Si Codet yang Sukses sampai Akhir Hayat

logo_cubukkop_cubuk_nov98Banyak artis Hollywood dikaruniai umur panjang. Namun, Frank Sinatra terbilang istimewa. Karier lengkap sebagai penyanyi, aktor, dan entertainer serba bisa, dilaluinya hingga usia 82,5 tahun. Drama kehidupan dan ketokohannya dikisahkan secara teliti oleh Nancy, putri sulungnya, dalam Frank Sinatra, My Father (1985).

Kabar ia meninggal memang kurang bergema, karena saat itu, 14 Mei 1998, Jakarta dan beberapa kota lain dilanda kerusuhan. Namun, buat sebagian orang, nama Frank Sinatra adalah bukti dedikasi, semangat, dan daya hidup seorang seniman.

Lebih dari 60 judul film telah dilibatinya. Tapi puncak aktingnya digapai dengan merebut Piala Oscar sebagai pemeran pembantu pria terbaik lewat film tentang kehidupan tentara AS di Hawaii sebelum penyerangan Pearl Harbor, From Here to Eternity (1953).

Sebagai penyanyi, ia telah menghasilkan 100 album dan hampir 2.000 rekaman individual, berpuncak pada lagu New York, New York. Penghargaan jumlahnya lusinan, baik di kancah musik, seni peran, sosial, bahkan ilmu pengetahuan. Tak hanya dari dalam negeri, termasuk beberapa versi penghargaan prestasi seumur hidup, tetapi juga dari presiden Prancis Charles de Gaulle (1965), Pemerintah Israel (1972), Pemerintah Austria juga memberinya penghargaan tertinggi bagi warga sipil, Medali Kehormatan Kelas I untuk Ilmu Pengetahuan dan Kesenian (1984).

Sinatra beberapa kali dikukuhkan sebagai “Pria Ter-“. Bagi kaum wanita ia dianggap sangat menarik. Perkawinan dengan Ava Gardner (1951), Mia Farrow (1966), dan Barbara Marx (1976), menjadi bukti ia pusat sensasi selebriti. Rekan mainnya dalam Around the World in 80 Days (1956), bintang paling sensual masa itu, Marlene Dietrich, berkomentar, “Dia pria paling gagah yang pernah kukenal, The Mercedes-Benz of men.”

Dunia hiburan sedih ketika Sinatra meninggal. Sebagai peringatan, Nancy merilis ulang album duet bersama ayahnya, Somethin’ Stupid, yang 31 tahun lalu menduduki peringkat teratas tangga lagu-lagu di AS. Produk berupa CD yang kembali laris itu tak cuma berisi lagu duet seperti Feelin’ Kinda Sunday, atau lagu ungkapan kasih It’s for My Dad (1977), namun juga berisi perbincangan Nancy dengan ayahnya di sela-sela rekaman. “Semua penghasilan album For My Dad ini akan dimasukkan ke dalam kas Yayasan Frank Sinatra,” kata Nancy.

Punya 100, diberikan 75
Francis Albert Sinatra memulai hari pertama kehidupannya dengan perjuangan. Ia nyaris tak tertolong ketika lahir. Bobotnya yang hampir 6 kg terlalu besar untuk ibunya yang tinggi tubuhnya hanya 155 cm. Dokter harus menggunakan penjepit untuk menariknya keluar. Akibatnya, pipi, leher, dan telinga si bayi terluka, menjadi codet yang tetap membekas sampai tua. Drama belum selesai, karena ternyata si bayi tak bernapas. Dokter menduganya meninggal, maka ia mengalihkan perhatian kepada si ibu. Si bayi yang baru beberapa detik di udara bebas, diangkat oleh neneknya, lantas disiram air keran yang dingin. Hidup. Frank Sinatra memenangi pertempuran pertamanya.

frank5.gif (16868 bytes)

Bulan-bulan pertama setelah lahir. Ibu memotret dari sisi kanan, sehingga bekas goresan di dagu dan leher tak tampak. (Foto-foto: Frank Sinatra, My Father)

Itulah kejadian tanggal 12 Desember 1915. Francis Albert adalah anak dari Anthony Martin Sinatra, anak imigran asal Agrigento, Sisilia, dan Natalie Catherine Garavente yang keluarganya imigran dari Genoa. Mereka tinggal di Hoboken, New Jersey, kota para pekerja di seberang Sungai Hudson dari arah New York.

Kakeknya bekerja 17 tahun di bagian penyerutan pensil di American Pencil Company hingga sakit paru-paru, sedangkan ayahnya bekerja serabutan. Mulai dari tukang sepatu, mengelola bar, hingga bekerja di dinas pemadam kebakaran. Semuanya dikerjakan dengan tekun dan disiplin.

Ayah Frank juga mencari sambilan dengan bertinju. Olahraga ini juga ditekuni dengan disiplin tinggi. Kalau karier tinju profesional diakhiri oleh usia, kariernya di dinas pemadam kebakaran dipuncaki dengan pangkat kapten sebagai kepala regu. “Itulah buah ketekunan ayah. Ia yang mulanya tak bisa membaca, menulis pun hanya namanya, bekerja dengan disiplin,” kata Frank.

Ibunya juga maju. Setelah bekerja di perusahaan permen coklat, ia beraktivitas di Partai Demokrat. Kegiatan politik ini membuka peluang baginya untuk duduk di komite lokal, bahkan sampai berencana mencalonkan diri jadi walikota Hoboken. Beruntung, ayah berhasil membujuk Frank untuk mencegah niat ibu terjun lebih jauh ke kancah politik.

Sekalipun tak berpendidikan dan kalah dominan dari ibu, ayah bagi Frank adalah laki-laki yang baik, tertib, bersih, dan sangat pantas dihormati. Meski predikatnya petinju, ayah tak pernah sekali pun berlaku kasar kepada istri maupun anaknya.

Di masa SMA Frank mulai mengenal kerja sambilan. Pada 1932, misalnya, ia bekerja paruh waktu sebagi pengecer koran Jersey Observer dengan bayaran AS$ 11/minggu. Di sini ia tak lama, karena ingin kerja lain. “Mungkin lebih dari 15 kali saya pindah kerja. Dari yang halusan semacam administrasi toko sampai kerja di galangan kapal,” kata Frank, yang oleh kerabatnya acap dipanggil “Frankie”.

frank2.gif (37534 bytes)
Mia Farrow, gadis 20 tahun yang kemudian diperistrinya.

Agaknya memang belum ada pekerjaan yang memuaskan, selain ia memang perlu uang lebih banyak. Frank lantas mencoba cari peluang di bidang musik. Apalagi ia begitu terinspirasi oleh penyanyi tahun 1920-an Russ Columbo. Meski di setiap penampilan ia memperoleh sambutan, ayahnya tak menduga Frankie memutuskan berhenti sekolah demi main musik dan nyanyi. Ketertarikan pada bidang konstruksi yang pernah tercetus, bahkan sampai ingin kuliah di Stevens Institute di Hoboken, yang reputasinya nomor dua setelah MIT (Massachusetts Institute of Technology), serta-merta dilupakan. Pertentangan keras terjadi. “Kamu boleh memilih kerja apa saja, bahkan mengorbankan sekolahmu, tapi pekerjaan tetap. Bukan musik,” kata ayahnya.

Pokok masalah sebetulnya bukan melulu minat Frank yang tak bisa dibendung, atau ketidaksetujuan ayahnya, tetapi lebih pada kesulitan keuangan keluarga pada saat itu, ketika depresi besar melanda seluruh Amerika.

Jiwa seniman, punya kepekaan sosial, solider, dan egaliter, sebetulnya sudah dimiliki Frank sejak kecil. Itu sebabnya, ketika sudah berpenghasilan sendiri, uangnya selalu habis untuk membelikan sesuatu bagi teman atau saudaranya. Ibunya tak habis pikir, begitu sering Frank pindah kerja, katanya demi penghasilan lebih baik, nyatanya tak menghasilkan apa-apa. Josie, salah seorang sepupu, bilang, “Kalau Frankie punya uang AS $ 100, yang AS $ 75 pasti diberikan kepada teman-temannya.”

Selain pemurah, ia juga dikenal kreatif. Ini dia buktikan dengan memenangi kontes pembuatan model pesawat terbang mini yang disponsori toko pakaian Geisman. Hadiahnya adalah terbang gratis di udara New Jersey. Maka rasa cintanya kepada penerbangan tumbuh.

Cari perhatian dengan ukulele
Francis Albert Sinatra dan Nancy Carol Barbato saling bersua ketika keduanya tengah liburan musim panas di Long Branch di pantai Jersey. Frank 19 tahun, dan Nancy 17. Si gadis yang baru saja lulus sekolah menengah, ikut ayahnya yang kontraktor, menghabiskan liburan di rumah bibinya.

Nancy berteman dengan saudara sepupu Frank, Margie dan Tony, yang tinggal di rumah seberang. Ketika sedang main dengan temannya itulah, Nancy melihat Frank memainkan ukulele sambil bernyanyi.

Sejak perkenalan itu, kencan mereka makin intensif. Bagian dari kota Jersey yang paling sering mereka kunjungi adalah Journal Square. Karena selain ada gedung bioskop, di sana pun terdapat panggung kesenian yang sering mementaskan penyanyi-penyanyi idola Frank semacam Russ Columbo atau Bing Crosby.

“Melihat Bing menyanyi, darah saya seperti bergolak. Tapi saya tak mau seperti dia, karena semua remaja penyanyi di kota ini menirukan gayanya. Suara saya lebih tinggi, jadi saya harus menyanyi dengan cara berbeda.”

frank3.gif (35457 bytes)

Bersama Ava Gardner yang kemudian jadi istri keduanya.

Ia bekerja serabutan, apa saja, sejauh memperoleh nafkah. Namun, hasrat menyanyi tetap berada di tengah hatinya. “Saya menyanyi di perkumpulan amal atau lembaga sosial. Kadang tak dibayar, kadang dapat setangkup roti atau rokok – tiga bungkus untuk nyanyi sepanjang malam. Tak apa-apa, karena saya yakin akan kesetiaan pada pilihan serta terus-menerus latihan.”

Ide Frank berkembang. Ia meminjam uang dari ayahnya untuk membeli tape beserta rekaman tanpa vokal lagu-lagu populer, juga perangkat tata suara portable. Di berbagai penampilan, honornya AS $ 6.

Pertangahan 1935, sebuah program radio yang telah menjadi acara nasional, Major Bowes and His Original Amateur Hour, menggelar kompetisi musik. Pemenangnya akan tampil di Capitol Theatre, New York, dan disiarkan langsung oleh radio NBC. Tak dinyana, dua di antara para pemenang adalah rekan sekandang. The Hoboken Trio, kelompok musik yang sering tampil di bar milik orangtua Frank, serta Frank sendiri. Tapak keberhasilan ini mengilhami ayah Frank untuk menyatukan keempat personel itu menjadi The Hoboken Four.

Perjalanan ternyata tak semulus yang dibayangkan. Frank punya kebanggaan, namun nafkah kurang. Kuartet ini menderita karena manajemen yang buruk. Dalam tur ke luar kota, misalnya, mereka sering tinggal di hotel kumuh atau tempat pelacuran yang tarif kamarnya AS $ 2 semalam. Akhirnya Frank memutuskan keluar dengan dua alasan: ingin menyanyi solo dan tak tahan berlama-lama jauh dari rumah.

Nomor satu dalam lima tahun
Kerinduan pada rumah juga didorong oleh rasa kangen pada pacarnya. Benar, pada 4 Februari 1939, Nancy Carol Barbato dinikahinya. Keduanya memisahkan diri dari orang tua, tinggal di apartemen sempit namun selalu bersih di Audubon Avenue, Jersey City. Frank jadi penyanyi bar dengan gaji mingguan AS $ 25, sama dengan istrinya yang bekerja sebagai sekretaris.

Pemain terompet Harry James adalah tokoh yang mengajaknya menuju gerbang keberuntungan. Saat itu, musik Amerika didominasi oleh kelompok orkestra besar (big band) dengan beberapa penyanyi tetap. Tur dari kota ke kota di atas bus yang melelahkan, tampil di banyak panggung, bar, maupun radio, sungguh mengasah kemampuan Frank. Agustus 1939, Harry James Band mengeluarkan rekaman perdana berjudul All or Nothing at All. Ada vokal Frank di sana, namun peredarannya gagal. Nasib sedikit lebih baik ketika Frank memakai namanya sendiri untuk meluncurkan rekaman dengan grup pengiring yang sama, menyanyikan lagu From the Bottom of My Heart dan Melancholy Mood.

frank6.gif (22870 bytes)
Codet di bawah mulut ke arah dagu sebelah kiri, tanda sejak lahir.

Nama Frank Sinatra mulai disebut-sebut. Tommy Dorsey, pemimpin The Dorsey Band, mengajaknya bergabung. Frank merasa mendapat tempat lebih leluasa, karena pemusik di grup ini sangat berbakat dan kreatif. Perjalanan dan akomodasi yang diterimanya makin enak, demikian pula jumlah uangnya.

Selagi Frank di tengah pertunjukan keliling, pada 8 Juni 1940, anak pertamanya lahir. Si gadis kecil diberi nama Nancy, sama dengan ibunya, maka ditambahi “junior” (Jr.). Frank hanya beberapa hari menimang, lantas pergi lagi untuk menyanyi. “Ayah selalu pamit pergi,” komentar Nancy ketika sudah pandai bicara.

November 1940 menjadi saat penting, karena dalam tur ke Pantai Barat, Dorsey Band dengan vokalis Frank Sinatra muncul dalam film Las Vegas Nights. Nasib baik rupanya mengiringi, mengantarkan Frank pada lagu rekaman berikutnya, I’ll Never Smile Again. Tanpa diduga, lagu ini bertengger di urutan pertama tangga lagu-lagu pop AS. Keberuntungan menyambut Frank.

“Barangkali sebuah kebetulan, Tommy terlalu asyik menangani para pemusik dan mengolah aransemen, sehingga saya agak terabaikan. Jadinya saya bisa mengembangkan diri sesuai keinginan.” Benar saja, lima tahun dari awal karier, hasil jajak pendapat majalah Billboard mengukuhkan Frank sebagai vokalis pria paling istimewa di AS tahun 1941.

Ditolak masuk militer
Beberapa kali Frank mengajukan diri masuk dinas militer, namun selalu gagal karena di telinganya ada lubang anting-anting (tindik). Perbuatan iseng yang dilakukan ketika remaja, saking semangatnya menapak karier jadi artis, ternyata menjadi ganjalan serius bagi semangat patriotiknya.

Si kurus Frankie harus cepat-cepat mengubur keinginannya, lantas menggantinya dengan kerja keras. Ia rajin lari keliling lapangan olahraga di kampus Stevens Institute, berenang disertai menyelam, juga latihan napas agar menyamai kemampuan Tommy Dorsey dalam “memainkan” napasnya ketika meniup trombon.

September 1942, ketika sudah merasa punya bekal cukup untuk menyanyi solo, ia pamitan kepada Tommy. Ia ingin berkembang menjadi penyanyi yang benar-benar tunggal, tidak tergantung pada kelompok pengiring. Ini dibuktikannya dalam acara radio WABC, Frank Sinatra Sings, yang berlangsung selama empat bulan.

Langkah amat besar dilakukannya pada 30 Desember 1942, dengan tampil di arena prestisius Paramount Theatre di Times Square, New York. Sekitar 5.000 penonton “ditaklukkannya”. Momen itu terus dipertahankannya dengan jadwal tampil enam pertunjukan setiap hari. Itu pun dilakukannya dengan kedermawanan yang tak berubah. Diajaknya beberapa penyanyi muda untuk menyelingi. Perry Como, Dean Martin, kemudian juga Sammy Davis Jr. “Frank memberi kesempatan, kepercayaan, bahkan perpeloncoan dengan sedikit pemaksaan, tanpa rasa khawatir akan tersaingi. Di usia muda, ketika keberhasilan belum sepenuhnya digapai, ia bahkan telah melakukan regenerasi,” kenang Perry Como.

Freeman Godsen, bekas penyiar pendamping acara radio Amos’n’Andy, menceritakan kemurahan hati Frank yang dialaminya pada September 1943. Waktu itu, Virginia (14), putrinya yang tanpa ibu dan terbaring di rumah sakit, sangat berharap untuk ketemu Frank Sinatra. Padahal Godsen kenal pun tidak. Maka di suatu kesempatan ia bersusah payah mendekati Frank, dan memberanikan diri untuk meminta. Tak dinyana, Frank bersedia, dan mengunjungi si gadis selama 45 menit menjelang operasi. Bahkan kunjungan itu memberi Frank inspirasi untuk membuat lagu My Dear Virginia.

Ketenaran Frankie serta-merta menjadi semacam wabah di hampir semua wilayah. “Penggemar, yang kebanyakan gadis muda, mulai menginvasi kehidupan kami,” kata Nancy Sr. yang kemudian dituliskan putrinya. “Tak ada privasi. Maka kami pun pindah, dari apartemen di Jl. Bergen, Jersey City, ke rumah yang lebih terlindung di Hasbrouck Heights, New Jersey.”

Setiap kali Ny. Frank Sinatra harus membuat dasi kupu-kupu karena setiap kali penggemar merebut benda yang kemudian menjadi ciri khas Frank Sinatra itu. Membalas surat, menyiapkan foto, dan menanggapi pelbagai komentar juga dilakukan Nancy Sr. sebelum ia mempekerjakan orang lain untuk menanganinya.

“Di mana pun Frank hadir, para gadis menjerit histeris,” kata Marjorie Diven, yang sejak 1943 jadi humas sekaligus menangani kerja sama dengan kelompok penggemar.

Kepergian yang lama
Pada 1944, anak kedua lahir. Frank memberi nama bayi laki-laki itu Franklin Wayne Emanuel Sinatra, karena kedekatannya dengan Presiden Franklin Delano Roosevelt.

frank4.gif (48459 bytes)
Formasi awal keluarga. Frank dan Frank Jr. mengapit Nancy Jr., Tina, dan Nancy Sinatra.

Keluarga Sinatra pun pindah ke “istana” megah di tepi Danau Toluca di San Fernando Valley. Di rumah inilah, menjelang Hari Ayah tahun 1948, anak ketiga lahir. Kalau anak pertama dipanggil “Chicken”, bayi perempuan yang baru lahir ini kemudian diberi nama Christina (Tina), dan dijuluki “Pigeon” oleh ayahnya.

Sayang, Tina hanya sebentar merasakan dekapan ayah. Frank pergi untuk tidak kembali, dan hanya istrinya yang tahu sebabnya. Nancy kecil sudah bisa merasa terpukul. Ayahnya yang sudah sering pamit untuk pergi, kali ini pamit untuk tidak kembali. “Frankie kecil dan Tina paling kasihan. Mereka terpaksa mengucapkan ‘selamat jalan’ selagi belum bisa mengatakan ‘halo’,” kata Nancy Jr.

Masa-masa awal perpisahan sungguh sulit bagi Nancy dan ketiga anaknya. Kawannya makin jarang berkunjung, padahal orang selalu menyebut anak-anaknya “anak-anak Frank Sinatra”. Belum lagi tulisan di media. Cukup lama batin Nancy bergulat untuk sampai pada pertimbangan bijak, bahwa ia justru akan jadi perusak jika tak memberikan kebebasan bagi suaminya. Ia tidak cengeng, punya kekuatan dan harga diri sehingga tidak takut ditinggalkan suami.

Lagi pula, hubungan Frank dengan bintang yang saat itu sedang menanjak, Ava Gardner, bukanlah perselingkuhan iseng. Yang paling penting, sebagai pemeluk Katolik yang tidak mengenal perceraian kecuali kematian, Nancy yakin, ia masih istri Frank Sinatra. Maka ia tetap tenang selagi suaminya sibuk mencari legalitas untuk mengawini Ava.

Perkawinan yang membangkrutkan
Hidup tanpa ayah lama-kelamaan jadi biasa bagi Nancy Jr. dan adik-adiknya. Mereka mendapat santunan, sesekali dikunjungi, dan merasakan sapaan “Chicken”, “Frankie”, maupun “Pigeon”.

Tahun 1952 Frank Sinatra tampil perdana dalam film drama, bukan hanya menyanyi dalam film musikal, Meet Danny Wilson. Di televisi yang telah dirintis sejak 1950, dengan tampil bersama Beatrice Lillie dan Bob Hope dalam program NBC The Star-Spangled Revue, Frank pun “memiliki” programnya sendiri, The Frank Sinatra Show. Kendati April 1952 acara ini berakhir, program nyanyi dan bincang-bincang itu menjadi acuan acara-acara sejenis di masa-masa kemudian.

Di film kariernya jalan terus. Juragan besar pemilik studio MGM, Louis Burton Mayer, tak akan melupakan jasa Frank Sinatra. Lewat duet Sinatra dengan Gene Kelly dalam Take Me Out to the Ball Game (1949), perusahaan perfilman ini menjadi besar dan tenar. Kerja sama antara produser dan pemain menjadi daya yang saling menghidupkan. Berkat film pula, nama Frank Sinatra mendunia. Tampil di metropolitan Eropa seperti London atau Paris menjadikannya idola di banyak negara.

Namun, ada masanya sinar Sinatra meredup. Filmnya gagal di pasar, pada 1952 ia didepak dari perusahaan rekaman Columbia, sementara agensinya, MCA, memperlakukan hal yang sama. Memang ada perusahaan lain semacam RCA Victor yang berminat mengontraknya, namun Sinatra masih terikat secara hukum pada perusahaan terdahulu.

Pada saat bersamaan, perkawinannya dengan Ava Gardner(mereka menikah pada November 1951) mulai getir. Hari-hari penuh ketegangan, sulit diselesaikan. “Ava adalah perempuan dinamis, banyak menuntut, sementara Frank tidak,” komentar artis Paul Clemens, sahabat Frank dan Ava.

Keduanya cerai pada 1955, dan Ava tak pernah menikah lagi. Pers memojokkan Frank. Ia ditinggalkan teman-teman, nafkahnya habis untuk menyantuni Nancy Sr., ketiga anaknya, serta Ava Gardner. Terakhir, rumahnya di Beverly Hills dibeli Louis B. Mayer, AS $ 75.000 tunai, padahal nilai sebenarnya berlipat kali.

Frank bangkrut, sementara Ava makin berkibar. Setelah catatan fenomenal bersama Gregory Peck dalam The Great Sinner (1949), ia memperoleh banyak pujian saat tampil bersama Clark Gable dan Grace Kelly dalam Mogambo (1953).

Tersangkut kegiatan mafia
Hawaii, negara bagian ke-50 Amerika Serikat, rupanya tanah penuh berkah bagi Frank. Ketika terpuruk, ia menerima ajakan temannya, seorang wartawan di Honolulu, Buck Buchwach, untuk menyanyi di sana. Ia pun berhasil. Lebih dari itu, semangat dan rasa percaya diri untuk bangkit pun muncul.

Di Hawaii pula sebagian besar proses produksi film From Here to Eternity dilakukan. Peran prajurit yang aslinya penyanyi berdarah Italia, Angelo Maggio, dalam film yang diangkat dari novel laris karya James Jones, itu memang sangat diharapkannya. Banyak orang mendukung, termasuk Ava Gardner yang saat itu sudah mulai pisah dari Frank. Cara menyampaikannya kepada direktur studio Columbia Harry Cohn serta produser Buddy Adler adalah, “Tahukah Anda siapa yang paling tepat memerankan tokoh Maggio? Suamiku yang brengsek itu.”

Benar. Lewat film itu, Frank Sinatra merebut Piala Oscar 1953 untuk kategori pemeran pembantu pria terbaik. Inilah tapak baru bagi kembalinya Sinatra ke papan atas dunia hiburan.

“Si anak hilang” telah kembali bahkan dengan daerah jelajah yang lebih luas. Tak cuma keluarga Kennedy yang dikenalnya dengan baik. Atau politikus semacam J. Edgar Hoover. Sebagai keturunan Italia, ia ternyata tak lepas dari aktivitas mafia.

frank1.gif (43255 bytes)
Istri keempat dan terakhir, Barbara Marx.

Frank yang bersama teman-temannya merintis usaha hiburan di Las Vegas, kemudian mendirikan Sands Hotel. Konsepnya adalah menyatukan hiburan panggung dengan perjudian. Banyak orang kemudian berdatangan, termasuk pemodal. Di sinilah kegiatan mafia menemukan lahan. Bahkan ketika Sinatra mengalihkan kegiatan kepada pembangunan pusat hiburan Cal-Neva Lodge, perjudian terbawa serta. Sampai-sampai ketika anaknya, Frank Jr., diculik pada 8 Desember 1963, dan baru bebas setelah Frank menebus dengan uang AS $ 240.000, Biro Penyidik Federal (FBI) menyimpulkan motif penculikan ada hubungannya dengan kegiatan mafia. Media menduga, target utama penculikan sebetulnya Francis Albert Sinatra.

Sangkut-paut dengan dunia kejahatan begitu dekat ketika Jaksa Agung Robert Kennedy, adik Presiden John F. Kennedy, mengusut penyelewengan uang oleh aparat negara bagian Nevada. Sinatra berada dalam posisi sulit, karena selain kenal secara pribadi dengan jaksa agung, ia tak bisa mengingkari hubungannya dengan pimpinan mafia Chicago Sam Giancana.

Maka orang pun menduga, tokoh penyanyi yang “dipelihara” mafia dalam novel fiksi nan laris karya Mario Puzo, The Godfather, adalah Frank Sinatra. Sekalipun fiktif, orang tahu kalau Puzo mendasarkan ceritanya pada peristiwa nyata.

Lisensi tempat judi Sinatra hampir dicabut dan ia nyaris divonis sebagai anggota mafia kalau tidak ada pembelaan dari kolomnis harian Sun Las Vegas yang getol menelusuri kegiatan mafia, Hank Greenspun. “Frank Sinatra bukanlah penjahat. Belum pernah ada dakwaan atau identifikasi dari siapa pun yang membuktikan ia bagian dari sindikat kejahatan. Giancana memang sering ke Las Vegas, tapi ia lebih banyak berurusan dengan penari, penyanyi, atau para wanita penghibur. Aparat terlalu mencari-cari kesalahan Sinatra. Kenapa bukan aturan perjudian yang dibenahi, dan kenapa pula pemerintah memberikan izin baginya untuk membuka tempat hiburan?” gugat Greenspun.

My daughter and My Mia
Paruh kedua dasawarsa 1960-an adalah puncak budaya pop Amerika. Orang menyebutnya zaman Cassius Clay (Muhammad Ali), zaman Beatles, Joan Baez, Bob Dylan, zaman Woodstock, zaman hip dan hippies, atau zaman rok mini. Ada juga dominasi kaum kulit hitam yang teridentifikasi dalam istilah Black Power atau Flower Power. Sinatra pun lantas menamakan warna keartisannya sebagai Sinatra Power.

Saat itu dunia begitu cemas akan perang dan ancaman nuklir. Slogan kaum muda yang sangat trendy adalah “Make Love, Not War”. Frank ternyata juga mengikuti semangat zaman. Ia jatuh cinta pada gadis yang lebih muda dari putrinya.

Usia Frank 50 tahun, begitu gandrung pada Mia Farrow yang berusia 20 tahun, anak pasangan sutradara John Farrow dan aktris Maureen O’Sullivan. Begitu romantisnya mereka. Mia memanggil Frank dengan sebutan “Charlie Brown”, sedangkan Frank memanggil si gadis “My Mia”. Di banyak kesempatan bersama anak-anaknya, Frank memperkenalkan mereka kepada orang lain, “Ini anakku Nancy, my son Frankie, my daughter Tina, and my Mia” dengan bangga, tanpa menyadari perkawinannya mirip dongeng.

Tak banyak yang memahami sebab persisnya, satu setengah tahun kemudian, pasangan ini pisah. Sekali lagi Frank dilanda kesedihan, sementara Mia pergi ke India untuk menenangkan batin bersama “guru” Beatles, Maharishi Mahesh Yogi.

Tak pernah bisa pensiun
Dalam edisi 25 Juni 1971, majalah Life memasang foto Frank Sinatra sebagai sampul. Ia menyatakan pensiun. “Perpisahan setelah 30 tahun mengabdi,” demikian subjudul headline-nya. Kisahnya menjadi laporan utama. Namun, benarkah ia pensiun?

Niat semula memang demikian. Sembari main dengan cucu, aktif di kegiatan sosial, sesekali ia juga membantu kiprah politik kawan-kawannya, seperti Senator Robert Kennedy, atau mambantu Hubert Humphrey berkampanye calon presiden walau akhirnya kalah, serta Richard Nixon. Ia juga mendukung kiprah Martin Luther King Jr., juga bekerja keras demi terpilihnya kembali kawan lamanya, Ronald Reagan, sebagai Gubernur Kalifornia pada 1970.

Mendirikan rumah sakit dan sekolah kedokteran yang bernaung di bawah yayasan yang disantuninya: Anthony Martin Sinatra Medical Education Center di Palm Springs, dipersembahkan kepada mendiang ayahnya, Marty, satu impian yang tercapai juga.

Namun, saat kampanye Nixon, ia “terpaksa” tampil lagi. Pada 20 Oktober 1972, di depan kalangan muda calon pemilih Nixon di Chicago, ia membawakan lagu My Kind of Town (Chicago is). Ternyata, sejak itu, Frank Sinatra terus diminta tampil, walau ia membatasi pada kepentingan khusus. Pada 1 November 1972 ia tampil di malam penjualan surat berharga bagi Pemerintah Israel dan menghasilkan AS $ 6,5 juta. Maret 1973 ia menyanyi lagi saat menerima anugerah dari Yayasan Thomas A. Dooley, dan bulan berikutnya tampil di Gedung Putih.

Situasi agaknya memang mendesaknya untuk muncul kembali. Pada November 1973 ia tampil di televisi, membawakan lagu-lagu album barunya berjudul Ol’ Blue Eyes is Back. Disusul dengan pemberian anugerah di banyak tempat, yang tentu saja mengharuskannya menyanyi. Sambutan begitu besar, dan Frank Sinatra batal pensiun.

Malah tahun 1975, ia tampil 140 kali selama 150 hari di banyak tempat. Dari Madison Square Garden, New York, London Palladium, Australia, juga di banyak panggung lain. Pada Maret tahun berikutnya ia tampil di Royal Abert Hall, London, April 1978 tampil di Jerusalem, dan tahun berikutnya menyanyi di panggung terbuka di bawah kaki piramid di Mesir, meraih dana amal tak kurang dari AS $ 500.000 untuk yayasan sosial Ny. Anwar Sadat. Pada tahun itu juga, ia memunculkan album baru setelah lima tahun absen, berjudul Trilogy. Pada 1980 ia konser di Stadium Maracana, Rio de Janeiro, Brasil, di depan 275.000 penonton. Konser ini tercatat sebagai tontonan musik langsung dengan penonton terbanyak sepanjang sejarah.

Frank seolah-olah melengkapi comeback-nya dengan menikahi Barbara Marx pada 11 Juli 1976. Nancy Jr. menangis karena tak setuju. Selain telah tiga kali cerai dengan membawa satu putra yang sudah dewasa, Barbara bukanlah tipe ideal Frank Sinatra. Ia tak setuju Bob, anak bawaan Barbara, menjadi bagian dari keluarga dan mendapat nama Sinatra. “Bukan soal uang atau warisan, tetapi saya lebih melihat konsekuensi sosial nama ini. Orang perlu punya sejarah dan pemahaman untuk bisa menyandang nama Sinatra. Itulah yang selalu kami lakukan agar setiap hujan tak mencipratkan lumpur ke badan kami,” kata Nancy Jr.

Namun Barbara tahu diri, memberi jawab kebalikan dari kekhawatiran “Chicken” dan adik-adiknya. Ia menjadi pendamping hangat bagi Frank. Ia pula yang paling kuat memberi dorongan agar Frank jangan dulu mengakhiri karier. Pantas, saat menerima anugerah kesetiaan seumur hidup dari Kennedy Center, yang diserahkan oleh Presiden Ronald Reagan, 1983, Frank bilang, “Ah, umur saya baru 69. Masih banyak waktu, dan saya akan hidup panjang.” (Mayong S. Laksono)

dari : indomedia.com/intisari/1998/november

3 Tanggapan to “Si Codet yang Sukses sampai Akhir Hayat”

  1. […] musim panas di Long Branch di pantai Jersey. Frank 19 tahun, dan Nancy 17…. source: Si Codet yang Sukses sampai Akhir Hayat, […]

  2. Very good and helpful post.
    Thx, your blog in my RSS reader now😉

  3. ketika ada special program 2 hours with frank sinatra di radio tempat sy bekerja saya menjadikan blog ini sebagai salah satu literature, thanks ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: