SEBUAH TRADISI YANG (HARUS) BERLANJUT

Sampai sekarang, dipenghujung tahun 2001, JGTC (Jazz Goes To Campus) secara konsisten tetap diselenggarakan. Adanya perhelatan musik jazz yang telah dirintis sejak 24 tahun yang lalu oleh para mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini, telah ikut berpatisipasi dalam merayakan gebyar pentas musik jazz di Indonesia (sekurang-kurangnya se-Jawa). JGTC ini juga, yang saat ini menjadi satu-satunya ajang pentas musik jazz yang banyak dihadiri oleh para musisi lokal, nasional maupun internasional setelah JakJazz absen beberapa tahun terakhir ini. Dengan konsep acara Past, Present and Future, panitia penyelenggara seolah-olah ingin memilah-milah dengan cara right man, right place dan right time. Untuk tahun ini tidak saja menampilkan para musisi jazz nasional yang sudah populer, namun juga menampilkan group-grop baru yang para pemainnya masih fresh dan para pemenang (juara I, II, III) dari sebuah kompetisi yang diselenggarakan oleh panitia JGTC 2001 tiga hari sebelum diselenggarakan festival ini. Terbukti denga tampilnya musisi muda berbakat seperti Pendulum, Devian Zikry, Ecoutez, Rio Mareno dan Sequoia. Di samping para pemain jazz di sini yang tentunya lebih senior dan populer seperti Ireng Maulana, Indra Lesmana, Deviana, Donny Suhendra, Yopie Item, Benny Mustafa dan lain-lain. Sedangkan pemain dari luar Indonesia kali ini hanya diwakili oleh sebuah trio dari Belanda yang dimotori oleh seorang pianis muda, Mike Del Ferro.

Pada tahun-tahun yang lalu para musisi jazz domestik maupun dari manca negara yang pernah tampil di JGTC antara lain: Bubi Chen, Bill Saragih, Jack Lesmana, Krakatau, Bob James, Dave Koz, Los Cabaleros, Coco York, Claire Martin dan masih banyak lagi. Serta ada klaim dari pihak panitia JGTC 2001 yang menyatakan bahwa JGTC tidak pernah ditinggalkan oleh penggemarnya, terbukti dari tahun ke tahun dimana jumlah penggemar musik jazz yang datang selalu mengalami peningkatan yang signifikan. Penyelenggaraan JGTC 2000 saja menyedot penonton sejumlah 14.000 orang. Tentunya jika benar sampai menyentuh angka itu, ini merupakan sebuah hal yang fantastis untuk sebuah pertunjukan musik jazz di Indonesia.

Ada beberapa catatan yang secara muncul setelah mengamati penyelenggaraan JGTC tahun ini. Pertama, adanya upaya untuk mengembalikan JGTC kembali ke “khittah-nya”. Artinya dilihat dari pengalaman penyelenggaraan JGTC tahun-tahun yang lalu, banyak pemain yang tampil diluar wilayah musik jazz. Dengan harapan mulai tahun ini, penekanan group-group yang akan tampil lebih relevan ke berbagai wilayah yang sangat kaya dalam musik jazz. Kedua, para “new comer” mulai bermunculan. Banyaknya kelompok jazz yang tidak saja baru namanya, namun juga personilnya masih fresh from the open. Kemudian memang tema Future-nya menjadi lebih konkret. Ketiga, persoalan-persoalan teknis dalam pelaksanaannya. Banyaknya keluhan yang berasal dari para musisi, pers serta penonton sendiri yang barangkali kepentingan masing-masing tidak dapat diakomodasi sepenuhnya oleh panitia penyelenggara. Hal yang terakhir inilah yang dari tahun ke tahun lambat diperbaiki.

Menurut pengamatan penulis, masing-masing point ini akan memberikan dampak besar terhadap kelanjutan JGTC ini di tahun-tahun mendatang. Sekurang-kurangnya bagi para anggota senat mahasiswa FEUI ataupun mahasiswa yang terlibat secara langsung maupun tidak yang selama ini secara turun-temurun melanjutkan tradisi ini telah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Bagaimanapun juga tradisi yang tetap dipertahankan sejak tahun 1978 ini adalah simbol representasi dari sebuah kekayaan warna khasanah musik populer di Indonesia yang bisa dipertahankan. Disamping juga bahwa lingkungan kampus sebagai lembaga kebudayaan, merupakan sebuah simbol untuk menerima sesuatu secara kritis. Salah satu dari spirit musik jazz adalah jazz melihat dirinya secara kritis. Seperti yang sudah pernah dilakukan oleh seorang pianis jazz kondang, Dave Brubeck, pada dekade 1950 dia sudah mencoba memperkenalkan musik jazz di lingkungan kampus perguruan tinggi. Usaha dia cukup berhasil. Ada semacam irisan yang genit antara musik jazz dan lingkungan perguruan tinggi.

Di sisi lain, musik jazz pernah disinggung sebagai alternatif sebuah ideologi pembebasan, demokratis, liberal dan bahkan dekonstruktif terhadap berbagai macam kebekuan gaya-gaya yang pernah dimainkan sebelumnya. Hal ini perlu diperhatikan dan dipahami. Tanpa sosialisasi yang kritis, musik jazz bisa terjebak ke dalam sebuah bentuk tawaran yang maya. Jazz juga dapat meminjam simbol modernitas, kampus dan ekslusifme. Serta adanya anggapan bahwa memahami musik jazz itu dengan syarat memerlukan tingkat intelegen tertentu. Jazz lebih tinggi dari pada musik yang lain. Bias ini bisa saja mengganggu kalau memang ada kesepakatan bahwa musik jazz mempunyai dimensi pembebasan dan bahkan akan bertentangan dengan spirit musik jazz itu sendiri.

Dengan demikian kita dapat melihat tradisi pertunjukan di lingkungan kampus dengan cara apriori. Tidak semata-mata keberhasilan pihak penyelenggara dalam menarik penonton yang banyak dengan dihadirkannya banyak musisi jazz kampium sekalipun dan gema acara itu sendiri yang menjadi semakin ekslusif. Namun lebih pada pemahaman historis dan ideologis yang ada pada musik jazz dari pada hanya menikmati gaya-gaya permainan yang ada dalam musik jazz.”Kalau bisa, tidak usah menjadi sebuah keharusan seperti JakJazz untuk mendatangkan musisi dari luar negeri”, ujar gitaris Donny Suhendra.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan JGTC ini, persoalannya sekarang bagaimana posisi JGTC dan pihak penyelenggara dapat melestarikan tradisi ini dengan kritis dan profesional. Sehingga acara ini dapat menjadi tontonan yang manarik sekaligus semua yang terlibat bisa memahami banyaknya dimensi yang tekandung dalam musik jazz itu. (CeMus/WJ)

taken from : wartajazz.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: