Mengguncang Dunia dari Bawah Tanah

Selasa , 12 Februari 2008 , 00:29:28 wib

Setya KS, Sonny BR, Taufik Ismail

SEPULUH “anak bawah tanah” –demikian sebutan buat penggila musik underground– meregang nyawa di gedung Asia-Africa Cultural Centre (AACC) Jalan Braga 1 Bandung, Sabtu (9/2) malam. Tragedi ini menyibak kisah sebuah komunitas musik, yang ternyata amat fanatik.

Tak mudah menyelami kehidupan masyarakat underground. Umumnya orang langsung menganggap mereka sampah, nyrempet-nyrempet kematian, trouble maker, berisik, maksiat, dekat dunia setan, anti-kemapanan, tukang protes, kiri, dan aneka anggapan negatif lainnya.

Kutipan syair tembang Jeruji di awal artikel ini setidaknya mencerminkan apa yang ada di kepala awak grup underground beraliran punk di Bandung yang punya pengikut seabreg ini. Kalimat kedua dalam kutipan syair itu jelas milik Wiji Thukul.

Ini penyair “kiri” dari Solo yang lenyap begitu saja ketika rezim Orba di ambang kebangkrutannya. “Hanya satu kata, lawan!” adalah kalimat paling populer di kalangan aktivis 98, pengikut Partai Rakyat Demokratik dan organisasi se-jaringannya.

Kesan seram di dunia underground yang umumnya serba hitam ini memang sulit dihindari. Pilihan kata, kalimat, nama grup, yel-yel, dan slogan, kerap inkonvensional dan mengguncang. Baca judul tembang terbaru Beside, grup yang tampil tunggal di konser maut Braga. “Aku Adalah Tuhan”!

Atau simak judul album terakhir Burgerkill, “Beyond Coma And Despair”. Perhatikan bagian lirik tembang “Unblessing Life” (Hidup Tak Terberkati), yang begitu berbau kematian. Ivan “Scumbag” Firmansyah, vokalis Burgerkill yang banyak menulis syair, mati saat album ini akan dirilis.

“Ya Tuhan begitu pekatnya ruang jiwaku
Hanya kematian terus samar memanggil
Singkirkan harapan yang terus memudar
Semakin tak bermakna, semakin tak bercahaya
Inikah garis hidup yang tak terberkati..”

Atau lihat tampilan situs-situs grup atau web blog para penggemar musik underground. Untuk ukuran umum, tampilannya serba menyeramkan. Ada gambar tengkorak, mayat hidup atau zombie, jubah hidup, dan grafis-grafis yang penuh improvisasi menggidikkan.

Lepas dari citra negatif musik underground, secara teknis kreatifitas punggawa band ini umumnya ber-skill musik dahsyat. Imajinasi rancang grafisnya oke. Dan, tak sedikit yang kemampuan bahasa Inggrisnya pun mumpuni.

Musik dari dalam kubur. Ada yang mengistilahkan begitu. Tak ada melarang atau salah orang menyebut demikian. Sebab ini persepsi alam pikir manusia ketika melihat ritus, atau mendengar ingar bingar, raungan, jerit, rintihan, teriakan sang vokalis saat manggung.

Musik serba gedubrakan itu persepsi orang di luar komunitas. Bagi kaum bawah tanah, musik seperti itu justru dianggap pencapaian seni tertinggi. “Musiknya memberi semangat. Adrenalin naik!” kata dua penikmat aliran grindcore yang enggan disebut namanya.

Komunitas musik underground di seputaran Bandung mulai marak awal 90an. Di beberapa situs terbaca salah satu episentrum cikal bakal scene rock underground ada di Studio Reverse di Sukasenang.

Penggagasnya Richard Mutter, saat itu drummer PAS. Dia kemudian mengembangkan diri dengan membuka distro, dengan menu CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris impor lainnya. Richard juga membangun label independen 40.1.24.

Tahun 1997 label ini mengeluarkan album kompilasi band-band indie seperti Burger Kill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate. Ada satu grup band dari Jakarta, Waiting Room. Dua band yang pernah dibesarkan studio ini PAS dan Puppen.

Marcel Siahaan, suami Dewi “Supernova” Lestari dulu pernah jadi drumer Puppen yang beraliran hardcore. PAS band sendiri menoreh sejarah sebagai band indie label pertama di Indonesia lewat mini album “Four Through The S.A.P”.

Saat ini Ujungberung, atau kadang suka disebut Ujung Bronx, jadi kantong komunitas bawah tanah. Pernah berdiri Studio Palapa yang mengangkat reputasi band-band macam Jasad, Forgotten, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Infamy, dan banyak lagi.

Ujung Bronx, agaknya plesetan dari kawasan slum di Bronx, New York, tumbuh jadi sub kultur tersendiri. Burgerkill dan Beside cuma dua di antara banyak grup musik underground yang masih eksis sampai saat ini.

Sementara GOR Saparua, di akhir 90-an pernah jadi semacam tempat keramat bagi komunitas bawah tanah. Sampai muncul istilah belum underground jika belum “dibaptis” di tempat ini.

Sesungguhnya tak ada habisnya mengupas apa siapa underground scene, sebab komunitas ini benar-benar berwarna. Punya banyak ragam dan aliran, dan terus bertumbuh kembang dengan genre-genre baru yang tak mudah dipahami.

Lantas apa sih nikmatnya musik bawah tanah? “Ya enak aja. Ya musiknya, ya liriknya. Nikmat aja. Pengantar tidur yang nyaman,” kata Esa (19), begundal Burgerkill dari Rancaekek sembari terkekeh.

Betulkah? Frederick Nietsche, filsuf Jerman pernah menyebut ada sebuah kenikmatan metafisik yang bisa dicapai manusia lewat musik. Nah! (*)

source : jabartribun.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: