Kecil-kecil Cabai Rawit, Natasya Sumanto

 Sabtu, 23 September 2006 | 15:07 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Seorang bocah cilik berumur tujuh tahun keluar dari balik layar panggung. Ia duduk di kursi. Kakinya yang menggantung diganjal kursi kecil. Natasya Sumanto namanya. Lalu ia beraksi: menekan tuts-tuts piano membawakan karya Sebastian Bach. Sesekali ia mendongak melihat partitur. Kaki kecilnya menggapai pedal piano.

Meski agak terbata-bata, Natasya mampu menyelesaikan nomor ini dalam pertunjukan “The Young Artist of Clavier in Concert” di Erasmus Huis, Senin lalu. Ia tidak sendiri. Ada sejumlah anak dan remaja yang tampil malam itu. Mereka rata-rata mulai mengenal piano ketika umur masih di bawah lima tahun. Mereka tergabung di sekolah Clavier Music Academy bimbingan Henoch R. Kristianto.

Pertunjukan musik serius yang menampilkan deretan pianis cilik seperti ini jarang terjadi. Apalagi mereka memainkan komposisi klasik. Sentuhan komposisi bebunyian dari masa Barok hingga modern keluar dari permainan mereka.

Seusai penampilan Natasya, menyusul Eugene Rasiman, 10 tahun, yang akrab dengan tuts sejak umur lima tahun. Satu nomor milik M. Clementi dibesutnya dengan manis. Selanjutnya Julian Tirtajaya, 10 tahun, tampil membawakan nomor milik Beethoven. Permainannya lancar, baik dalam tempo, intonasi, maupun pemberian aksen pada setiap nada. Julian mempertontonkan sebuah koordinasi antara tangan kanan dan kiri secara apik.

Penampilan Yenny Putih di urutan selanjutnya mempermanis pertunjukan malam itu. Ternyata Yenni baru saja diangkat menjadi salah satu pengajar di sekolah musik Clavier Music Academy. Pada dua bagian pertunjukan, Yenni membawakan enam nomor berbeda, antara lain milik Beethoven, Chopin, Tchaikovsky, dan karya komposer dalam negeri milik Jayasuprana.

Permainan yang agresif dan menegangkan dibawakan Sheila Victoria Pietono. Satu nomor berjudul Piano Sonata in C Major karya Beethoven membuat para penonton khusyuk. Kendati komposisi ini memiliki durasi lebih lama daripada beberapa pertunjukan sebelumnya, aksi Sheila tak membuat penonton jenuh. Permainannya yang ekspresif enak dilihat.

Master of ceremony malam itu, Willy Ham, adalah orang yang menanamkan pengetahuan tentang sebuah performance kepada anak-anak dan remaja itu. Ini sejalan dengan misi Clavier sendiri, yakni tampil sebagai pengalaman pentas.

Menurut Willy Ham, para orang tua sebaiknya memberikan pelajaran piano kepada anak ketimbang organ. Piano memberikan kepuasan tersendiri dalam bermain, sementara organ terlalu instan. “Bermain piano adalah bermain dengan hati. Piano adalah instrumen yang abadi,” katanya.

ANDI DEWANTO

dari : .tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: