Konser di Pulau Napi

Selasa, 08 Januari 2008 | 18:31 WIB

TEMPO Interaktif, Nusakambangan:
Pagi itu, hari kedua memasuki 2008, matahari tampak malu-malu memancarkan sinarnya. Tempo bersama rombongan musik penyejuk hati Bugie, menunggu datangnya feri penyeberangan di Pelabuhan Laut Tanjung Intan, Cilacap, yang hendak membawa kami ke Pelabuhan Sodong, Nusakambangan.

Jarak keduanya sesungguhnya tidak bergitu jauh, kira-kira hanya 10 menit waktu tempuh yang diperlukan. Namun, untuk memasuki pulau itu, tentu tak sembarang orang bisa masuk, karena harus mengantongi izin dari Departemen Hukum dan HAM dulu.

Germis mengiringi penyeberangan kami, menuju pulau pidana. Begitu sampai di tengah selat, dari kapal feri kecil itu tampak aktifitas penambangan untuk bahan baku semen.

Sesampainya di Pelabuhan Sodong, kami disambut gerbang bertuliskan : Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan. Dari situ kami menuju Lembaga Pemasyarakatan Kelas I, Lapas Batu. Jalan selebar empat meter terasa sempit bila dilewati bus besar. Aspalnya pun sudah tidak begitu mulus, di kiri kanan jalan hanya ada pepohonan liar yang begitu lebat.

Pulau seluas 121 Kilometer persegi ini, dikenal dengan pohon pawlar-nya, sejenis jati putih tetapi hanya ada di Nusakambangan. Pepohonan yang menjulang tinggi itu, terbalut semak-semak menjalar. Ada pula pohon kayu laban, mahoni, karet dan beberapa jenis pohon besar lain. “Di sini masih ada macan dan banyak ular,” ujar seorang pegawai Lapas yang bertugas di Pos Jaga Sodong.

Sebelum sampai Lapas Batu, kami melewati sederet rumah. Selain digunakan untuk pegawai, perumahan ini juga digunakan tinggal para Napi yang sedang menjalani proses asimilasi. Rumah-rumah mungil bercat coklat itu tampak masih gersang, belum banyak ditumbuhi pepohonan. Maklum, rumah-rumah itu baru selesai dibangun beberapa bulan lalu.

Setelah menempuh jarak tujuh kilometer dari Sodong, sampailah kami di rumah para terpidana, di Batu. Di sinilah konser musik penyejuk hati Bugie Grup digelar. Di tengah keringnya hati para narapidana kelas berat dan teroris, Bugie ingin memberi penghiburan, lewat lagu-lagu rohani Islami berbahasa Jawa, yang sarat pitutur dan menyejukkan hati.

Di Lapas ini, ada 169 orang nara pidana, tetapi karena tempat ini sedang direnovasi, maka 50 orang napi dititipkan ke Lapas Kembang Kuning dan Lapas Batu. Dari jumlah itu, 26 orang di antaranya napi dengan hukuman seumur hidup, dan 11 napi dengan hukuman mati.

Mereka ditempatkan dalam dua kategori sel, yakni kamar hunian warga binaan yang setiap kamar berisi sekitar 15 orang, dan sel khusus yang kini diisi 7 orang napi. Mereka adalah: Amrozi, Imam Samudra, Muchlas, Subur, dan seorang teman terorisnya yang tertangkap di Semarang. Dua lainnya, otak pembunuhan dan pelarian Gunawan Santosa, serta napi pindahan dari Riau.

Ya, siang itu, aroma suka cita menggema di tengah rumah penjara. Meski demikian, tak semua penguni asrama rodeo itu tampak bergembira. Guratan-guratan duka tetap menggantung di pelupuk mata mereka. Juga, wajah-wajah dingin dan keras, pun tak mereka tinggalkan.

Semua boleh menyaksikan dan menikmati hiburan musik penyejuk hati Bugie & Grup dari Yogya, tak terkecuali penghuni sel khusus. Tapi, mereka tak mau keluar. Demikian kata Djaja Tjahjana, Pelaksana Harian Lapas Kelas I Batu. “Ketika kami menawarkan ke Amrozi, dia menjawab singkat: Musik itu haram!,” tutur Djaja. Soal rencana eksekusi tiga terpidana itu, Djaja mengatakan belum tahu pasti, karena semua itu tergantung pusat.

Menurut Djaja, keseharian Amrozi dan kawan-kawan baik. “Cuma susah diajak ngomong,” kata Djaja. Cerita lain datang dari beberapa napi dan petugas jaga di Lapas itu. Susanto, seorang petugas mengatakan, sesungguhnya mereka itu pintar. Imam Samodra misalnya, suatu hari pernah menunjukkan kepandaiannya. Dia memegang Al-Qur’an, lalu mengucapkan rapal. Tahu-tahu, dari kitab suci itu keluar air. “Konon, air itu bisa dipakai sebagai obat,” katanya.

Cerita lain datang dari petugas Lapas, Edi Warsono. Menurut dia, sekawanan teroris yang kini mendekam di sel khusus itu kerjaannya salat. Mereka jarang sekali bergaul dengan sesama napi. Untuk mempermudah pengawasan, mereka memang sengaja ditempatkan di sel khusus yang letaknya di bagian depan, berseberangan dengan napi-napi lain.

Pentas musik itu, dilaksanakan di lapangan terbuka, di tengah arena penjara. Dari sel tempat Amrozi dan kawan-kawan, jaraknya hanya sekitar tujuh meter. “Semoga mereka bisa mendengar syair-syair Islami yang menyejukkan ini,” kata Edi.

Ya, memang, Bugie & Grup sengaja membawakan lagu-lagu rohani untuk memberikan setetes kedamaian bagi para nara pidana. Siang itu, Bugiakso, sang vokalis, membawakan enam lagu, dari album perdananya, Kelayung-layung. Lagu-lagu bertema kepasrahan pada Tuhan yang dirilis Ramadhan 2007 lalu, di antaranya: Kelayung-layung, Mampir Ngombe, Illahi, Musrik, Al-Ikhlas, dan Subuh.

Bugiakso yang selama ini telah banyak malang melintang di dunia politik dan terakhir menekuni bisnis ini mencipta lagu-lagunya sendiri. Dia sengaja mengambil bahasa Jawa, karena ingin membangkitkan kembali budi pekerti yang kini telah luntur. Menurut Bugir, lewat bahasa Jawa, makna yang diangkat bisa lebih pas. “Bahasa Jawa memiliki falsafah yang dalam. Ada kata yang tidak bisa diwakili dengan bahasa Indonesia,” tuturnya.

Mengapa Bugie memilih konser di Nusakambangan? Karena menurutnya, para napi di pulau itu hatinya kering. Bugie berharap, musik yang dia lantunkan bisa menjadi jembatan untuk bertobat. Dan bila ada yang diperkenankan Tuhan untuk diambil (dieksekusi) biar mereka lebih siap.

Terhadap pertunjukan itu, Imam, seorang Napi asal Semarang yang tersangkut kasus pembunuhan ini mengaku sangat senang. Meski dalam waktu dekat dia sudah akan keluar, dia mengaku tetap butuh hiburan. “Ini lebih menguatkan saya untuk menghadapi kehidupan di luar sana,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Bugiakso menerima penghargaan dari Museum Record Indonesia, sebagai Konser Musik Rohani Berbahasa Jawa Pertama di Lapas Nusakambangan. “Ini merupakan catatan record ke 2.962,” tutur Paulus dari MURI.

Dari sederet kawasan Lapas yang ada, kini tinggal lima Lapas yang beroperasi, Lapas Batu, Lapas Besi, Lapas Kembang kuning, Lapas Permisan dan Lapas Super Maximal Security yang kini berisi 261 orang napi khusus Narkotika. Napi narkotika lainnya berada di Lapas Kelas II A Besi. Dan Lapas Kembang kuning khusus untuk napi kriminal.

Lapas yang tak lagi beroperasi di antaranya: Lapas Karang Tengah, Gliger, Limur Buntu, Nirbaya, dan Karang Anyar.

Dari Lapas Batu, rombongan musik melanjutkan perjalanan ke Lapas Besi yang dihuni lebih 331 orang napi narkoba. Di Lapas ini, mereka menggelar konser yang sama. L.N. Idayanie

dari : tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: