Dangdut Forever

Kamis, 31 Agustus 2006

Namanya Maya Geboi. Profesinya penyanyi dangdut keliling. Status janda anak satu. Penghasilannya 10 sampai 25 ribu rupiah sehari. Jam kerja dari lima sore sampai dua pagi. Lokasi nyanyi: terminal, pasar, dan tempat-tempat umum yang ramai manusia.

Itu potret Maya, yang nama aslinya Siti Nurhayati. Maya mungkin bisa mewakili potret musik dangdut, yang selama ini dianggap musik pinggiran, yang peminatnya datang dari kelas bawah dan kurang berpendidikan. Stereotipe inilah yang masih kental terasa ketika orang menyebut musik dangdut.

Tak heran jika film Mendadak Dangdut membetot perhatian kita karena digarap oleh sutradara dan bintang-bintang muda yang selama ini jauh dari urusan dangdut. Setidaknya Titi kamal, Kinaryosih, dan sutradara Rudy Soedjarwo, bukan figur yang identik dengan musik dangdut.

Kick Andy, Kamis, 31 Agustus 2006 pukul 22.30 WIB (ditayangkan ulang Jumat pukul 14.00 WIB) mengangkat musik dangdut sebagai topik yang menarik untuk disimak.

“Dulu saya tidak mau rekaman karena takut diperkosa,” ungkap Maya, yang tampil di studio lengkap dengan orkes gerobaknya. Pengakuan yang mengundang tanda tanya. Tapi yang jelas, 17 tahun sudah perempuan bertubuh kurus ini menjadi penyanyi jalanan.

“Saya tidak punya pilihan lain,” ujarnya ketika ditanya adakah keinginan untuk beralih profesi. Dangdut tampaknya menjadi hidup mati Maya. Perempuan Betawi ini tak kuat membendung air mata manakala tiba-tiba di studio muncul tokoh pujaannya. Mereka kemudian berduet menyanyikan lagu favorit Maya.

Perjalanan musik dangdut di Indonesia memang cukup panjang. Namun Ellya Kadam, penyanyi yang kini berusia 75 tahun, oleh banyak orang dianggap sebagai penyanyi yang pertama kali mempopulerkan lagu dangdut, yang waktu itu dikenal sebagai lagu melayu.

“Waktu itu penyanyi melayu memang bisa dihitung dengan jari. Teknologi rekaman juga masih kuno. Jadi kalau ada yang salah, harus diulang semuanya dari awal,” kenangnya. “Dulu suara penyanyi juga sesuai aslinya. Kalau sekarang bisa dibantu dengan peralatan rekaman.”

Musik dangdut pernah berjaya ketika Bung Karno melarang musik-musik “ngak-ngik-ngok” dari barat. Saat itu musik Indonesia, termasuk melayu, kembali naik daun setelah sebelumnya terpukul oleh lagu-lagu barat.

Pada 1965, saat Orde Baru berkuasa, musik barat kembali mendapat tempat. Musik dangdut lagi-lagi terpinggirkan. Sampai pada 1970, seorang pemuda dari Tebet, Jakarta Selatan, bernama Rhoma Irama, mengangkat musik ini ke kelas yang lebih atas dengan memainkan musik dangdut menggunakan instrumen elektrik, menggantikan akustik. Sejak itu dangdut mulai dimainkan di pesta-pesta kawin dan acara-acara yang diadakan masyarakat kelas menengah dan atas.

Tapi, jika dangdut masih dikonotasikan dengan musik kelas bawah, kampungan, tidak intelek, semua itu tidak membuat para penggemar dangdut surut langkah. Pokoknya, dangdut forever!

dari :  http://www.metrotvnews.com/kickandy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: