Entakan Slank

Sabtu, 30 Desember 2006 | 14:05 WIB

Musik mengentak. Menyengat belasan ribu Slanker yang menyesaki lapangan Pantai Carnaval Ancol, Jakarta, Rabu malam lalu. Tembang I Miss U but I Hate U, yang membuka konser Slank, langsung menggoyang penggemar berat kelompok musik itu yang menyemut sejak sore.

Malam di ujung utara Jakarta itu sangat istimewa buat Slank. Band ini berulang tahun yang ke-23. Mereka merayakan umur yang tak lagi muda itu bersama para Slanker lewat pertunjukan musik bertajuk “Slank Fest 23rd Indie”.

Menurut ketua penyelenggara konser, Denny A. Ramadhani, tema indie–singkatan dari musik independen–dipakai bukan tanpa sebab. Semangat inilah yang ada pada awal kemunculan Slank. “Mereka mulai mengelola produksi sendiri lewat album keempat, Generasi Biru,” katanya.

Denny mengatakan roh indie yang dibangun Slank juga memberikan inspirasi kepada sejumlah kelompok musik. Sebut saja Pas Band, Sucker Head, Pure Saturday, dan Puppen. Semangat itu yang sampai sekarang terus mendidih di dalam diri personel Slank: Bim-bim, Kaka, Ridho, Ivanka, dan Abdee.

Kelompok yang gonta-ganti anggota itu menggamit beberapa band indie untuk manggung bareng dalam pesta ulang tahun kali ini. Misalnya ShaggyDog, The Sigit, Sore, Getah, Razzle, Katabatic, Flowers, dan Bing Bang. Bahkan Slank berkolaborasi dengan Sheila on 7, Nidji, dan Steven & Coconuttreez.

“Tajuk Slank Fest 23rd Indie tentu bukan sekadar nama, tapi sebuah sikap juang yang tak pernah berhenti,” ujar Denny. Band-band indie itu secara bergantian unjuk gigi. Mereka juga wajib membawakan satu karya Slank, yang musiknya digubah sesuai dengan kreativitas masing-masing.

Sheila on 7, yang merangkak lewat album kompilasi indie, tampil kompak bersama Slank. Mereka mengawali duet lewat lagu band asal Yogya itu, Sephia, hingga mengademkan Slanker, yang memanas sejak konser dimulai, bahkan beberapa kali sempat kisruh.

Jeritan melodi gitar Abdee “Slank” dan Eros “Sheila on 7” pada lagu Terlalu Manis menambah oke kolaborasi kedua kelompok musik beda generasi itu. “Mimpi yang terwujudkan bisa main bareng dengan Slank,” kata Eros. “Slank salah satu yang memotivasi kami bermain musik.”

Nidji, yang meroket lewat album perdananya, Breakthru, bahkan menyebut Slank sebagai ikon musik Indonesia. “Penampilan selama sepuluh menit bareng Slank merupakan yang terbaik dalam hidup kami,” ujar Giring, vokalis kelompok band ini.

Toh, bisa eksis sampai menginjak kepala dua belum membikin band yang bermarkas di Gang Potlot, Jakarta, ini puas. Pasalnya, “Masih banyak keinginan yang belum dicapai,” kata Bimo Setiawan Almachzumi alias Bim-bim, pentolan Slank. Masih mesti terus berkarya.

SS KURNIAWAN

dari : .tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: