Pentas ”Highlight” Kurang ”Sense of Crisis”


Oleh ADJIE ESA POETRA
KEKUATAN mata dalam memengaruhi otak bukan main hebatnya, yaitu sekira dua puluh kali lipat dibanding kekuatan panca indra lainnya. Kenyataan tadi tentunya sangat disadari para penyelenggara dunia pertelevisian kita. Oleh sebab itu, broad cast televisi manapun – senantiasa memosisikan dirinya sebagai pesolek.

Akhir-akhir ini para pesolek, sangat rajin menyelenggarakan pertunjukan musik yang sifatnya highlight, atau pertunjukan musik akbar yang menghadirkan penonton dalam jumlah banyak. Tujuannya selain demi memperoleh daya hipnotis yang tinggi, juga meraih prestasi finansial yang setinggi tingginya pula.

Pertunjukan highlight musik yang dilakukan para pesolek profesional itu biasanya dilakukan di panggung yang besar, ditunjang kekuatan energi listrik bertegangan tinggi agar mendapatkan efek lighting dan dentuman sound system berdaya hipnotis tinggi. Tentu saja, pertunjukan itu selalu mempertontonkan personel dalam jumlah yang banyak.

Sifat pertunjukan highlight, biasanya lebih gemar menampilkan grup musik dari pada penyanyi solo. Keuntungan dari menampilkan grup musik karena secara kuantitas bisa terkesan lebih semarak. Sebuah grup musik biasanya selalu mempertontonkan gerak gaya yang lebih hidup dan semarak, dibanding penampilan artis solo yang selalu dilatarbelakangi gerakan pasif para pemain musiknya. Dalam memgantisipasi kecenderungan sebuah highlight, Melly Goeslaw, Ello, Audy, Glend Fredly, Rio Febrian, dll dengan cerdas membentuk grup musik .

Highlight musik televisi di tahun 2005, adalah sebuah fenomena yang lebih menguntungkan grup musik dibanding para para penyanyi solo. Di tahun itu pula selain banyak bermunculan grup baru yang tiba-tiba terkenal seperti, Tangga, Krispati, Malik n D Esential, Ten 2 Five, Kapten, dll,- juga mencuatkan grup musik yang sebelumnya setengah terkenal menjadi sangat terkenal.

Contohnya, grup musik Raja yang tiba tiba menjadi fenomena menonjol dengan album keempatnya ”Tulus” yang dirilis tahun 2005. Tentu saja kejayaan Peterpan, sangat membanggakan orang Bandung. Bagi Peterpan, tahun 2005 bisa jadi tahun yang paling mengesankan dan belum tentu bisa didapat lagi di tahun mendatang.

Para personel grup yang berusia relatif muda yang mencuat, bermunculan di tahun 2005 akan menjadi ancaman bahkan bisa menggoyahkan eksistensi grup lebih senior seperti Jamrud, Gigi, Dewa, Padi, Sheila on 7, dll. Apalagi berbagai konsep lagu dan musik dari para pedatang baru itu, terkesan lebih bercorak segar, lebih sederhana dan lebih mudah dicerna. Formula lagu yang lebih sederhana biasanya akan lebih diakrabi masyarakat di saat merasakan beban hidup yang semakin sulit.

Perilaku highlight musik yang menjepit kemunculan para penyanyi solo pendatang baru, mengakibatkan dunia musik kita di tahun 2005 hanya mampu mencuatkan seorang superstar baru, Ello. Memang banyak nama-nama lain yang terpromosikan lewat Indonesian Idol dan AFI 2005, namun mereka masih belum mencuat secara signifikan .

Tahun 2005 pun meninggalkan catatan yang tidak biasa. Tren musik Indonesia sebelumnya sangat dipengaruhi peta perkembangan lagu lagu barat. Namun untuk tahun 2005, menurut Dony Irawan entertainer yang sering mentas di berbagai cafe dan pub, permintaan lagu di tahun 2005 justru sangat didominasi lagu lagu-grup dalam negeri, padahal di barat sana grup musik sedang sama-sama merajalela.

Artis barat yang bisa mengimbangi dominasi grup musik domestik di Indonesia, paling banter hanyalah grup musik ”Black Eyed Peace” melalui lagu ”Where Is The Love” dan penyanyi solo, Mario yang membawakan ”Love Me Love You”.

Di tengah-tengah budaya global yang tengah didominasi barat, tren musik di sana memang masih menyisakan pengaruhnya. Contohnya kemunculan kembali ”Pergi Untuk Kembali” yang dirilis solois Ello di tahun 2005, besar kemungkinan dipengaruhi pula oleh mencuatnya kembali lagu-lagu lawas barat yang dinyanyikan secara solo seperti , Heaven, The Greatest Love Of All, Emotion, dll. Pengaruh serupa, terjadi pula terhadap mencuatnya ”Kupu-Kupu Malam” yang dinyanyikan kembali Ariel Peterpan.

Pengaruh keberuntungan yang hampir sama dapat dinikmati oleh grup Radja yang melambung tinggi lewat lagu ”Tulus” yang mirip dengan ”Lately” milik Steve Wonder.

Fenomena yang terjadi di tahun 2005 diperkirakan akan tetap berlangsung hingga tahun 2006 nanti, mengingat demam pertunjukan musik highlight di televisi baru berlangsung belum begitu lama. Namun dengan catatan, apabila highlight musik televisi bisa melakukan berbagai inovasi misalnya membangun citra penampilan para solois seakan menjadi personel grup musik. Atau menyegarkan diri dengan menyelipkan isu atau jargon yang bisa menyentuh hati pendengarnya.

Satu hal lagi yang bisa membantu kuatnya tren grup musik di tahun depan, yaitu perilaku para produsen rokok yang akan tetap gencar melakukan promosi melelalui highlight musik di berbagai kota.

Kegencaran para produsen rokok dalam melakukan highlight di luar pentas televisi mau tidak mau harus mereka lakukan mengingat lahan beriklan di televisi sejak tahun 2005 nyaris tidak ada tempat lagi. Sejak 2005 seluruh stasiun televisi di Indonesia, dilarang menayangkan iklan rokok dibawah jam 10 malam. Mengingat para produsen rokok sudah lebih dulu melakukan highlight, maka sering ada kesan bahwa maraknya highlight musik di televisi sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh berbagai pentas serupa yang sering dilakukan para produsen rokok dalam negri.

Highlight musik televisi sesungguhnya memiliki beberapa sisi positif. Di samping efektif dalam memberikan hiburan kepada masyarakat, juga sangat bermanfaat untuk mempromosikan berbagai grup musik kita termasuk grup musik yang baru muncul. Apalagi mengingat dua acara televisi yang bermanfaat mempromosikan penyanyi dan grup musik seperti penayangan perkembangan hit & tangga lagu serta berbagai selingan musik kini sudah tak ada lagi.

Namun sayang, perilaku highlight-nya dunia pertelevisian kita, telah terjebak untuk meniru sepenuhnya apa-apa yang dilakukan para produsen rokok di tanah air. Artinya highlight televisi hanya sebatas memerankan diri sebagai media hiburan borjuis, sambil mengiklankan sesuatu.

Dalam keadaan negeri yang tengah berupaya bangkit dari keterpurukan, seharusnya televisi kita berbuat lebih dari sekadar para produsen rokok. Paling tidak di dalam setiap highlightnya selalu memuat beberapa isu, pesan dan keteladanan yang mendukung upaya bangkitnya bangsa ini. Termasuk perlu menghindarkan diri dari sekadar pentas mewah yang tak bosan bosannya menyajikan lagu dan musik yang sudah lusuh dan sudah membosankan.

Dalam catatan saya, di tahun 2005 hanya pernah terjadi satu kali pertunjukan highlight yang memiliki nilai lebih yaitu di saat beberapa televisi kita mengusung solidaritas tsunami dengan penampilan grup yang sangat banyak. Selebihnya pentas seperti itu seakan tengah terjebak kedalam gaya hidup yang tidak sense of crisis.

Di tahun 2006 nanti, sesungguhnya banyak hal yang bisa dilakukan stasiun televisi kita guna meraih berbagai simpati yang lebih dari masyarakatnya. Paling tidak mereka bisa memaknai tayangannya dengan berbagi pesan kebajikan, mengingat pentas musik sehebat itu bisa lebih persuasif untuk melakukannya.

Bersolek memang penting untuk membangun citra dan daya tarik, namun cara bersolek yang kurang peduli terhadap kenyataan malah dapat menggiring kepada perilaku lupa diri. Berbagai pertunjukan kesenian kita dalam bersolek sebaiknya tidak seperti penjaja cinta yang mempercantik dirinya hanya untuk menarik hasrat libido, sebab tujuan bersolek yang sesungguhnya adalah membangun motivasi untuk lebih maju dan terhormat demi martabat dan diri.

Sudah saatnya berbagai pentas musik di televisi dimanfaatkan sebagai media perbaikan peradaban, khususnya dalam rangka memacu ethos kerja serta membangun keteladanan di kalangan masyarakat.

Musik tidak akan bermanfaat menghaluskan budi manusia apabila tidak ditunjang faktor visual yang memadai, sebab kemampuan mata dalam memengaruhi otak – kekuatannya bisa mencapai dua puluh lima kali lipat dibanding telinga kita.*** PR-Sabtu, 24 Desember 2005

Penulis, guru vokal tinggal di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: