Flamenco Muda

Kamis, 15 November 2007 | 13:59 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sepasang lampu sorot kemerahan menyenter panggung, yang membuat suasana temaram. Seorang anak laki-laki duduk di kursi merangkul gitar akustik di atas panggung setinggi satu meter itu. Perlahan ia mulai memetik senar gitarnya dan memainkan komposisi klasik Companes Del Alba karya Sainz Dela Maza.

Pemain gitar itu adalah John Vincent, bocah berusia 14 tahun. Penampilannya adalah pertunjukan pembuka Konser Gitaris Muda Berbakat III bertema “Flamenco La Guitarra” di Erasmus Huis, Jakarta, Jumat lalu. Acara itu digelar oleh Forum Gitaris Klasik Indonesia.

Dengan piawai, lima jari tangan kanan Vincent seperti menari memetik dan merambah senar gitar. Hampir tidak ada jari yang berhenti bergerak. Sesekali ia menggoyang kepalanya mengikuti irama lagu.

Selanjutnya, duet Dhimas Ramadhan, 37 tahun, dan Daood Abdullah, 19 tahun, tampil membawakan Mi Amigos De Jeez karya Buleria. Dhimas memainkan gitar, sedangkan Daood memainkan cajon, sejenis alat musik pukul. Cajon berbentuk kotak sebesar kaleng roti, yang memiliki senar di dalamnya.

Ketika dipukul, terdengar suara bergetar mengikuti ketukan pukulan pria kelahiran Texas, Amerika, ini. Sembari duduk di atas cajon-nya, Daood sesekali menggoyang-goyang badannya sesuai dengan irama.

Menurut Ketua FKGI Benny Tanto, 47 tahun, konser gitar klasik memilih tema flamenco karena jenis musik klasik ini jarang dimainkan. Selain itu, para pemain flamenco tidak memiliki wadah untuk menyalurkan kemampuan mereka. “Banyak anak muda yang berbakat, tapi tidak bisa disalurkan,” kata Benny. Menurut dia, bakat seperti Vincent harus terus dipelihara.

Benny menambahkan musik flamenco merupakan salah satu jenis musik yang susah dimainkan dan dipelajari. “Karena speed cepat, dinamis, dan memiliki tempo,” ujar master of music lulusan Chapman School of Music, Amerika, ini.

Biasanya flamenco dimainkan dengan nyanyian dan tarian. Benny sendiri malam itu tampil trio, bersama Kurniawan dan Amra Reza, memainkan komposisi Malaguenas and Rumores De la Caleta karya I Albeniz dan Prelude & Aragonaise karya G. Bizet.

Flamenco adalah kesenian rakyat tradisional komunitas gipsi dari Andalusia di selatan Spanyol. Musik ini berkembang menjadi hiburan kalangan terhormat dan dimainkan di kafe-kafe menjelang abad ke-19. Selain tarian dan nyanyian, tepukan tangan dan entakan kaki menjadi ciri flamenco. Selanjutnya, elemen gitar masuk menjadi unsur utama dalam beberapa genre.

Sebanyak 9 gitaris, 2 pemain perkusi, dan 2 penari pada konser malam itu membawakan 13 komposisi klasik musik flamenco selama lebih dari dua jam. Alat musik pukul lainnya yang dimainkan malam itu adalah yembe, yang lebih mirip kendang, dan dimainkan oleh Victor Zebua. Bersama gitaris Ferry Andreas dan Abdi Putra, Victor memainkan komposisi Jumstart karya Jesse Cook.

Dua penari, Anastasia Citra dan Harisma Lovian, 21 tahun, tampil pada akhir pertunjukan mengiringi komposisi Sevillanas, yang dimainkan gitaris Yoga. Dengan gaun panjang bermotif bunga di ujungnya, kedua penari ini menggoyangkan badan dan tangan; mengentakkan kaki; dan menepuk tangannya mengikuti irama. Sesekali mereka juga mengibaskan rok sembari menari. “Susah juga belajar tari flamenco,” kata Harisma, yang menari sejak umur 9 tahun.

Selain musik Spanyol, terselip satu komposisi asal Rusia, Bohatgr Gates of Kiev, karya M. Moussorsky, yang dimainkan Vincent, yang digubah menjadi bergaya flamenco.

TITO SIANIPARdari : tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: