Menghirup Kebebasan Bermusik di Jalur Indie

 

20 Februari 2007 – 11:14

 

Pekan lalu seorang teman menelpon memberi tahu tentang rencana peluncuran album kompilasi LA Lights Indiefest 2006 di Bandung plus konser band-band indie papan atas di sana.

“Elo harus lihat. Biar tahu gimana kualitas anak-anak muda yang nge-band di jalur indie. Jangan dengerin band yang mapan di jalur lewat label besar terus,” ujarnya kala itu. Penasaran juga sih gimana komunitas mereka. Apalagi di Jakarta saya pernah nongol di komunitas musik reggae yang mangkal di salah satu bar di Menteng. Ternyata seru juga berada di tengah-tengah para pengikut Bob Marley itu.

Keingintahuan memaksa saya putuskan berangkat ke Bandung. Kebetulan, peluncuran album itu pas hari Sabtu, jatah libur. Toh Jakarta-Bandung sekarang cuma dua jam perjalanan lewat tol Cipularang. Acaranya digelar malam minggu.

Sampai Bandung, yang rencananya gak pakai embel-embel ngeliput, saya dipertemukan dengan anak band yang masuk dalam album kompilasi itu. Awalnya, dalam benak tergambar mesti komunitas anak-anak band indie ini akan terlihat urakan layaknya komunitas punk rock lengkap dengan aksesoris seperti rantai, rambut ala indian, tato dan bla bla bla. Ternyata yang saya lihat berbeda 180 derajat. Memang ada yang bergaya rocker, tapi sebagian bersih-bersih, rapi, bahkan cenderung dandy. Salah satunya yang sempat saya temui adalah Arial, personel Vincent Vega, band asal Bandung yang mengusung musik rock alternatif.

Dengan kemeja berdasi yang tersembunyi di sweater, topi ala nahkoda kapal, plus jeans dam sepatu, Arial jauh dari kesan urakan. Pokoknya ganteng. “Menurut saya, komunitas band indie hanya beda soal scale industrinya aja dengan band label major,” ujar Arial dengan pengucapan Inggris yang fasih. Memang sampai saat ini masih beragam pengertian dan alasan grup musik untuk mengambil jalur indie.

Pada masa awalnya, band indie sering nyeleneh, bahkan cenderung aneh dan yang pasti keluar dari arus utama musik umumnya. Konon indie berasal dari independent. Singkatnya, band indie adalah mereka yang mengedepankan kebebasan dalam urusan bermusik. Dengan pemeo Do It Yourself, boleh dibilang mereka mengurus dirinya sendiri dari soal bikin musik dan lagu, rekaman, sampai pemasaran dan seterusnya.Hal ini juga diakui oleh Arial, “Kalo band di major label kan mungkin harus memperhitungkan selera pasar dan sebagainya. kalau kami nggak. Selebihnya sih saya rasa sama terutama dari sisi kualitas dan jenis musiknya.

Memang kalau soal ketenaran dan kualitas musik, band indie sejak lima bahkan sepuluh tahun silam sudah menunjukkan bahwa mereka bukan pemusik yang biasa-biasa saja. Sebut saja Mocca, band asal Bandung, atau Ten2Five yang mengalunkan musik romantis. Ada juga Maliq& D Essentials yang menggebrak pada Java Jazznya Peter F. Gontha. Di jalur musik rock ada Superman is Dead yang besar di Bali dan alah satu maestro band indie, PAS Band.

doc: Bisnis Indonesia

dari : lalightsindiefest.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: