Membangun Musik Tradisi

 
Minggu, 16/03/2008

KEmana karya anak-anak muda di jalur tradisi? Mana suara-suara merdu khas anak muda itu? Atau, di mana keberadaan seni tradisional kita?

Alat musik, tarian, nyanyian, semua mulai redup ditelan gelombang westernisasi yang tak pernah berhenti mengembuskan nafas baru dalam sebuah budaya. Tapi, setidaknya, masih ada konser Karawitan Muda Indonesia (KMI), yang rutin diselenggarakan tiap tahun.

Konser KMI lahir atas gagasan Prof Dr Edi Sedyawati yang kini sudah didukung Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Depdiknas, Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO, dan Radio Republik Indonesia. Konser KMI sudah memasuki tahun ketiganya, setelah pertama digelar dua tahun silam.

Sabtu (15/3) dan Minggu (16/3) ini, sejumlah anak muda dalam enam grup menampilkan seni tradisi berasal dari akar budaya Indonesia. Mereka dengan senang hati memainkan komposisi etnik Indonesia yang biasa disebut Karawitan.

”Sesuai kesepakatan nasional pada 1950-an, semua musik tradisional Indonesia secara generik disebut karawitan. Jadi, karawitan bukan hanya musik Jawa atau gamelan, semua alat musik Indonesia termasuk di dalamnya,” jelas Edi Sedyawati.

KMI sendiri dibentuk atas dasar kepedulian terhadap seni tradisi Indonesia. Ini adalah gerakan membangun tren baru dalam kehidupan anak muda dengan membangun kekuatan artistik untuk menyajikan karya berdasar musik tradisional.

Dalam konser kemarin, Menko Kesra Aburizal Bakrie turut memberikan dukungan moril kepada para penampil yang semuanya adalah anak muda dari beberapa penjuru Tanah Air. Bakrie berpesan bahwa jiwa seni dan budaya harus ditanamkan sejak dini.

”Percuma kita menjadi manusia yang pandai, berkecukupan, dan mempunyai kelebihan, tetapi tidak mengerti dan mengenal budaya. Sebab, budaya adalah landasan dasar sebuah kehidupan sosial yang harus kita pelajari,” tutur Bakrie. Dalam konser KMI ke-3 itu, tampil tujuh kelompok yang berasal dari berbagai daerah berbeda.

Tampil pertama adalah Sanggar Musik Awi Bambu Awi Sada, Banjaran-Kabupaten Bandung. Lebih dari 30 siswa SMP–SMA membawakan sebuah repertoar Ting-ting Iwung. Ting-ting Iwung adalah dua bunyi sebagai cikal bakal terjadinya berbagai bunyi/nada. Nada yang beraneka ragam itu semua berasal dari bambu.

Sementara “iwung” itu sendiri adalah rebung, tunas bambu yang kemudian hari akan dibuat instrumen. Semua menggunakan angklung sebagai pengiring gerakan dan nyanyian. Angklung-angklung itu terdiri dari beberapa jenis, mulai angklung buhun hingga modern (angklung Daeng Sutikna).

Mereka memadukan angklung-angklung itu dengan sempurna Nah, yang unik di penampilan kedua. Disiarkan secara berjaringan di seluruh Indonesia, stasiun RRI Jayapura menghadirkan grup Eyuser asal wilayah kebudayaan Teluk Saurerik, Kabupaten Biak Numfor. Secara langsung, penampilan Eyuser di Jayapura bisa dinikmati sampai Jakarta.

Eyuser menabuh tifa dan kelambut diiringi nyanyian-nyanyian khas. Tifa adalah alat musik kayu yang tengahnya dilubangi menggunakan bara api dan tongkat kayu. Bagian atasnya ditutup kulit kadal atau biawak. Penampilan kedua, Eyuser mempersembahkan alat musik kelambut yang terbuat dari kayu susu. Kelambut hanya bisa dijumpai di rumah adat kepala suku atau Ondoafi.

Tak mau ketinggalan, wakil Jakarta juga ikut memeriahkan acara ini. SMA Santa Ursula menunjukkan keahlian mereka memainkan gamelan. Enam lagu sekaligus dan cukup membuat penonton terkesima. Mereka dengan lancar memainkan alat musik tradisional Jawa yang sudah mulai ditinggalkan kaum muda itu.

Di depan pemain musik, berjajar siswi pesinden yang melafalkan lirik lagu, di antaranya Lancaran Denggung, Ngunda Layangan, Swara Suling, dan Prau Layar. Selanjutnya berturut-turut tampil grup Lingkung Seni Rinenggar Sari yang membawakan Rampak Kecapi dari Kabupaten Bandung. Setelah itu, ada musik tradisi Banjar yang disiarkan langsung dari RRI Banjarmasin.

Terakhir, tampil grup Sanggar Buruansari Tabanan-Bali. Sebanyak 43 anak usia SD memainkan dua karya. Pertama, Tabuh Telu Lempung Gunungyang menggunakan perangkat musik gamelan dari bambu. Karya kedua adalah Tabuh Kreasi. Di sini anak-anak itu menggambarkan sebuah gerhana dengan musik Gong Kebyar khas Bali.

”Persiapan kami hanya satu bulan. Itu sudah terpotong hari raya Nyepi, Galungan, dan Kuningan,” ujar Agung Tresna, Pembina Sanggar Buruansari. Dengan tampilnya anak-anak muda itu, diharapkan mereka dapat membuka telinga lebih lebar untuk menerima bunyi aneka warna. (donny apriliananda)

dari : seputar-indonesia.com

Satu Tanggapan to “Membangun Musik Tradisi”

  1. Rina Safrina Says:

    Terbuat dari tumbuhan kayu apakah alat musik Tifa yang berasal dari Irian Jaya? Thx.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: