Budaya Jawa di Mata Seorang Elizabeth


KOLABORASI penulis asal Prancis, Elizabeth D. Inandiak, dengan penari Didi Nini Thowok menarik untuk diapresiasi. Bertempat di Aula CCF de Bandung, Jln. Purnawarman No. 32 Bandung, Jumat (7/10) mereka menggelar pertunjukan “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan” yang diangkat dari “Serat Centini” sebuah karya sastra Jawa klasik, yang ditulis pada 26 Muharam 1230 tahun Hijriah, atau 1742 tahun Jawa, atau tahun 1809 Masehi pada wuku Marakeh di bawah naungan Dewa Hyang Surenggana.


PENARI Didi Nini Thowok memainkan salah satu tokoh dari berbagai tokoh dalam Serat Centini di Pusat Kebudayaan Prancis CCF Bandung, Jumat (8/10).*M. GELORA SAPTA/”PR”

Dalam pertunjukan tersebut, Didi Nini Thowok bertugas sebagai penerjemah narasi maupun pupuh (tembang) dari “Serat Centini” kedalam bentuk tarian yang dibawakannya dengan amat memikat, setelah Elizabeth membacakan teks tersebut, baik dalam bahasa Prancis, maupun Indonesia.

“Serat Centini” yang aslinya ditulis sebanyak 4.000 halaman itu, oleh Elizabeth diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, setelah ia meringkasnya menjadi 400 halaman. Namun sebagaimana teks aslinya, ia tetap menyertakan 722 pupuh dalam karyanya ini. Apa sebab? Karena 722 pupuh yang terdapat dalam ”Serat Centini” ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap suasana, tetapi juga berfungsi sebagai “ruh” yang menjalankan cerita yang sarat dengan persoalan-persoalan mistis, religius, konflik sosial-politik, dan juga seks.

Sebelumnya, Elizabeth menerjemahkan teks tersebut ke dalam bahasa Prancis, setelah ia minta tolong Ibu Sunaryati Sutanto untuk menerjemahkannya dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Waktu yang diperlukan untuk semua itu selama tujuh tahun.

“Bagian pertama dari ”Serat Centini” yang saya tulis ulang ini, sepenuhnya merupakan tafsir saya atas teks tersebut dalam versi yang baru, yang saya beri judul Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan. Bagian pertama dari serat ini, berkisah tentang kegelisahan Sultan Agung terhadap Sunan Giri yang tidak mau tunduk dan bahkan tak mau membayar pajak terhadapnya. Rasa kesal yang memuncak itu, membuat Sultan Agung mengambil keputusan untuk menyerbu Sunan Giri dengan memerintahkan sebuah pasukan dibawah kendali Pangeran Surabaya, untuk menggempurnya. Pertempuran itu, tentu saja banyak memakan korban,” tuturnya.

Dalam pertempuran itu, anak sulung Sunan Giri, Amongraga, berhasil menyelamatkan diri. Di dalam pertemuan itu, Amongraga tidak hanya kehilangan para kerabat dekatnya, kedua orang tuanya, tetapi juga kedua adik yang dicintainya itu pun, entah menghilang ke mana.

“Dalam kisah ini, kita bisa melihat pengembaraan Amongraga mencari kedua adiknya, hingga akhirnya ia sampai di Pertapaan Wanamarta. Di pertapaan tersebut Amongraga menikah dengan Nyi Tambangraras, putri Kyai Pertapaan Wanamarta. Selama 40 malam sejak malam pertama, ia bercakap-cakap dengan istrinya. Dalam setiap malamnya selalu ada ajaran hidup dan kehidupan yang dituturkannya, tanpa dibumbui adegan seks. Jika pun kemudian terjadi hubungan seks, adalah setelah 40 malam. Setelah itu, Amongraga meninggalkan istrinya yang masih tidur lelap. Dalam sepucuk surat yang ditinggalkannya itu, Amongraga mengatakan bahwa ia sangat menyintai istrinya. Namun , ia harus pergi mencari kedua adiknya . “Kisah ini benar-benar membuat saya jatuh cinta pada budaya Jawa, karena nilai-nilai kemanusiaan dibicarakan di situ dengan penuh simbolik,” jelas Elizabeth.

Elizabeth mengatakan, pada tahun 1996 ia diundang oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Therry de Beauce untuk makan malam di rumahnya. Dalam percakapan tersebut ia mengatakan ingin mencari satu kembang sakti dari Jawa yang sepadan dengan Bunga Mandragora dari Cina.

“Saya ceritakan kepada Beliau bahwa di Jawa ada Kembang Wijayakusumah yang hanya mekar pada malam hari, dan layu menjelang subuh. Ketika mekar, kembang itu menyebarkan wangi yang tiada tara. Kembang ini disebut dalam pupuh Serat Centini, pada pupuh ke 722. Saya cerita banyak tentang Serat Centini, sebuah karya sastra Jawa klasik yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Ia rupanya tertarik, lalu memberi tugas kepada saya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis dengan biaya ditanggung seluruhnya oleh Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia,” jelasnya.

 

**

PERTUNJUKAN dimulai dengan sebuah panggung yang lengang. Pada sebuah trap, seukuran satu kali satu meter, yang ditaruh di atas trap seukur satu kali dua setengah meter yang ditutup dengan kain hitam itu, disimpan sebuah note-book yang siap dioperasikan. Ketika lampu gelap, lalu masuklah Elizabeth dengan langkah yang pelan sambil menabur bunga melati. Bunga yang mengandung kekuatan mistis dan magis itu tidak hanya ditabur di sekitar tempat di mana ia kelak duduk di depan note-book yang siap dioperasikannya, tetapi juga sesekali di tebar ke arah kenonton. Selesai menambur bunga ia pun kemudian menyulut menyan, yang serbuknya ia taburkan di atas parukuyan.

Pada bagian pertama ini, ketika sebuah teks selesai dibacakan oleh Elizabeth, tampilah Didi Nini Thowok dengan tarian pembuka semacam penghormatan terhadap para arwah leluhur dan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang ditandai dengan tabur bunga. Tari Halus yang dibawakan Didi berpakaian ala perempuan ini, mampu menghadirkan suasana-suasana magis tertentu lewat kelenturan tubuhnya yang gemulai serta gerak jari-jari tangannya .

Ketika Elizabeth berkisah tentang Sultan Agung yang resah oleh Sunan Giri, yang kemudian dalam kegundahannya itu berkonsultasi dengan Penguasa Laut Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul. Dalam adegan ini ditampilkan Tarian Bedhoyo versi Keraton Yogyakarta. Konon hubungan Sultan Agung dengan Nyi Roro Kidul ini bukan hubungan biasa, tetapi terikat sebuah tali perkawinan. Semua ini dilakukan demi tegaknya wibawa Sultan Agung baik secara duniawi maupun secara gaib.

Bukan hanya Tarian Bedhoyo yang ditampilkan Didi dalam kesempatan tersebut, tetapi juga beberapa penggal dari Tari Topeng Cirebon versi Ibu Suji pun ditampilkannya, terutama untuk gerak-gerak tari gagahan ketika menggambarkan nafsu amarah peperangan yang menumpurkan Sunan Giri diserbu oleh Pangeran Surabaya. Amarah yang ditunjukkan lewat penggalan-penggalan Tari Topeng Cirebon yang kemudian dikreasinya dalam bentuk yang baru ini, benar-benar menarik diapresiasi. Tubuh Didi yang semula lentur pada tarian pertama, tiba-tiba jadi tampak berotot pada tarian ini, yang tidak hanya menggambarkan sebuah angkara murka dari nafsu manusia yang haus kekuasaan, tetapi juga sekaligus menampilkan sosok korban yang tidak berdaya ketika maut menggempurnya.

Pada titik yang demikian, Didi tidak hanya tampil berperan sebagai wanita atau laki-kali yang teraniaya. Tetapi juga berperan sebagai wanita atau laki-kali yang berkuasa. Kelenturan tubuhnya yang luar biasa ini – kadang-kadang membuat tarian jadi karikatural ketika ia berkisah tentang keramaian di sebuah sebuah pesta perkawinan Amongraga dengan Nyi Tambangraras yang ditampilkan lewat Tarian Kuda Lumping yang sudah dikreasinya lagi – hingga membuat penonton tertawa sepanjang adegan ini. Nama asli lelaki berusia 51 tahun ini adalah Didi Hadiprayitno. Tarian yang saya kreasi dari Serat Centini ini sebelumnya pada tahun 2004 lalu sudah saya bawakan di Barcelona bersama Elizabeth,” jelasnya.

Alasan Didi mendukung Elizabeth yang jatuh cinta pada budaya Jawa, adalah karena dengan cara semacam itulah arus budaya lokal bisa main di tataran arus budaya global. (Soni Farid Maulana/”PR”)***Minggu, 09 Oktober 2005

3 Tanggapan to “Budaya Jawa di Mata Seorang Elizabeth”

  1. bagus itu.walaupun aku gak terlalu percaya gaibnya tapi bisa melestarikan budaya jawa
    aku bisa minta salinan surat centini yang di bahasa indonesiakan ?

  2. widijatmoko Says:

    cerita yang bagus,,,semarang,8 november 2008 saya ikut bedah buku serat centini dengan pembicara langsung pengarang buku,elizabeth..
    makasih buat mbak elizabeth telah berusaha jatuh cinta dan mengexplore budaya jawa…
    sukses buat elizabeth

  3. Saya sangat bangga dengan ibu Elizabeth sebagai seorang penulis Perancis yang mau menghidupkan cerita-cerita budaya jawa klasik yang sungguh menarik untuk diketahui….disaat menulis komentar ini saya sedang mengikuti bedah buku “Serat Centini” dengan pembicara Ibu Elizabeth sendiri di “Pesta Semarang Sejuta Buku”.

    bravo Ibu Elizabeth…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: