Gamelan Sari Oneng Pernah Tertinggal di Belanda?


Oleh SOPANDI
KABUPATEN Sumedang, agaknya layak dijuluki sebagai kota tua yang memiliki sejarah unik, dengan kehidupan para pangerannya yang heroik, agamis, dan “nyeni”. Bertandang ke kabupaten yang mempunyai luas wilayah 1.522,20 km atau sekira 152,129 ha dengan ketinggian lebih dari 100 dpl. ini, selalu diingatkan kembali pada kisah asal-usul nama Sumedang.

Menurut legenda rakyat Sumedang, kata Sumedang berasal dari ucapan Prabu Tajimalela pada saat terjadi keajaiban alam sekitar Tembongagung, di mana langit menjadi terang benderang oleh sebuah cahaya yang melengkung menyerupai selendang (malelai), selama tiga hari tiga malam. Peristiwa itu, terjadi bertepatan dengan penyerahan tahta kerajaan kepada salah seorang putra Prabu Tajimalela yang terpilih dalam sebuah ujian atau sayembara. Yakni Gajah Agung, putra kedua Prabu Tajimalela. Pada saat itu, Prabu Tajimalela berucap Insun medal, insu madangan yang artinya, ‘aku lahir untuk memberi penerangan’.

Sejak saat itu, timbullah nama Sumedang yang kemudian menjadi kerajaan Sumedang Larang, di mana sebagai nalendranya ialah Prabu Gajah Agung dan wilayahnya harus mencari sendiri. Dari sinilah, Prabu Tajimalela mengajarkan ilmu kesumedangan yang berisi 33 pasal, dan kelak di kemudian hari menjadi falsafah hidup rakyat kerajaan Sumedang Larang. Sedangkan, kata Sumedang Larang ditinjau secara etimologi, mempunyai arti Su= bagus, Medang= luas, Larang= jarang bandingannya (tanah luas bagus yang jarang bandingannya).

Keunikan lain dari kehidupan para Pangerang Sumedang, yaitu memiliki jiwa seni dan suka menikmati kesenian tradisional, seperti menikmati musik gamelan, pertunjukan sendratari dan tari topeng. Meski di abad kemudian, untuk menikmati pertunjukan kesenian tradisional, pada masa penjajahan Belanda sekira tahun 1920-an tidak memiliki waktu dan tempat proporsional. Pada zaman Belanda, bangsawan pribumi lebih mendapat tempat yang nyaman menikmati musik yang bernuansa Eropa, sambil dansa-dansa dan menyantap makanan sebagaimana yang dilakukan kaum penjajah. Tempat yang paling populer untuk menikmati hiburan bernuansa Eropa di Sumedang pada waktu itu, ialah Preanger Weed Look Societiet yang oleh bangsa pribumi disebut Gedung Silet.

Sekarang, setelah mengalami pemugaran dan peralihan fungsi, disebut Graha Insun Medal, letaknya tak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang.

Sejak pemerintahan Jepang tahun 1945, bangsawan pribumi baru dapat menikmati kembali pertunjukan kesenian tradisional yang lebih leluasan karena Gedung Silet oleh Jepang dijadikan tempat hiburan tentara Dai Nipon dan bangsawan pribumi dengan pertunjukan kesenian tradisional. Kesenian yang bernuansa Eropa oleh Jepang dilarang. Sejak saat itu, Tari Topeng Cirebonan dan sendratari sering dipentaskan di sana.

Jejak peninggalan para pangeran Sumedang yang memiliki jiwa seni, masih bisa terasa hingga saat sekarang. Jika sesekali kita berkunjung di hari libur ke kompleks Museum Prabu Guesan Ulun, kita disambut suara gamelan dan lembutnya alunan suara pesinden membawakan nyanyian daerah Parahyangan. Seperti yang dirasakan penulis, waktu berkunjung ke Museum Prabu Geusan Ulun beberapa waktu yang lalu.

Sejak berada di Gedung Srimanganti yang merupakan bangunan utama dari 6 bangunan Museum Prabu Guesan Ulun, penulis telah disuguhi tetabuhan gamelan. Gamelan yang ditabuh di Gedung Srimanganti rupanya sebagai sambutan para tamu pengunjung. Sedangkan bila kita ingin menikmati pertunjukan latihan tari-tarian dan melihat alat-alat gamelan peninggalan Pangeran Panembahan dan koleksi alat gamelan lainnya, tempat khususnya adalah Gedung Gamelan.

Di gedung yang dibangun pada tahun 1973, atas sumbangan Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta pada masa itu, tersimpan gamelan Sari Oneng Parakan Salak abad 19. Gamelan ini, pernah dipamerkan di Amsterdam tahun 1883, dan di Chicago 1893 serta sempat tertinggal di Belanda dan baru kembali tahun 1989.

Selain gamelan Sari Oneng Parakan Salak abad 19, di gedung yang juga dipergunakan sebagai tempat latihan tari-tarian daerah ini, disimpan (koleksi) gamelan Sari Oneng Mataram abad 17 peninggalan Pangeran Panembahan, gamelan Sekar Manis abad 18, gamelan Sekar Oneng abad 18, dan gamelan Sangir abad 18.***PR-Sabtu, 08 Oktober 2005

Satu Tanggapan to “Gamelan Sari Oneng Pernah Tertinggal di Belanda?”

  1. cuman perlu lebih di sosialisasikan lagi supaya masyarakat lebih mengenal, menjadi sebagai bahan apresiasi & lebih bisa menghargai benda yang bernilai sejarah ini ? misalanya masuk ke acara-acara tv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: