Ketika Budaya Pop dan Etnik Bersentuhan

Dari Konser Musik Megalitikum Kuantum

DI tengah zaman yang terperosok pada “amoralisasi estetik” kaca segi empat, cyberspace dan kabel-kabel elektronik telah memunculkan tombol-tombol kehidupan baru. Termasuk media partisan kita yang sering menampilkan keberingasan, sadistis, kematian, seks, pornografi, dan “kenikmatan” dunia dalam bentuk lain. Di sisi lain, kebudayaan dunia dan ruang-ruang fiksi kita, telah dibangun menjadi sebuah gudang material untuk menyimpan harta benda.

Pendek kata, ruang publik kita memperlihatkan kecenderungannya yang bersifat rongseng, cengeng, praksis, rekreatif dan lebih menonjolkan bentuk keindahan luar. Maka, tidak mengherankan jika sampai kurun terkini, kulturalisme masyarakat kian terseret ke belakang. Ditinggal oleh kecemerlangan sejarahnya sendiri.

Dan inilah barangkali — antara lain — berbagai ekspresi yang dimunculkan lewat perhelatan kebudayaan bertajuk “Megalitikum Kuantum” yang berlangsung di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Rabu malam (29/6).

Konser musik ini, bak dititahkan sebagai radar untuk menangkap getaran kosmologis yang bergerak di sekeliling kita. Malam yang dibuka dengan gemuruh tetabuhan musik etnik asal Nias, benar-benar memberi impresi, kesan mendalam. Tentang jagat alam raya. Tentang upaya pelestarian, pengembangan dan pewarisan nilai estetik dan benda-benda artistik dalam korpus keyakinan maupun sensus budaya.

Vokalis Candil dari kelompok grup musik Seurieus memaknai pertunjukan ini dengan tampil lebih awal lewat tembang “Entah Siapa”. Tak sendiri, Candil ditemani penari etnik dari Desa Bawomataluo, Nias. Dipadu dengan pemusik Budi, Mates, Doni, dan Grenek. Menempatkan akselerasi musik indah yang dikawal, musisi Dwiki Darmawan (keyboard) sebagai Asisten Music Director, mendampingi Rizaldi Siagian (Music Director). Komposisi musik lagu dan syair “Orahua” dan “Ho Ho” terasa lebih memiliki roh ketika tiupan Saluang Minang dan tetabuhan Talempong, mengingatkan tragedi gempa Nias yang membawa ombak derita wilayah itu.

Syair “Orahua” dan “Ho Ho” berpesan terhadap peradaban, agar kembali untuk menghayati nilai-nilai sangkan paraning dhumadi. Soal asal usul, dari mana, mau apa, dan akan ke mana? Agar amaliah ini tak hanya memberi nilai di dunia, tapi sampai ke Arasy (Kerajaan Langit) dan tempat asal muasalnya manusia.

Konser dilanjutkan melalui kreasi alat musik harpa dari Maya Hasan. Satu-satunya maestro harpa Indonesia ini diberi kesempatan berkolaborasi dengan para pemusik Sampek dari Kalimantan Timur. Sampek, sejenis gitar bersinar tiga, yang selama ini dikenal sebagai instrumen musik khas masyarakat Dayak. Lalu perpaduan ini diperkuat dengan kehadiran grup tari olahan koreografer ternama, Boy G. Sakti. Segmen ini, memang dirancang untuk menampilkan dua instrumen petik secara kolaboratif.

Di segmen berikutnya, tampillah Krisdayanti. Tapi jangan coba-coba meminta penyanyi dengan sebutan KD ini tampil seperti biasa. Menyanyikan lagu pop yang tengah hits misalnya. Karena sang diva musik pop ini, harus melanjutkan skenario pesan global yang sudah diracik Rizaldi Siagian (music director) untuk membawakan lagu “Berputar”. Selain puitis, tembang ini juga syarat pesan tentang kebingungan budaya.

Krisdayanti sendiri tampil dalam dua lagu. Pertama, menyanyikan lagu “Berputar” dan kedua membawakan lagu “Hati Bertanya”. Kedua-duanya diakui KD cukup menyita energi. Pertunjukan kali ini bagi KD memang tidak biasa. Setidaknya butuh pemahaman ekstra. KD mengaku, perlu waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan ruh pesan sentral konser musik ini.

Secara menyeluruh, tampil pula artis pop lain, seperti Agnes Monica, Iyeth Bustami, Amiroez, Indra Lesmana dan Dwiki Dharmawan. Dari barisan seniman tradisional tampil pula kelompok Kuntulan Banyuwangi, Grenek, Jegog Bali dan sejumlah musisi seperti, Pradja Budhi Dharma, AS Mates, Donny Suhendra, Budhy Haryono, Innisisri dan Rahayu Supanggah. Tampil juga para penari besutan koreografer Boy G. Sakti, Didik Nini Thowok dan para penari latar Agnes Monica.

Penampilan Agnes Monica lewat lagu “Ku Tlah Jatuh Cinta” dan lagu “Tunggu Apa”, barangkali bisa disebut mewakili seni pop di konser yang menggabungkan dua kutub; pop dan tradisi. Agnes tampil lengkap dengan para penarinya. Ia tak mengubah performa sebagaimana biasanya tampil, pop, fungky dan dinamik.

Tampil juga prosesi Gondang Batak dan Bali Stamping Rice lewat lakon Alu-Alu. Pertunjukan berpuncak pada Ketawang Puspo Warna, sebuah komposisi musik yang dikenal sebagai racikan karya Mangkunegara IV (1853-1881) yang membawa peradaban bumi keluar angkasa.

Sakralitas berhasil dimunculkan lewat kolaborasi Dwiki Darmawan, Rahayu Supanggah, Nyak Raseuki “Ubiet” dan Didik Nini Thowok.

Dari segi kreatif seni pertunjukan, konser musik Megalitikum Kuantum ini bukan hal baru. Sebab kolaborasi serupa sering juga dipertontonkan para musisi lain. Sekadar pembanding, kita pernah menyaksikan musiknya Djaduk Ferianto, musik Kyai Kanjeng Emha atau kreasi musiknya Manthous ala campursari.

Tak terlalu menonjol pembedanya. Megalitikum Kuantum hanya mengolaborasikan instrumen modern dan klasik yang diwakili keyboard, piano, gitar, drum dan alat musik perkusi model instrumen jegog, tabla, rampak beduk, suling, kemong (Talempong), Sampek dan lain-lain. Tampak menonjol barangkali dari aspek artistiknya, garapan Jay Subiyakto (art director). Panggung terlihat megah, glamor dan spektakuler. Impresi megalitik dari zaman batu suku Nias. Jumlah artis yang tampil juga cukup banyak mencapai 170 orang. Belum lagi kru dan awak pendukung yang berjumlah lebih dari 200 orang.

Dari segi gagasan konser ini patut diberi apresiasi. Immaterial oriented. Memberi penalaran tak terbatas. Di tengah zaman yang tengah terperosok pada amoralisasi estetik. Dengan fenomena budaya massa dan seni hiburan sensasional — vulgarisme dan eksploitatif terhadap kemanusiaan — yang selama ini secara sistematis didistribusikan oleh para pengelola jasa hiburan kita bernama “kotak kaca segi empat”. Wallahu alam bishowab.(Eddie Karsito/”PR”)***Sabtu, 02 Juli 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: