BERAWAL DARI HOBI AKHIRNYA MENJADI LABEL REKAMAN

Dari Dji Sam Soe Super Premium Media Workshop 2008

Musik jazz memang tidak saja menarik jika hanya disimak atau dinikmati secara musikalitasnya. Namun tentu dibalik itu semua ternyata juga sama menariknya ketika kita dapat mengetahui berbagai persoalan yang berkaitan dengan bagaimana sebuah karya seorang musisi jazz tersebut dapat didokumentasikan dan diproduksi secara massal. Peran ini jelas dimainkan oleh perusahaan rekaman.

Salah satu tonggak penting dalam perkembangan musik jazz adalah ditemukannya alat rekam yang dapat diproduksi secara massal sehingga lebih banyak orang lagi dapat menikmati. Tentu hal ini juga sangat berpengaruh terhadap penyebarluasan musik jazz itu sendiri. Seperti yang terjadi sekitar tahun 1917 ketika RCA merekam karya dari Original Dixieland Jazz Band.

Di kala itu, teknologi rekam baru pertama kalinya diperkenalkan kepada masyarakat luas. Sebelumnya, belum ada penampilan sebuah jazz band atau seorang musisi jazz yang dikemas dalam bentuk rekaman. Kemajuan teknologi tersebut ternyata menguntungkan bagi musik jazz dalam perkembangan selanjutnya.

Namun perkembangan teknologi tersebut bukanlah menjadi sebuah hal yang berdiri sendiri. Perlu adanya kontrol sehingga tidak merugikan secara ekonomis. Pada perkembangannya terjadi tarik ulur antara kepentingan ekonomis dan estetis dari musik jazz. Ada perusahaan rekaman yang hanya mementingkan aspek ekonomisnya saja atau estetisnya semata dan ada juga yang mencoba memadukan antara kepentingan ekonomis dan idealis berjalan seiring.

****

“Musik jazz, tidak bisa dihindari juga sangat memerlukan kemampuan manajerial, kesabaran dan kecintaan seseorang terhadap musik jazz ketika membawanya masuk ke dalam kancah industri rekaman”.

Dalam arti yang kurang lebih sama, kalimat tersebut keluar dari ucapan 2 orang pecinta, pemerhati sekaligus juga sebagai produser perusahaan rekaman yang banyak berurusan dengan para musisi jazz di Indonesia. Mereka adalah Gideon Momongan (seorang wartawan sekaligus juga sebagai label executive dari Indiejazz) dan Sandy Tok (label executive dari Sangaji Music) ketika bersama Denny Sakrie (pengamat musik) dan Indra Lesmana (musisi jazz) dalam kesempatan sebuah Media Workshop yang diselenggarakan oleh Dji Sam Soe Super Premium pada tanggal 5/2/2008 lalu di J Lounge Grand Melia, Kuningan, Jakarta. Biasanya, kalau wartawan, musisi jazz, dan produser berkumpul menjadi satu pasti lah suasana seperti itu biasa terjadi dalam sebuah acara preskon peluncuran album seseorang musisi. Namun yang terjadi sore itu justru membahas potret industri rekaman jazz (di) Indonesia.

Sandy dan Gideon paling tidak sudah mempunyai pengalaman dalam membuat dokumentasi, memproduksi, memasarkan dan mendistribusikan rekaman jazz di Indonesia meskipun keduanya relatif baru terjun dibidang industri musik. Secara umum, pengalaman – pengalaman dan bahkan kebijaksanaan yang hampir sama.

Pada mulanya mereka berawal dari hobi. Namun hobi ini juga memerlukan pengelolaan yang baik. Sandy beranggapan bahwa sebuah karya yang baik itu adalah terjadi komunikasi / respon pendengar dengan karya tersebut. Selama ini daya serap pasar cukup baik. Beberapa dari 30 album yang pernah diproduksi Sangaji Music juga berhasil mencapai titik BEP. Masih menurut Sandy, BEP bisa dicapai dengan angka penjualannya mencapai 4000 keping. Dengan demikian, dalam level tersebut bisa untuk kembali memproduksi album selanjutnya. Beberapa album jazz dari Sangaji Music yang melewati angka BEP antara lain “What A Wonderful World” yang penjualannya mendekati 10.000 keping atau Olive penjualannya mencapai 8.000 keping. Sementara album Syaharani juga berhasil mencapai titik penjualan yang cukup memuaskan.

Sebenarnya dalam bisnis industri musik jazz juga mempunyai kelebihan tersendiri. Menurut Gideon, contohnya adalah life cycle product yang relatif abadi. Artinya bisa saja orang membeli sebuah album milik seseorang yang sudah keluar sejak 10 tahun lalu atau lebih sampai saat ini masih sangat bernilai untuk disimak.

Kemudian bagaimana dengan kegiatannya di bidang A&R (Artis & Repertoir) Department?. Banyak group band jazz yang mengirim contoh karyanya, atau menyaksikan mereka tampil secara langsung. Sebagian besar memang masih sangat dipengaruhi oleh subyektifitas dari sang produser. Setelah mencoba untuk memperhatikan dengan seksama, baru diambil keputusan apakah akan masuk dapur rekaman atau tidak. Cara seperti ini cenderung sama dengan cara – cara yang dilakukan oleh jenis musik lain. Hanya saja, orang yang menyeleksi harus mengetahui dan memahami tentang musik jazz. Cukup penting juga untuk menentukan positioning product, secara tepat akan ditempatkan di mana. Apakah produk tersebut masih dapat dimasukkan ke dalam kategori jazz atau variannya.

Sementara, bidang promosi tentunya akan sedikit berbeda dengan promosi untuk musik pop. Sudah jelas kalau budgetnya biasanya tidak sebesar musik populer. Memang untuk pembuatan sebuah video clip yang akan ditampilkan di TV adalah keputusan strategis untuk sarana promosi. Namun perlu diingat bahwa biaya promosi sering kali jauh lebih besar dari pada biaya produksi. Cara lain yang sering dilakukan di sini adalah promosi melalui radio, mengadakan preskon peluncuran album baru, atau bahkan secara gerilya. Masalah distribusi sering kali dilakukan dengan titip jual ke beberapa outlet musik. Sementara pengawasan distribusi sering dilakukan oleh produser dan musisinya sendiri.

Di awal sesi workshop tersebut, Agus Setiawan Basuni (wartajazz.com) selaku moderator seperti menanyakan terlebih dahulu, sekaligus juga membatasi ruang lingkung apa yang disebut dengan jazz (di) Indonesia. Hampir semua pembicara tersebut sepakat dengan definisi awal yang sederhana, yaitu musik jazz yang dimainkan oleh orang Indonesia. Meskipun pada perkembangannya ada yang menambahinya dengan masalah cita rasa, spirit atau wujud personalisasi dari orang Indonesia dan Asia kebanyakan dengan keanekaragaman kebudayaannya.

Namun Indra Lesmana malah lebih senang menyebut bahwa Jazz Indonesia itu adalah bagian dari Asian Jazz. Dan instrumentasi alat-alat tradisionil Indonesia, justru memperkaya Jazz itu sendiri. Indra justru menggarisbawahi apa yang belakangan ini muncul sebagai sebuah trend baru, yakni menyebut musik yang sebenarnya lebih bercorak new soul dan funk sebagai Jazz. Ia mencontohkan kelompok seperti Maliq n’Dessentials, Soulvibe dan yang lain.

“Anak-anak muda sekarang memang menyukai musik tersebut. Karena kalau dengerin musik itu terasa lebih fun, bikin tubuh bergoyang dan dianggap musik gaul. Padahal jazz bukan seperti itu”, ujar Indra lebih lanjut. Namun Indra juga optimis dengan perkembangan musik Jazz Indonesia di waktu-waktu mendatang. “Masih ada Tomorrow People Ensemble, Indra Aziz dan yang lain, yang konsisten memainkan Jazz. Mereka dengan serius mempelajari Jazz seperti halnya apa yang saya pelajari di Australia”, pungkas Indra Lesmana. (*/Ceto Mundiarso/Agus Setiawan B/WartaJazz.com)

taken from : wartajazz.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: