Hipnotis Pop Opera

Kamis, 22 Pebruari 2007 | 10:34 WIB

Dua cuplikan instrumentalia lagu Without You dan Unbreak My Heart bagai salad pembuka makanan utama dalam konser Il Divo World Tour 2007 di Jakarta Convention Center, Selasa malam lalu.

Menu hari itu berisi 19 lagu Il Divo dari tiga album yang penjualannya meraih angka 13 juta keping. Album-album itu sekaligus meraih 104 penghargaan gold dan platinum di seluruh dunia. Maka kuartet multinegara yang telah menyatukan warna musik pop dan klasik itu dianggap menyamai kesuksesan penjualan album Led Zeppelin pada 1971.

Sajian menu malam itu memang begitu lezat bagi penonton. Denting piano dari orkestra beranggotakan 22 personel Twilite Orchestra menggiring suara vox populi (suara malaikat) Sebastien Zambard sebagai pembuka lagu Night in White Satin (Notte Di Luce). Lagu bertempo lambat itu perlahan menjadi klimaks setelah muncul vokal tinggi suara bariton dan tenor milik Carlos Marin serta David Miller.

Lantas, secara berturut-turut, lagu keempat sampai keenam diambil dari album pertama, yakni Everything I Look at You, Mama, dan Passera, serta dari album kedua Ancora, yakni Heroe, Unchained Melody, dan All by Myself. Baru kemudian mereka melompat ke album ketiga, Siempre, yakni Caruso, Without You, Somewhere, Musica, dan La Vida Sin Amor.

Pada lagu terakhir, Somewhere, kuartet rupawan itu lebur bersama penonton dengan duduk di bibir panggung. Mereka memberi kesempatan para penonton yang kebanyakan wanita menyerbu, berfoto bersama, bersalaman, meminta tanda tangan, dan bahkan memberi selendang kepada Urs Toni Buhler. Sebelumnya, beberapa wanita sudah memberi sepucuk bunga mawar dan boneka beruang Teddy.

Kalau mau jujur, aksi panggung mereka kurang mengentak. Lagu yang diperdengarkan mirip dengan apa yang mereka dengar di kaset dan CD. Bedanya, penonton datang ke konser dan terhipnotis oleh penampilan sang bintang.

Dari tiga album yang sudah dirilis, kelompok ini memang sering membawakan lagu-lagu yang sudah dipopulerkan penyanyi lain, seperti Barbara Streisand, Tony Braxton, Mariah Carey, dan Josh Groban, You Raise Me Up. Dalam wawancara dengan media, Carlos Marin, 39 tahun, menyatakan mereka tidak terbebani karena menyanyikan lagu orang lain. “Kami juga membuat beberapa lagu album Siempre,” katanya.

Mereka berempat, menurut Marin kepada Tempo, punya kontribusi yang sama dengan label rekaman dalam memilih daftar lagu album rekaman. Album yang sudah dihasilkan merupakan hasil pemikiran bersama. “Kendati saya pernah mengusulkan lagu Everybody Hurts karya REM ditolak. It’s oke,” ujar pria yang besar dalam panggung opera klasik dan merekam suara sejak usia 8 tahun itu.

Pendapat Marin seolah membantah anggapan bahwa kelompok hasil pencarian Simon Cowell (juri Pop Idol dan American Idol yang sering melontarkan pendapat kontroversial) pada 2003 itu hanya menjual keelokan rupa. Kabarnya, itu bukan ide murni Cowell. Sebelumnya, ada grup Amici Forever yang pernah tampil pada Miss World 2005, mengusung genre pop opera dengan personel tiga wanita dan dua pria.”Saya semula menolak diajak bergabung. Saya punya ego sebagai penyanyi solo,” kata Marin sembari tertawa. Belakangan, empat orang yang mengaku mulanya mendapat kesulitan dalam hal berkomunikasi itu lebur menjadi kesatuan, selayaknya keluarga. Dan akhirnya, mereka mendunia.

Kualitas suara opera berbalut penampilan metroseksual (selalu mengenakan jas karya Armani) membikin mereka dipuja wanita seantero dunia. Uniknya, penggemar mereka kebanyakan ibu-ibu usia menengah. “Penggemar kami beragam, kalau di Spanyol memang ibu-ibu usia 40 sampai 50 tahun, di Inggris dan Amerika lebih muda lagi,” ucap Marin. Selama ini, mereka mengaku, reaksi dan antusiasme para penggemar merupakan hal yang wajar. “Sulit dipercaya kami bisa mendapatkan kesempatan seperti ini,” ujar Zambard.

Il Divo memang unik. Para pria bersuara diva (asal kata Il Divo dari bahasa Italia) opera mengusung warna musik pop. “Kami tidak mengambil wilayah opera, sebagaimana yang diduga orang. Kami penyanyi di jalur pop yang menyanyi teknik opera,” ujar Zambard ketika menjawab adanya kesempatan berduet bersama Luciano Pavarotti.

Zambard memberi batas tegas aliran musik. Ia satu-satunya yang tidak pernah mendapat dasar musik klasik opera. Dulu ia penyanyi pop di Prancis. Termasuk juga Urs Toni Bühler, 36 tahun, asal Swiss. Penyanyi tenor berwajah tanpa dosa itu pernah menjadi pemain band dan penyanyi band heavy metal Conspiracy di Luzern, kendati ia pernah belajar menyanyi klasik dari tutor tenor dari Swedia, Gösta Winbergh, pengarah vokal Stockholm’s Royal Opera.

Konser yang diadakan oleh Buena Productions itu sukses. Sebanyak 3.200 kursi di Plenary Hall JCC penuh sesak. Menurut promotor acara itu, Peter Basuki, dengan biaya mendatangkan Il Divo sekitar Rp 4,5 miliar, mereka mematok tiket paling murah Rp 750 ribu dan paling mahal Rp 4 juta, yang 98 persen terjual seminggu menjelang konser. Penggemar datang dari Jakarta, bahkan negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Belanda, dan Amerika. Il Divo hampir tak mampir ke Jakarta. Lobi Peter mentok pada April 2006. Alasannya, keamanan. Untungnya, penampilan di Auckland dan Seoul batal. Dan Il Divo pun membius para wanita Jakarta.

EVIETA FADJAR

dari : .tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: