Ketika Biola dan Gendang Berpadu

Minggu , 10 Februari 2008 , 00:05:12 wib

Konser Dut-Chestra

Ricky Reynald Yulman
JIKA tak menyaksikannya sendiri, agak sulit memang membayangkan perpaduan unik, dangdut dan orkestra, yang dikemas apik mahasiswa Jurusan Sendratasik FPBS UPI dalam Konser Dut-Chestra di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House), Rabu (6/2).

Di seling entakan gendang, gesekan biola dan tiupan flute yang elegan terasa menggoda. “Ada nuansa lain yang membuatnya terasa berbeda,” ujar Gitalis Dwi Natarina alias Gita KDI, yang Rabu malam itu tampil menjadi bintang.

Meski Konser Dut-Chestra adalah konser pertama yang menyajikan perpaduan antara musik dangdut dan orkestra, Gita mengatakan bahwa konsep perpaduan dangdut dan orkestra bukanlah sesuatu yang baru pertama kali dilakukan. Konsep perpaduan ini, terangnya, pernah digunakan musisi Purwa Caraka saat mengiringi peserta KDI (Kontes Dangdut Indonesia) TPI.

“Jadi sebenarnya ini bukan genre dangdut baru. Tapi lebih pada kemasan, yang membuat dangdut memang terdengar lebih elegan saat dibawakan di atas panggung,” ungkap penyanyi pada Puncak Anugerah Dangdut Pemirsa TPI ini sambil tersenyum.

Selain Gita, pada Dut-Chestra kali ini, kelompok Flash Percussion dan Guitar Ensamble Sendratasik, juga turut mengisi acara. Untuk memeriahkan suasana ada pula aksi kocak personel Band Markus yang pernah merebut juara pertama Auidisi Band Gelo (ABG) TPI 2006.

Meski dari sisi ide acara ini bisa dibilang luar biasa, DutChestra, Rabu lalu, bukan tanpa catatan. Satu yang paling kentara adalah luas panggung yang tak memadai.

Dengan panggung yang sempit, nyaris separo luas panggung habis oleh para pemain orkestra. Ini membuat kemegahan yang seharusnya ada ‘tiba-tiba’ saja hilang. Terlebih ketika penari Imagine Dancer juga tampil di atas panggung mengiringi sang artis bernyanyi.

Semua terlihat sesak hingga penonton tak tahu lagi harus fokus ke mana.

Beruntung, sekalipun acara ini digelar untuk umum, sebagian besar penonton berasal dari komunitas yang sama, yakni mahasiswa, alumni, dan para dosen UPI. Ini membuat suasana tetap terasa hangat, meski penataan konsernya sendiri di sana-sini masih ‘bolong-bolong’.

Teguh Budiawan, Ketua Panitia Konser Dut-Chestra, mengatakan konser kali ini sebenarnya merupakan salah-satu tugas mata kuliah yang diberikan dosen kepada mereka.

Untuk itu, terangnya, mereka hanya diberi waktu enam bulan untuk berpikir, mencari ide, membuat rencana, mempersiapkan, hingga akhirnya mewujudkannya.

“Idenya berawal dari keprihatinan melihat citra dangdut yang kian kian terpuruk lantaran apa yang ditampilkan hanya mengedepankan aksi seronok para artis di atas panggung. Jadi, bagi kami, konser ini bukan sekadar memenuhi tugas mata kuliah, tapi ada keinginan mengangkat kembali citra dangdut,” paparnya. (ricky reynald yulman)

source : tribunjabar.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: