Selanjutnya, grup itu mendaulat seorang penyanyi jazz Imel Rosalin, juga asal Bandung, tampil. Imel “menyulap” lagu jazz murni berjudul “Do Nothin’ Till You Hear From Me” garapan Duke Ellington menjadi rada-rada nge-rock sekaligus nge-blues. Lagu lain yang dibawakan Imel adalah “Bluesette” ciptaan Toot Thielmens.

Setelah Imam Pras Quartet, pianis cilik asal Kota Bandung, Zefanya Hartani Putra, tampil bersama Rudi Aru dan Boyke Priyo Utomo. Zefa yang sempat memecahkan rekor Muri itu membawakan enam lagu, yaitu “Peri’s Cope“, “All The Things You Are“, “Blue Bossa“, “Bud Powell“, “Freedom Jazz Dance“, dan “Straight No Chaser“.

Dalam kesempatan yang sama, grup musik asal Jepang, Peace of Cake, tampil di Hard Rock Cafe. Uniknya, sama sekali tak terasa “aroma” jazz dalam penampilan mereka.

Penampilan berdurasi 50 menit itu lebih mengusung aroma pop dan rock. Aroma jazz di Hard Rock Cafe baru terasa ketika grup-grup lain menyusul tampil, yaitu Jaco Quartet featuring Tuti Ardi, Yuri Mahatma Band, SimakDialog, Park Drive, dan NERA.

Setelah Zefa tampil, nuansa etnik kembali menyeruak di arena Bali Jazz Festival melalui penampilan grup musik asal Bali, Soulmate. Saat tampil, mereka mendaulat pemain harpa kenamaan Indonesia, Maya Hasan untuk tampil bersama. Perlahan namun pasti, suasana jazz semakin mengental menyusul penampilan soprano saxophone Joe Rosenberg. Musisi asal AS itu tak sendirian. Ia tampil bersama empat musisi berbeda negara, yaitu Masako Hamamura (Jepang), Aksan Syuman (Indonesia), dan Peter Scherr (Hong Kong).

Bali Jazz Festival sengaja dibuat berbeda dengan event-event jazz semacam Java Jazz Festival. Bali Jazz Forum dan WartaJazz, dua penggagas perhelatan tersebut, ingin menyuguhkan festival yang sebenar-benarnya.

Arief Budiman, Ketua Pelaksana Bali Jazz Festival mengatakan, perhelatan jazz tak seharusnya diseragamkan. Ada misi-misi tertentu yang hendak dituju. “Saya tak begitu suka jika dibanding-bandingkan. Kami memiliki tujuan tersendiri dalam hal ini. Dan, hal itu sebenarnya berselaras dengan filosofi jazz itu sendiri,” katanya.

Sebenarnya, Bali Jazz Festival juga digelar berkaitan dengan perasaan simpatik terhadap Bali yang dua kali luluh-lantak akibat ledakan bom. Dwiki Dharmawan pun berkomentar soal ini. Kata dia, musisi jazz ingin turut menyampaikan dorongan semangat kepada Bali –dan dunia pada umumnya– agar tak berlama-lama berduka cita.

Dalam upaya dorongan semangat itulah juga kiranya yang membuat Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik secara khusus datang ke perhelatan Bali Jazz Festival, Jumat (18/11) malam, sebelum Bubi Chen dkk. tampil.(Azmeer/”PR”)***Sabtu, 19 Nopember 2005

Satu Tanggapan to “Bubi Chen Masih ”Lincah””

  1. cintai kebudayaan daerah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: