Minimalisme Ross Carey

Senin, 25 Pebruari 2008 | 16:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Alunan nada-nada rendah mengalun lambat dengan harmonis. Sesaat kemudian, tempo meningkat dengan nada lebih tinggi layaknya mars. Perpaduan dua harmoni yang dimainkan seorang pria bertubuh ceking ini memberikan sebuah fantasi yang mengasyikkan telinga pendengarnya.

Pria itu adalah pianis sekaligus komposer Ross Carey, 38 tahun. Ia tampil di Teater Utan Kayu, Jakarta, Rabu malam lalu. Lagu pertama yang dimainkan lelaki asal Selandia Baru ini berjudul When Illusion Looks Like Reality, then Reality Becomes Just a Fantasy. Komposisi piano karya komposer Jepang, Ayuo, itu dibuat pada abad ke-18. Dentingan piano tunggalnya membius pendengarnya.

Selanjutnya, Carey memainkan beberapa lagu lainnya karya komposer belahan dunia lainnya, di antaranya Love Songs karya Garreth Farr asal Selandia Baru, Meditation karya Alfredo Votta Jr dari Brasil, dan Per Piano Forte karya Luca Vanneschi dari Italia. Tidak ketinggalan lagu-lagu karya komposer Indonesia, seperti karya Slamet Abdul Sukur berjudul Svara dan Aqua Piano karya Sinta Wullur.

Carey mengaku memainkan komposisi karya orang lain dari berbagai belahan dunia karena komposisi-komposisi tersebut sungguh menarik. Melalui komposisi itu, Carey mencoba mengajak pendengarnya masuk dan terhubung dengan dunia lain. “Saya memainkan karya-karya musik kontemporer yang menampilkan keragaman musik,” ujar pria berambut cokelat panjang ini.

Carey mengatakan penampilannya kali ini berbeda dengan pertunjukannya yang sudah-sudah. “Semua ide mengekspresikan material yang mini,” ujarnya. Hal itu sesuai dengan tajuk utama pertunjukannya, yakni “The New Minimalism”. Seminggu sebelum tampil di Teater Utan Kayu, Carey telah mempertunjukkan kebolehannya di Lembaga Indonesia-Prancis, Yogyakarta.

Pria kelahiran Lower Hutt, Selandia Baru, ini merupakan sosok pianis yang sudah malang-melintang di dunia pertunjukan resital piano. Selain tampil solo, ia kerap berkolaborasi dengan berbagai musisi dari sejumlah belahan dunia, sebut saja misalnya gitaris Kazuhito Yamshita, vilois Mark Menzies, Kirtley Leigh Paine, klarinis Donald Nicholls, flutis Alexa Still, pianis Yuji Takahashi, Ananda Sukarlan, Gao Ping, serta Dan Poynton. Dalam setiap pertunjukannya, Carey selalu membawakan karya-karya musik kontemporer dengan corak tersendiri.

Pria bujangan ini adalah pemegang gelar S-2 piano dari Elisabeth University of Music, Hiroshima, Jepang. Gelar sarjananya diperoleh dari Victoria University, Wellington, Australia. Carey, yang pernah mempelajari seni musik tradisional Jawa, kini tengah mendalami musik klasik Hindustani dengan perhatian utama pada instrumen harmonium. “Saya tertarik karena sejarahnya yang panjang dan punya bahasa musik yang berbeda dengan Barat,” ujarnya.

Kejutan diberikan Carey kepada penonton pada nomor penutup: ia memainkan komposisi karyanya sendiri, yakni Postlude to a Happy Occasion yang kembali memberi kesan gembira dan ceria. l TITO SIANIPAR

dari : .tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: