SEKELUMIT TENTANG SOSIALISASI JAZZ

Dalam kontek yang terjadi di Indonesia, ada sebagian masyarakat yang masih salah kaparah dengan musik jazz, sebagian mereka menganggap bahwa musik jazz adalah musik yang rumit dan sulit didengarkan maupun sulit dipahami, tetapi ironisnya mereka sebagian malah akhirnya menikmati musik hanya sekedar jazzy dan menganggap itulah musik jazz dan ketika mereka mendengarkan musik jazz yang sebenarnya mereka malah sebagian tidak bisa menerimanya.

Kurang lebih secara musikal dapat dijelaskan seperti ini, dikala seorang yang kebetulan mendengarkan musik dengan variasi chord blues yang progresif, bahasa swing dan improvisasi yang menonjol, tentunya akan mendapatkan pengaruh yang berbeda dengan yang biasa mereka dengar dari media massa seperti TV maupun Radio, ketika seorang memainkan saxophonenya dengan mengutamakan melodi yang manis, mendayu-dayu dan kalau perlu juga memberikan kesan manja dan sentimentil. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar yang memang dilanda dengan kebiasaan urban yang sering didominasi dengan budaya pop. Ada sebuah asumsi, dimana di dalam sebuah negara yang sedang giat-giatnya (lebih menonjol) melakukan berbagai pembangunan fisik dan kemajuan sebagai “negara kaya (penduduknya) baru”. Disatu sisi banyak keberhasilan ekonomi secara instant yang diperolehnya, disisi lain hal ini juga berpengaruh terhadap pola kehidupan yang serba instant juga, termasuk dalam mengkonsumsi hiburan atau bahkan menghargai suatu bentuk karya seni, yang tentunya sesuatu yang berkaitan dan dapat mewakilkan akan keberhasilan ekonomi mereka yang “gemerlapan” itu. Sehingga banyak kendala dalam mencoba untuk memperkenalkan musik jazz dari sejarah kemunculannya saat ini yang memang tidak instant.

Mungkin ada beberapa permasalahan yang dihadapi yaitu, pertama, sebenarnya cukup sulit untuk membicarakan musik jazz secara proporsional dalam masyarakat tertentu jikalau dipandang sebagai gaya hidup atau sebuah simbol yang merepresentasikan suatu status sosial. Seperti yang sering terjadi, orang datang ke tempat pertunjukan musik jazz dengan menunjukan “atribut” keberhasilan ekonomi mereka seperti penampilan yang “gemerlap”. Datang ke tempat klub jazz, tetapi tidak untuk memperhatikan dan menikmati musik jazz itu sendiri, namun untuk keperluan lain. Karena memanfaatkan gambaran musik jazz di Indonesia yang masih berkesan elit dan memerlukan intelektual dan selera yang tinggi untuk dapat menikmatinya.

Serta permasalahan yang kedua, mengapa masyarakat luas juga sulit untuk menerima musik jazz yang sudah dianggap universal itu? Secara sosiologis, mungkin dapat kita katakan memang “harmoni” musik jazz oleh masyarakat kita belum dapat ditangkap atau paling tidak masih dirasakan asing. Lain halnya dengan misalkan musik dangdut, seolah-olah apa yang disampaikan oleh “harmoni” musik dangdut sudah merupakan denyutan dan menjadi bagian apa yang dialami dalam pengalaman hidup masyarakat luas. Dalam bahasa ekspresi, barangkali setiap pengalaman hidup manusia melatarbelakangi ide/gagasan untuk berkreasi yang sampai pada tingkat orisinil akan menghasilkan yang berbeda pula. Sedangkan masalah ketiga adalah kurangnya peran media massa, pemain jazz dan kelompok pecinta jazz untuk mengkondisikan musik jazz ditengah-tengah masyarakat secara proporsional. Maksud kami dengan proporsional disini dengan latar belakang musik jazz yang melahirkan berbagai gaya, tidak hanya tereduksi dalam satu gaya saja yang populer.

Maka disini perlu dijelaskan bahwa musik jazz sangat beragam, ada memang jazz yang memperdengarkan nada-nada yang rumit tetapi ada juga jazz yang sederhana dan gampang dinikmati, bahkan seorang penulis jazz (Scott Fitzgerald, sekitar tahun 1922) yang mengatakan bahwa “jazz dapat berarti macam-macam tergantung interpretasi kita dan jika kita mencari tahu apa jazz sebenarnya, pahami musiknya”, tetapi yang dimaksud disini walaupun jika sebagai seorang penggemar jazz memang perlu mengetahui keanekaragaman musik jazz, sejarah perkembangannya dan tokoh-tokohnya, tetapi yang paling penting adalah nikmatilah musik jazz tersebut sebagaimana musik tersebut, seperti halnya pernah diutarakan oleh Louis Armstrong bahwa “jangan tanya musik jazz itu apa, karena kamu tidak akan pernah tahu jawabannya“.

Di Amerika Serikat sendiri, terutama dalam dua dekade pertama dari kelahiran jazz, banyak tanggapan pro-kontra tentang musik jazz dari masyarakat. Disebutkan sebagai musik setan (karena musisinya banyak yang bermain di daerah “red light”), dicurigai dan bahkan pernah dianggap sebagai semacam candu, jazz dikira untuk menghancurkan kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi. Beberapa pendengar mendengar corak irama yang semarak, masyarakat lain yang takut akan hal tersebut dapat mempengaruhi pikiran dan badan mereka. Irama jazz atau irama “hutan”, yang sering mereka sebut demikian, dituduh dapat menyebabkan macam-macam penyakit, termasuk pening kepala dan hipertensi.

Maka ada yang menarik untuk kita pikirkan dari pendapat seorang pakar pendidikan musik Edwin Stringham. Dia memandang permasalahan diatas sebagai sebuah “masalah pendidikan”. Hal ini memberikan “hubungan estetika”, yaitu barangkali karena hal tersebut menjadi beban untuk menginterpretasi terhadap musik yang lebih serius. (WJ)

taken from : wartajazz.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: