Musik Kita dan Upaya ”Go International”

Prestasi atau Disorientasi?

Oleh UKON AHMAD FURKON

MENDUNIA atau bahasa kerennya go international. Istilah ini tampaknya sangat keramat bagi sebagian insan musik di tanah air, baik itu musisi atau penyanyi maupun publik musik. Dikenal di mancanegara seakan diposisikan sebagai pencapaian tertinggi atau pelabuhan terakhir dari karier bermusik. Tak heran jika ada musisi yang merasa kiprahnya belum sempurna karena belum mendunia.

Tak perlu kaget jika ada publik musik yang merasa industri musik tanah air belum mencapai hakikat kemajuannya karena artisnya belum banyak dikenal di negeri luar.

Dalam praktiknya, go international juga kerap mengalami reduksi makna. Jika sukses menggelar konser di Jepang, itu belum dianggap go international. Apalagi jika sekadar mampu menjual album di negeri tetangga seperti Malaysia atau Singapura.

Kata mendunia, kerap kali diidentikkan dengan Eropa atau Amerika. Maka, belum dikatakan mendunia jika belum mampu menembus pasar mereka. Tak heran jika ada grup musik yang dipandang mulai dapat merentangkan sayapnya setelah manggung di negeri Paman Sam, kendati penontonnya kebanyakan TKI dan mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di sana. Atau, tak perlu kaget, seorang penyanyi ternama, masih merasa perlu ikut audisi sebagai vokalis grup band di Amerika, kendati di negeri sendiri ia telah memiliki band yang andal dengan penggemar yang mapan.

Lantas, mestikah dikenal di negara luar dimaknai sebagai pencapaian puncak? Ataukah ada yang kurang tepat dalam menerjemahkan kata “mendunia” selama ini?

Sudah menjadi pengetahuan global, Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan dan kebhinekaan yang luar biasa: budaya, bahasa, adat istiadat, agama, dll. Dengan latar yang berbeda-beda dari beragam dimensi itu, selera dan preferensi individu yang terbentuk pun sangat beragam pula. Oleh karena itu, kemampuan untuk menaklukkan pasar dalam negeri yang beragam itu, sesungguhnya telah menjadi catatan prestasi tersendiri yang luar biasa. Apresiasi dan acungan jempol layak disampaikan kepada yang mampu melakukannya.

Kita dapat menyaksikan, betapa banyak musisi mancanegara yang sangat ingin menaklukkan pasar Indonesia karena jumlah dan potensinya yang begitu besar. Namun fakta menunjukkan, hanya sedikit saja dari mereka yang secara meyakinkan mampu melakukannya. Jika setelah mampu berkiprah di dalam negeri ada penyanyi, musisi, atau grup musik yang berupaya melebarkan sayapnya ke mancanegara, tentu saja itu merupakan hal yang sangat bagus selama orientasinya adalah mencari tantangan baru, memperluas pasar, dll.

Budaya inferior

Memahami lebih mendalam motif go international, menjadi makin relevan manakala kita melihat kenyataan betapa sifat inferioritas Timur terhadap Barat masih begitu menggejala dalam masyarakat kita. Kita bangga jika sudah ke Barat, menjadi seperti Barat, seolah-olah yang datang dari Barat selalu lebih eksklusif dan prestisius.

Tak aneh jika musik pop Indonesia lebih banyak memunculkan warna Barat. Publik musik pun lebih banyak mengkonsumsi musik berbau Barat. Sangat sedikit musisi Indonesia yang mencoba menggali khazanah melodi dan bebunyian tanah air, begitu pula dengan publik musik yang mengapresiasinya. Jangan heran jika ada radio yang enggan memutar lagu dari sebuah band karena lagunya dipandang mengandung unsur Melayu, kendati band tersebut tengah digandrungi. Juga tak perlu aneh, jika penampilan dan gaya bermusik band-band pendatang baru dalam sebuah kontes band di sebuah stasiun TV swasta, begitu kentara rasa Barat-nya. Tak tampak upaya untuk membawa warna Indonesia. Mengapa sedari awal mereka sudah kehilangan orientasi?

Kenyataan ini sesungguhnya suatu yang sangat ironis. Di saat insan musik tanah air begitu memuja Barat, insan musik Barat sendiri sesungguhnya, justru banyak yang mulai bosan dengan nada diatonis dan mulai mencari nilai-nilai musik baru dari berbagai pelosok dunia.

Pada musik Timur, mereka menemukan gairah baru. Lantas, muncul genre baru seperti world music yang mencoba memadukan musik Barat dan Timur. Jejak-jejak upaya itu, antara lain dapat dilihat pada musik Sting, Peter Gabriel, Madonna, Mickey Hart, hingga Michael Jackson. Hebatnya, mereka antara lain terinspirasi khazanah gamelan yang berasal dari musik tradisi Indonesia.

Upaya serupa dilakukan Yani dari Yunani dan Kitaro dari Jepang. Mereka sukses mengawinkan musik tradisi mereka dengan musik Barat yang telah lebih dulu menginternasional.

Masih rendahnya apresiasi publik musik domestik terhadap musik nasional, juga terlihat dari keberadaan seniman yang mencoba membawa warna Indonesia yang jumlahnya masih segelintir itu, yang justru lebih dikenal dan dihargai di luar negeri dibanding di negerinya sendiri. Karya-karya musik Sapto Raharjo yang mengangkat warna Indonesia, misalnya, lebih dikenal di Prancis ketimbang di negeri kelahirannya. Bahkan, ada seorang seniman tradisional Aceh bernama Marzuki, yang musiknya justru direkam Michael Jackson. Begitu pula musik etnik milik salah satu suku di Papua yang tidak pernah kita dengar, malah sudah muncul dalam bentuk rekam CD di Amerika, Jepang, dan Prancis.

Pada akhirnya, persoalan go international atau memposisikan musik Indonesia dalam konstelasi global, pastilah bukan upaya untuk mendikotomikan musik menjadi musik Barat, musik Timur, musik nusantara-bukan nusantara, musik modern-tradisional, dan seterusnya. Bagaimanapun, musik adalah bahasa universal yang melintasi waktu dan ruang. ***PR-Sabtu, 17 September 2005

Penulis, pemerhati musik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: