Tiga Puluh Tahun Kasidah Bimbo

Selalu Laris di Bulan Ramadan

TAHUN 2005 ini, genap sudah tiga puluh tahun, grup musik Bimbo melantunkan lagu-lagu kasidah. Walaupun tidak lagi tampil secara mencolok, sekali-sekali para personel Bimbo, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, masih suka mengetengahkan lagu-lagu kasidah mereka. Bahkan di bulan Ramadan ini, kembali mengisi berbagai acara di beberapa stasiun televisi dengan lagu-lagu kasidah.

Semacam nostalgia. Tampaknya, kehadiran Bimbo di belantika musik nasional masih tetap dinantikan para penggemarnya.

Mengenai lagu kasidah pop Bimbo, dapat dikatakan menjadi pelopornya. Bimbo yang sudah terkenal sejak awal 1970-an, dengan lagu-lagu pop sendu dan romantis, seperti “Melati dari Jayagiri”, “Flamboyant”, dll. pada tahun 1974 tiba-tiba muncul membawakan lagu-lagu dangdut pop. Lagu-lagu seperti “Pacarku Manis”, “Kumis”, yang dibawakan Iin Parlina, “Semalam di Malaysia” (Acil), segera merebut perhatian publik. Memang, pada pertengahan tahun 1970-an itu, lagu-lagu dangdut sedang naik daun. Bukan hanya pemusik dangdut asli, seperti Rhoma Irama, Muksin Alatas, Megy Z., Elvi Sukaesih, yang rancak berdangdut ria, para penyanyi pop seperti Koes Plus, Bartje van Houten, Djadjat Paramor, Dedy Dores, ikut pula berdangdut.

Bahkan pentolan grup rock seperti Achmad Albar dengan “Godbless”-nya tak ketinggalan. Lagu dangdut pop “Zakia” dan “Dunia Bukan Panggung Sandiwara” yang dibawakan Ahmad Albar, berhasil mencapai puncak kepopuleran.

Setelah ikut meramaikan belantika dangdut, “Bimbo” tiba-tiba muncul membawakan lagu-lagu kasidah (1975). Album pertama kasidah Bimbo berisi lagu-lagu “Tuhan”, “Ada Anak Bertanya Pada Bapanya”, dan sebagainya, benar-benar bercorak baru. Perpaduan harmonis antara irama khas padang pasir dengan pop Indonesia. Ditunjang syair-syair lagu yang pas (dibuat khusus oleh penyair Taufik Ismail), album kasidah Bimbo volume I yang diproduksi Remaco, laris bagai pisang goreng. Lagu-lagunya menjadi dendangan masyarakat umum di mana-mana. Bukan hanya di panggung-panggung pertunjukan. Tapi juga di rumah, sekolah, dan lingkungan “nonformal” lainnya.

Kasidah Bimbo vol.I disusul oleh volume-volume selanjutnya. Beberapa penyair dan ulama, ikut dilibatkan menulis syair-syair yang dibutuhkan. Penulis sendiri termasuk salah seorang di antaranya. Bersama K.H. Miftah Faridl, K.H., E.Z. Muttaqien (almarhum), K.H. Endang Saifudin Anshari (almarhum) dan H.Rachmatullah Ading Affandi (RAF), penulis menyumbang dua syair lagu berjudul “Fajar Satu Syawal” dan “Lagu Puji Dinihari”.

Keterlibatan penulis dalam mengisi kasidah “Bimbo” vol.II (1977), hanya kebetula.. Waktu itu, rekan penulis, Sdr.Chevy Ganda, koresponden SK Suara Karya dan aktif di “Bimbo Fans Club” (sekarang Wakil Ketua PWI Jabar), memberitahu bahwa Sam dan Acil membutuhkan syair-syair bercorak religius. Penulis menunjukkan dua puisi yang akan dikirim ke majalah Panji Masyarakat. Bung Chevy Ganda langsung menyerahkan kedua puisi itu kepada Sam dan Acil.

Selang beberapa hari, penulis mendapat kabar, kedua puisi itu terpakai, dan sudah dibuat lagunya oleh One-Dee (Wandi). Seminggu sebelum Ramadan tahun 1977, rekamannya sudah selesai. Memang kasidah itu dimaksudkan untuk membidik “pasar” Ramadan.

Selain gembira mendapat honor sangat lumayan, yang diberikan langsung oleh Acil di rumahnya, penulis juga gembira, karena lagu “Fajar Satu Syawal” menjadi lagu wajib selama Idulfitri. Lagu yang dinyanyikan Sam itu, selalu terdengar dari setiap pemancar radio, sejak sehari menjelang Idulfitri hingga dua tiga hari sesudahnya. Sebelum muncul lagu “Fajar Satu Syawal” Bimbo, lagu khusus Idulfitri adalah “Selamat Hari Lebaran” yang dibawakan Oslan Hussein.

Pada tahun 2003, lagu “Fajar Satu Syawal” diminta oleh Sony Music, untuk dinyanyikan oleh Ike Nurjanah. Direkam dalam CD dan kaset. Tapi tampaknya, kurang mendapat sambutan. Namun, penulis tak berkecil hati. Terutama menyaksikan grup Bimbo yang tetap eksis. Bagaimanapun juga, selain sebagai penggemar berat lagu-lagu pop Bimbo, sedikit banyak penulis ikut terlibat dalam mengembangkan lagu-lagu kasidah yang pernah dipeloporinya. Hingga lagu kasidah tak asing dan tak canggung lagi untuk menjadi bagian dari khazanah musik Indonesia. Dalam hal ini, jasa Bimbo jangan sampai dilupakan.(H.Usep Romli H.M.)*** PR-Sabtu, 08 Oktober 2005

Satu Tanggapan to “Tiga Puluh Tahun Kasidah Bimbo”

  1. mohon kirimakan lagunya ke alamat saya. lagu sangat menyentuh sekali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: