JPS (JAZZ POSITIONING SYSTEM)


Apa hubungan antara GPS (Global Positioning System) dengan JPS (Jazz Positioning System)?Bukan apa-apa. Hanya sekedar upaya untuk semakin mendekatkan diri ke arah kebijaksanaan bersikap. Lebih jauh, JPS  bisa menjadi cermin untuk  memahami  tendensi setiap karya musik, bukan hanya Jazz. Bahkan mungkin karya seni apapun secara umum.

Sebelum abad penjelajahan dimulai, wajah peta dunia hanya berisi daratan yang saat ini disebut sebagai eropa, sebagian kecil timur tengah, serta sebagian kecil afrika. Butuh dua abad untuk menyempurnakan peta dunia. Itupun berkat kerja keras ribuan penjelajah yang dengan gagah berani mengarungi samudera menyusur pantai untuk mendapatkan gambar garis pantai di seluruh dunia (meski tujuan utama meraka sungguh bukan semata-mata menyusun peta dunia).

Namun cerita heroik itu telah lampau. Kini untuk mendapat gambaran peta  dunia hanya butuh beberapa saat. Ribuan atau mungkin jutaan satellite setiap saat siap memotret permukaan bumi. Dan untuk mengetahui posisi sesuatu dimuka bumi, kini hanya butuh GPS receiver. Reciver akan mengirim signal ke tiga satelite terderkat. Kemudian satellite-satellite tersebut akan menginformasikan titik koordinat reciver dengan sangat akurat.

Terbayang betapa pentingnya arti sebuah pemetaan untuk menyusun suatu strategi. Amerika tidak akan begitu kedodoran dalam perang vietnam jika saat itu teknologi pemetaannya telah sematang sekarang. Dan hal itu kini telah “dibuktikannya” di Irak dan Afganistan. Begitu pula dalam strategi kebudayaan. Pemetaan tetap menjadi suatu hal yang penting.

Seperti layaknya GPS, JPS juga bekerja atas bantuan tiga satellite yang akan mengirimkan signal untuk dapat mendeteksi suatu gaya atau aliran atau group tertentu berada di zona mana? Bukan bertujuan untuk menciptakan jurang-jurang antara satu dengan yang lain. Tetapi sekedar untuk penyadaran akan posisi. Kemudian diharapkan akan muncul pandangan bijak dari seluruh sudut segitiga penyangga eksistensi musik: pemain, penikmat, dan pemerhati.

Tiga Kubu Jazz Sebagai Satellite

Tiga kubu jazz dengan kelebihan serta kelemahan masing-masing mencoba menancapkan pengaruhnya terhadap setiap group maupun gaya baru yang muncul. Tiga kubu yang tak lain adalah mainstream, industri, dan fine art.

Mainstream jazz diwakili oleh swing, bebop, beserta kroni-kroninya. Kubu mainstream mencoba mempertahankan “kemurnian” jazz, sesuai dengan tradisi yang dilakoni pada masa-masa keemasannya (antara 1920an sampai 1940an).

Seperti pahlawan pada umumnya, mainstream membawa misi menyelamatkan nilai-nilai luhur, mainstream jazz memiliki semangat “menyelamatkan” tradisi jazz dari gerusan budaya anak zaman yang kadang dianggap melupakan akar tradisi. Meskipun akhirnya kadang mengalami kemandegan kreatifitas karena terjebak dalam jargonnya sendiri “menjaga kemurnian jazz”.

Kubu ke dua adalah gaya-gaya jazz yang mengikuti perkembangan industri musik saat ini. Meskipun mainstream jazz pun pada masanya sempat menjadi bagian industri musik, tetapi yang menjadi anak emas industri saat ini adalah fusion atau jazz-rock hingga pop-jazzy.

Pada intinya kubu ini tetap memiliki sifat yang sama dengan musik pengikut industri show bizz pada umumnya. Meski begitu para pengikut serta pembelanya merasa memiliki jasa dalam membawa jazz mengarungi zamannya. Dengan alasan jika tidak mengikuti selera zaman maka sebuah ikon kebudayaan tidak akan langgeng dan hanya akan menjadi hiasan sejarah. Dan lagi-lagi dilupakan oleh generasi muda.

Kubu ke tiga adalah pengikut nilai-nilai seni murni atau fine art. Diwakili oleh free jazz. Para penghamba seni ini menyatakan bahwa seni hanya untuk perkembangan seni itu sendiri. Tidak untuk melanggengkan “rezim mapan”, tidak pula untuk menghamba pada industri. Di tangan free jazz lah harapan akan munculnya kreatifitas serta nilai-nilai karya seni baru digantungkan.

Namun dalam semangatnya tersebut, kadang membuat free jazz tidak lagi menginjak bumi. Bahkan salah satu gerakannya dalam mengadopsi nilai-nilai atonal, menjadikan free jazz semakin jauh dari pendengarnya. Karena untuk mencernanya tidak lagi cukup menggunakan telinga namun harus dengan logika pula. Dan hal ini menjadi zona yang rawan untuk disusupi pseudo intelectual, suatu hal yang dikhawatirkan oleh gerakan musik postmo. Hal ini nampaknya cukup mengkhawatirkan juga. Karena salah satu sudut dari segitiga penyangga telah dianak tirikan.

Gambaran tersebut hanya merupakan kondisi ekstrem dari masing-masing kubu. Persoalannya bukan lagi kubu mana yang paling benar. Tetapi masing-masing memiliki andil dalam perkembangan jazz secara keseluruhan. Kemurnian harus tetap terjaga, publikasi mesti dilakukan, dan kreatifitas harus selalu berkembang.

JPS (Jazz Positioning System)

Tiga kubu yang ada bukan merupakan fragmentasi yang bersifat rigid. Namun area terbuka yang saling tarik menarik. Begitulah nilai pluralisme di dalam musik. Tidak hanya pluralisme dalam hal gaya maupun aliran, tetapi juga pluralisme dalam misi dan kepentingan. Masing-masing menawarkan nilai positif, namun mau tidak mau harus disertai dengan efek negatif.

Seluruh group yang pernah dan akan ada, pasti berada diantara ketiga kubu tersebut. Ambilah salah satu group jazz yang anda kenal. Bandingkan dari masing-masing kubu. Tentu akan segera anda temukan titik koordinatnya. Namun sekali lagi, ketiga kubu tersebut tidak bersifat rigid. Sangat mungkin satu gaya atau group tertentu berada di dua kubu sekaligus. Karena masing-masing kubu memiliki standar nilai yang berbeda, dan bisa saja saling mengisi.

Fragmentasi sendiri tidak dimaksudkan untuk mengkotakkan  satu dengan yang lainnya. Namun lebih sebagai penyadaran akan posisi. Baik penyadaran bagi pemain, penikmat, maupun pemerhati. Karena kesadaran terhadap posisi musik yang di mainkan, dinikmati, atau dikomentari, akan membawa kebijakan dalam bersikap.

Di Luar Jazz

Ketiga kubu seperti dalam jazz tersebut merupakan konsekuensi logis dari kompleksitas kehidupan saat ini. Dalam bentuk yang lain, kubu-kubu tersebut tentu ada dalam musik apapun atau lebih luas dalam kesenian apapun. Dan masing masing kubu dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan guna mempertahankan kelangsungan hidup setiap produk kebudayaan.

Publikasi terhadap sebuah produk budaya dengan cara mengadaptasikannya dengan kondisi sosial yang ada sangat dibutuhkan jika karya tersebut ingin tetap eksis. Namun pada posisi inilah para penjaga kemurnian tetap dibutuhkan. Nilai-nilai murni dari masing-masing tradisi mesti tetap dijaga. Karena di sanalah seluruh karya yang telah bermetamorfosa akan berpulang.

Tak kalah pentingnya adalah berkembangnya kreatifitas. Karena di situlah jati diri seorang seniman. Ilmuwan bertugas menemukan terobosan-terobosan baru dalam ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan hidup manusia. Begitu pula tugas seniman. Menemukan karya-karya baru penuh kretifitas demi perkembangan budaya. Dan industri? Jangan pula dirimehkan. Karena dialah tulang punggung kehidupan saat ini.

Kiriman dari Doni Riwayanto
Praktisi, Pendidik, dan Penulis masalah musik

taken from : wartajazz.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: