28th JAZZ GOES TO CAMPUS

Menyimak usia festival jazz FEUI ini memang sudah cukup tua untuk sebuah festival jazz. setidaknya, usianya sama dengan North Sea Jazz Festival di Belanda. Mengikuti semangatnya, cukup lumayan, terbukti setiap tahun sukses digelar. Walau sempat terhenti pada masa krisis moneter.

Sayang, festival FEUI ini jalan di tempat. Tidak ada yang dihasilkan dari perjalanan panjang JGTC. Sekali lagi saya bicara PERJALANAN. Bahwa kemudian hari ada dibuka kompetisi antara musisi berbakat menjelang acara JGTC tetapi tetap saja tidak menelurkan kader atau bintang. Seperti festival-festival lainnya di indonesia, juaranya setelah itu mandeg, tenggelam, tidak ada follow up.

Seharusnya, dengan usia 28 tahun ini, JGTC mampu menjadi sebuah festival internasional. Kritikan ini jangan dijawab dengan bahwa JGTC sudah bertaraf internasional atas dasar bukti pernah dihadiri Bob James, Dave Koz, Ron Reeves,Los Cabaleros, Coco York, Claire Martin Quintet dan Mike Del Ferro. Perlu diingat, mampirnya musisi dunia tersebut ke JGTC karena mereka tampil di Jamz atau Erasmus Huis.

Menyimak lokasi festival dan perjalanan panjang sangat layak JGTC dikelola secara profesional, permanen sehingga mampu dijadikan festival bertaraf internasional yang sesungguhnya.

Repotnya, pengelola JGTC merupakan pengelola instant. Boleh dibilang JGTC sebagai ajang belajar atau mengenal bagaimana mengelola sebuah festival atau pertunjukan. Setelah kenal mereka pergi diganti dengan pemula lagi, begitu seterusnya.

Kerjasama dengan pihak universitas harus dilakukan secara permanen. Banyak hal yang ingin saya ungkapkan, tapi terlalu panjang.

Pendeknya, jika pengelolaan JGTC tidak berubah, maka festival ini hanya akan sebagai sebuah pertunjukan kampung Depok. Musisinya itu-itu saja dan tidak ada pembelajaran atau tambah pengetahuan kepada penontonya.

Penonton hanya datang sebagai sebuah gengsi. Mengenal jazz sesaat, setelah itu hilang. Pada festival selanjutnya begitu terus dan penonton tidak memiliki pemahaman atas jazz. Maka tujuan melestarikan musik jazz (begitu disebutkan dalam proposal) tidak akan terpenuhi. Dan sebetulnya agak risi membaca/mendengar kalimat melestarikan musik jazz dalam skup indonesia. Karena jazz musik Amerika dan keberadaan atau nasibnya sudah cukup bagus didunia.

Kalau mau melestarikan, maka keroncong sangat layak menjadi perhatian. Mungkin orang lantas mencari sanggahan bahwa toh kroncong musik portugis. Itu menjadi perdebatan tetapi kehidupannya/keberadaannya di nusantara sudah berakar.

Kiriman dari Eddy Koko

taken from : wartajazz.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: